
Jam sudah menunjuk-kan pukul 6 sore saat Arumi terbangun, ternyata dia sadar lebih awal dari waktu yang di perkirakan Aurela. Arumi membuka matanya perlahan, silaunya lampu membuat dia merasa masih hidup.
Wanita bermanik cokelat itu mengedarkan pandangan melihat sekeliling yang tampak asing baginya, ruangan dengan perpaduan warna putih dan biru, dekorasi ini mirip sekali dengan sebuah ruang VIP rumah sakit.
Jantung Arumi berdetak kencang karena merasa kakinya seperti tidak bisa di gerakan, dia juga merasakan sakit yang teramat pada sekujur tubuhnya. Arumi terus mendengus kesakitan Hingga suara seseorang membuka pintu terdengar olehnya. Dia berusaha bangun untuk melihat siapa yang masuk. Namun, pusing kepalanya membuat dia kembali bersandar pada bantal.
Aurela, nama wanita yang selalu memakai jubah putih itu sengaja masuk untuk melihat keadaannya. "Maaf apa aku mengganggu tidurmu?"
"Apa aku di rumah sakit?"
"Non, ini klinik ku. Brian membawamu padaku tadi siang."
"Brian?"
"Yah, dia sepupuku, dan ini adalah klinik pribadi keluarga ku. Apa kau butuh sesuatu Arumi?"
"Kau mengenalku?"
"Brian mengatakan kalau kau tunangan sahabatnya."
"Di mana Brian?"
"Di luar, bersama Randika dan si tampan Rilan."
Sesaat setelah Aurela menyebut ketiga nama itu pintu pun terbuka dan ketiga pria tampan itu muncul di sana. Arumi sedikit gelisah, membuat Aurela yang tidak pernah berada dalam kondisi seperti ini kebingungan. Dia tahu gadis di depannya ini baru saja melarikan diri dari tunangannya. "Kau baik-baik saja?"
"Apa aku bisa mendapatkan segelas air putih Aurela?" Arumi merasa sedikit tegang hingga tenggorokannya terasa begitu kering.
"Tentu sa--"
__ADS_1
"Akan ku ambilkan," sela Randika.
"Aku ingin Aurela yang mengambilnya untuk ku."
"Tapi aku--"
"Aurela, bisa sekalian bawa ke dua pria ini keluar dari sini?"
"Kami bertiga Arumi," ucap Brian kebingungan.
Randika dan Rilan pun sebaliknya mereka kebingunguan dengan ucapan Arumi, entah siapa yang harus keluar dari sini.
Arumi menengok ke sampng kiri di mana terdapat jendela besar di sana, hanya ada pohon sejauh mata memandang. "Kau boleh tetap di sini Brian."
"Arumi!"
Berbeda dengan Rilan, Randika tampak diam karena tahu yang dia lakukan membuat Arumi membencinya, dia berbalik dan berjalan keluar pintu tanpa berkata. Rilan yang melihatnya pun tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya kedua pria itu keluar meninggalkan wanita yang terbaring itu. dan Arumi masih saja menatap ke luar jendela tanpa melihat kepergian mereka.
"Apa lagi yang akan mereka lakukan padaku?"
Brian yang sedari tadi memandang diam kini melangkah mendekati Arumi. "Rumi, ini tidak seperti yang kau pikirkan."
"No Brian, aku tahu semuanya."
*
*
*
__ADS_1
"Kau mau kemana Randika?" tahan Rilan saat Randika akan melangkah pergi saat selesai membaca sebuah pesan. "Siapa yang mengirimkan pesan barusan?"
"Lepaskan! aku harus pergi."
"Apa itu Evanya?"
Randika mengangguk pelan membuat Rilan melepas pelan tangan Randika yang dia cekal.
"Jangan menambah masalah, apa kau tidak lihat, di dalam sana Arumi sedang terbaring lemah dan dia tidak menginginkan kita berdua."
"Apa kau pikir aku sedang baik-baik saja! Aku bahkan hampir meledak saat dia mengusir ku. Tapi, apa yang harus aku lakukan, aku salah Rilan! aku salah!"
"Lalu mau kemana kau?"
"Sesuatu yang penting."
"Evanya?"
"Jangan bertanya Rilan, aku sedang tidak ingin menjawab."
"Kau akan kembali ke sini bukan?"
Randika terdiam, mengakui kalau perasaan menggebu atas penolakan Arumi sedikit membuatnya kecewa. Dan Evanya, wanita gila itu kini sedang menunggunya, dia sudah terlanjur membuat kesepakatan bersama wanita berambut pirang itu.
"Arumi menderita karena mu Randika, jangan sampai kau menyesal saat dia sudah tidak ada."
"Aku tahu."
Pria itu berlalu pergi tanpa menoleh, seluruh hati dan jiwanya menuntut untuk dia tetap tinggal. Namun, dia harus tetap pergi karena ini pun hal yang sangat penting.
__ADS_1