
"Apa kakak bisa membantuku?"
"Tentu saja, katakan apa yang kau inginkan."
Terdengar suara deheman Randika, dia menatap Arumi dengan menahan rasa kesalnya. Dan sekali lagi kedua orang itu mengabaikannya.
"Bisakah kau membawakan seikat bunga untuk Aurela? aku ingin mengucapkan terima kasih karena sudah merawatku dua hari ini."
Rilan terdiam dan berfikir sejenak, lalu mengangguk tanda mengerti.
"Apa kau sedang mendekatkan Rilan dengan dokter hewan itu?"
"Kenapa kau berfikir begitu, aku kau ingin aku memintamu untuk mencintainya?"
"Arumi!"
"Apa?"
"Kau sedang membalasku?"
"Rumi."
"Dia membuatku kesal berulang kali kak."
"Kau memang harus mendapatkannya," ucap Rilan membenarkan.
"Apa katamu?"
"Kau pantas mendapatkannya karena mencintai dua wanita Randika."
"Berhenti membicarakan-nya," ucap Randika tidak suka, dia melangkah menaiki tangga meninggalkan dua orang yang saling menatap bingung. Faktanya dia hanya ingin membersihkan diri, dua hari di klinik membuat tubuhnya terasa gatal dan lengket.
Arumi menggeleng saat Rilan kembali menatapnya. "Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"
"Tidak! kau benar kak."
"Kekasihmu cukup sensitif."
"Tenanglah, aku akan bicara dengannya. Lagi pula kita memang harus secepatnya berbaikan kalau tidak, dia akan batal menikahiku."
Manik cokelat Rilan tiba-tiba terbuka lebar, dia tidak bisa menahan keterkejutan-nya. Dia mengubah posisi kakinya agar tidak terlihat canggung. Entah mengapa, perasaan dalam hatinya seakan memancing air matanya naik ke permukaan.
"Benarkah? apa kau menerimanya?"
"Bien sûr."
Manik cokelat Rilan kembali terangkat, dia menatap wanita yang matanya berbinar itu cukup lama. Yang dia takutkan kini terjadi, perasaan aneh yang datang saat Arumi sedikit demi sedikit mulai menjauh darinya. Dan itu membuat Rilan terlihat buruk.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ah ... uhmm, tidak."
"Kau baik-baik saja kak Rilan?"
Seketika Rilan tersenyum, dia mengelus puncak kepala Arumi dengan lembut. "Jadilah orang yang bahagia, aku akan selalu bersamamu, mendukungmu apa pun keputusanmu."
"Kau adalah saudara laki-laki terbaik ku," ucapnya dengan memeluk Rilan, dia menyandarkan kepalanya di bahu Rilan, mengingat semua kebaikan yang sudah Rilan lakukan untuknya hingga dia bisa berada di titik ini.
*
*
*
"Hei, sadang apa kau di sini?"
"Untukmu."
Rilan memberikan seikat bunga daisy kepada Aurela. Aurmi memilih bunga daisy karena memiliki makna, kesetiaan, kesabaran dan kesederhanaan. Sesuai dengan ke pribadian Rilan dan tentu saja itu adalah bunga kesukaan Aurela. Arumi bertanya kepada Brian sebelum memilihnya. Namun dia tidak menyadari jika Rilan pun tahu akan hal itu
"Untuk ku?"
Tanpa menjawab pria itu duduk. Mereka sedang berada di taman sekitar klinik. saat sampai, wanita itu tidak di temukan di klinik akhirnya Rilan harus menguatkan hati dan bertanya pada salah satu staf dan dia mengatakan jika Aurela sedang di taman.
Aurela memang sangat menyukai bunga jadi dia sering di taman untuk melihat beberapa bunga yang barus saja bermekaran di musim gugur ini.
"Raut wajahmu tampak buruk," ujarnya sembari merapikan bunga yang diberikan Rilan.
Rilan menggeleng, membuat Aurela kembali menatapnya. Pria yang memiliki manik cokelat ini seakan bukan dirinya, dia tampak buruk dalam diamnya membuat Aurela menyadari sesuatu. Semua yang terjadi di sekitarnya beberapa hari ini membuat dia mengambil kesimpulan.
"Apa dia tahu kau menyukainya?"
Rilan tampak sedikit kaget. Namun tetap mempertahankan wajah datarnya. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."
"Tentu saja kau tahu maksudku Rilan harperr."
Pemilik manik cokelat itu terkekeh dengan hambar membuat Aurela tidak tahan dan langsung meneror dengan pertanyaan lain.
"Sejak kapan kau menyukainya?"
Seakan tuli dengan ucapan Aurela, Rilan malah pura-pura terpikat dengan bunga. "Bunga-bunga ini terlihat sangat cantik."
"Rilan!"
Aurela berteriak begitu keras hingga membuat pria itu mengalihkan pandangan dan tersenyum melihat ke arah Aurela.
__ADS_1
"Jawab aku, sejak kapan kau merasakan itu."
"Sejak Randika menugaskan ku menjadi pengawalnya."
"Selama itu? kau cukup pintar menyimpan perasaanmu."
"Sekarang perasaanku tidak penting lagi Aurela, yang terpenting adalah kebahagiaan Arumi. Menjadi saudara laki-lakinya adalah kebahagiaanku."
Aurela berdecak dengan ekspresi tidak suka.
"Hei, apa kau akan menjomblo seumur hidupmu?"
"Entahlah, ini adalah hak eksklusif Author, mungkin dia menyukaiku jadi membiarkan aku menjomblo hingga cerita ini berakhir.
Xixixixixi
"Kau sangat jahat author, padahal kau tahu aku menyukainya 😭😭."
.
Hei CUT CUT CUT.
"Ini tidak ada di dalam naskah!"
.
.
Skip
.
.
Kembali ke naskah, okey kamera 1 2 3 Shut.
.
"Kau tahu bukan, aku menyukaimu sejak dulu."
"Aurela!"
"Tidak bisakah kau melihatku seperti kau melihat Arumi?"
"Kau wanita cantik yang berbakat Aurela, banyak pria yang menyukaimu, kencani mereka jangan terus berharap padaku.
Aurela mengerucutkan bibirnya, dia menjawab dengan kesal. "Aku hanya ingin mengencanimu bodoh!"
__ADS_1