
"Siapa yang kau hubungi."
"Apa kau takut aku akan membuangmu?"
"Akan aku laporkan kau pada polisi jika melakukan itu."
Randika tertawa kalimat Arumi barusan membuatnya geli. "Ku rasa kau cukup lama mengenalku hingga tahu aku siapa."
Arumi mentap tajam Randika penuh emosi. Dia kalah lagi.
"Tahan emosimu Arumi. Jika ingin melawannya kau butuh tenaga dan uang." batinya pelan.
****
Mobil yang menjemputannya sudah sampai. Randika ternyata menyuruh Rilan, sekretarisnya untuk mengantarkan Arumi kembali ke Mansion.
"Selamat pagi Tuan." Pria itu menoleh dan memerikan senyum termanis untuk Arumi. "selamat pagi Rumi."
"Kak Rilan!" Arumi mempertontonkan senyum bahagianya dan membuang napas lega.
"Antar dia kembali ke Mansion. Dan jangan lupa, beli seikat bunga Lily untuk ibuku."
"Bien, Monsieur. (Baik Tuan.)"
"Kembalilah bersama Rilan. Mom sudah menunggumu di rumah, dan bunga lili itu, berikan padanya. Katakan apa saja yang bisa membuat hatinya tersentuh," ujarnya tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
Arumi sebenarnya sedikit kesal karena harus pulang dengan Rilan. Namun setidaknya rasa legah itu ada. Randika tidak benar-bemar ingin menyingkirkannya.
__ADS_1
"Bien. (Baik.)"
"Ayo, Rumi."
Arumi dan Rilan pun bergegas meninggalkan Randika menuju tempat parkir di mana mobil mereka berada. Namun tiba-tiba saja, langkah kaki Arumi terhenti saat melewati lobi kafe. Gadis berambut panjang itu merasa ada yang aneh pada dirinya, tubuhnya seperti memberi reaksi aneh. Dia bahkan merasakan suhu tubuhnya tiba-tiba panas.
"Ada apa?"
"Tidak."
Sekuat tenaga gadis berusia 23 tahun itu menetralkan tubuhnya karena merasa sedikit pusing.
Rilan kembali membalikan badan ketika merasa langkah Nona mudanya masih di tempat. "Kau baik-baik saja?"
"Entahlah, aku merasa sedikit pusing."
Rilan menuntun Arumi untuk menuju mobil karena gadis itu sedikit limbung. Dia lalu menyandarkan Arumi pada jok mobil yang sudah dia atur sandarannya agar gadia itu bisa lebih nyaman. Tak lupa Rilan memberika usapan lembut pada puncak kepalanya untuk memberi ketenangan kepada gadis yang sudah dianggap seperti adiknya itu.
"Apa sesuatu terjadi tadi?"
"Tidak, kami hanya sarapan."
"Kenapa Tuan tidak mengantarmu pulang?"
"Dia harus menyelesaikan sesuatu."
Rilan menatap penuh tanya. Bukankah dia adalah tangan kanan Randika, lalu kenapa Randika tidak memberitahu kalau ada sesuatu yang harus dia urus selain membawa Arumi kembali ke Mansion.
__ADS_1
"Apa kedua bajingan itu melakukan sesuatu pada Arumi?" batin Rilan semakin tidak tenang saat memandangi wajah Arumi yang mulai mengelurkan banyak keringat.
"Rumi, apa kau yakin baik-baik saja?"
"Aku sedikit pusing."
"Tidurlah, Aku akan membangunkan mu kalau sudah sampai."
Arumi membalas dengan anggukan tanpa membuka matanya. Keringat yang semakin bercucuran dan suhu tubuhnya yang juga semakin panas membuat dia sedikit merasa lemas..
****
Rilan melaju dengan kecepatan rata-rata. Sesekali dia akan mengintip kebelakang melalui kaca kecil yang berada didepannya. Tapi semenjak mereka meninggalkan kafe, Arumi bukannya tenang malah semakin gelisah. Dia sampai harus berulang kali menepi agar bisa menenangkan Arumi.
"Ah ... panas ... panas .... aghh."
Arumi mendesah. Tubuhnya kini semakin merasakan panas hingga kepalanya juga bertamba pusing.
"Kak, nyalakan pendinginnya aku kepanasan," ujar Arumi memegang tengkuk lehernya.
"Ini sudah sangat dingin."
Karena panik Rilan menepihkan mobil sejenak untuk melihat keadaan Arumi. Namun, ketika berbalik badan, kedua tangan Arumi dengan cepat menarik kerak baju Rilan dan mencengkramnya dengan erat hingga membuat posisi mereka seperti akan berciuman.
"Rumi, aku mohon jangan seperti ini, kita sedang berada dijalan, sadarlah," pinta Rilan menepis keras kedua tangan Arumi yang berpegang pada kerak bajunya. Setelah terlepas dia kemudian mengambil alih kemudi, memutar arah dan melaju membelah jalan sekencang mungkin.
Setelah sampai, buru-buru Rilan turun dari mobil mobil, membuka pintu belakang dan mengangkat tubuh gadis yang sudah setengah sadar itu berlari masuk dengan cepat ke dalam kafe. Dia sangat takut melihat keadaan Arumi saat ini, apalagi suara Arumi yang semakin mendesah tidak jelas.
__ADS_1
"Tuan ...!"