Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 35


__ADS_3

"Aku sedang menyiapkan hukumanmu."


"Apa salahku," ujarnya dengan tertawa kecil.


Randika tidak mengindahkan pertanyaan Arumi, tangannya mendekap pada pinggang mungil milik Arumi. Menarik botol kaca kecil berisikan selai di atas meja dan melumurinya pada bibir tipis Arumi.


"Ah hentikan! Itu jorok," pekik Arumi bergeliat.


"Kau yang memulainya bukan."


"Hentikan Ran! Jangan! itu tidak enak," teriak Arumi memalingkan wajahnya ke kiri dan kanan agar terhindar dari colekan tangan Randika yang penuh dengan selai nanas.


"Tidak! Kau harus menerima hukumannya karena melempari sisa makanan padaku."


"Jangan! Aku tidak menyukai selai nanas, itu asam. Hentikan Ran! Aku tidak suka!"


"Baiklah. Kalau begitu aku ganti dengan selai stroberry yang manis ini," ujar Randika dengan lirikan menggoda. Dia lalu menekuk wajah Arumi dan melumurinya dengan ciuman bertubi-tubi.


Tidak ada yang bisa Arumi lakukan mulutnya di bungkam oleh bibir yang mengalirkan saliva di balut selai stroberry yang manis. Tubuh kecilnya meronta ingin terlepas namun pemberontakan itu di kalahkan oleh gumaman kecil Randika yang menyatakan kalau dia Mencintainya.


"Bagaimana apa itu Enak."


Arumi menjawab ucapan Randika dengan mempertontonkan senyum bahagianya. Rasanya seperti ada berjuta-juta kupu-kupu yang beterbangan di perutnya hingga lekungan senyum di bibirnya tak bisa terhenti.


"Ada apa?" tanya Randika dengan tertawa. Mimik Arumi saat ini sedikit membuatnya geli.

__ADS_1


"Tidak. Aku sangat bahagia saat ini, jangan merusaknya," rajuk Arumi.


Mendengar ucapan Arumi Randika langsung tertawa terbahak-bahak. Dia tahu alasan Arumi mengatakan hal itu karena dia selalu merusak suasana di saat Gadis itu tengah bahagia.


"Je Vous amie Arumi." Aku mencintaimu Arumi


Keduanya bertatap, mata cokelat Arumi melihat kebahagiaan pada netra Pria Robot yang sangat di cintainya itu, membawanya ikut tenggelam dan merasakan perasaan itu. "Moi aussi je t'aime tellement." Aku juga sangat mencintaimu.


Wajah Bulat Arumi di usap lembut oleh Randika. Seolah itu adalah benda paling berharga miliknya. Yah setelah kedua orang tuanya, Arumi adalah harta paling berharga saat ini. dia menyesali semua sikap dinginnya untuk Arumi dulu.


"Ke mana kau akan pergi minggu ini?"


"Di kamar, Mungkin aku akan membaca sampai semua buku yang tersusun di kamarku habis ku baca," ujar Arumi dengan tertawa kecil.


Randika terkekeh. " Kenapa kau harus membaca semua buku itu."


"Kalau begitu ikutlah denganku."


"Kemana?"


"Brian mengadakan sebuah pesta Reuni minggu depan. Dia mengundangmu juga. Apa kau mau ikut?" ajaknya dengan lembut.


"Pasti tidak akan menyenangkan di sana,"


"Kenapa? bukan kah ada Brian dan Rilan juga. Kau juga bisa tahu seberapa terkenalnya tunanganmu ini di sana,"

__ADS_1


"Dan juga bakal tahu seberapa banyak wanita yang sudah kau kencani saat kuliah dulu, atau jangan-jangan di sana akan ada barisan mantan yang setia menunggu kedatanganmu."


Randika tergelak dengan keras. Ternyata calon istrinya adalah gadis pencemburu. "Bagaimana kau bisa berfikir sampai kesana. Aku bahkan tidak tahu siapa saja yang akan datang ke reuni kali ini."


"Acara seperti itu adalah tempat berkumpulnya para mantan. Itu fakta no debat."


"Semua orang sudah memiliki kehidupan mereka masing-masing Sayang. Tidak ada waktu memikirkan mantan kekasih. Apalagi Aku sekarang adalah milikmu, mana berani orang lain mendekat," ujarnya dengan mengelus pada pipi mulus wanitanya.


"Apa kau pernah mempunyai kekasih yang sangat kau cintai dulu?"


Jleb


Bagaikan tertusuk pisau, tubuh Randika mendadak tegang dengan raut wajah yang sangat terkejut. Ini adalah hal yang sangat ingin dia hindari ketika sudah memulai hubungan baru. Menanyakan hubungan dengan Evanya sama saja menggali kenangan buruk yang berusaha dia tutup selama ini.


"Aku harus ke kantor," ujarnya mencoba mengalihkan suasana yang cukup tidak nyaman baginya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku Ran," tahan Arumi saat Randika hendak beranjak pergi.


"Kenapa kau menanyakan hal semacam itu."


"Aku hanya ingin memastikan."


"Memastikan apa?" tanya Randika kalut.


"Bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku demi siapapun."

__ADS_1


Randika terkekeh kembali, menenangkan rasa cemasnya mendekat ke arah pipi kanan Arumi dan menciumnya dengan lembut. "Aku sudah terlambat, Rilan pasti sudah menunggu di depan."


Arumi melengkungkan senyeum kecut, menatap kepergian Pria bermanik hitam itu tanpa bertanya lagi. Padahal jauh di lubuk hatinya dia sangat penasaran dengan gadis terakhir yang bersama Randika sebelum kehadirannya. Namun jika dia memaksa, Prianya akan telat untuk sampai ke kantor.


__ADS_2