
Bonjour gays ....
Aku kembali. Mari kita lanjutkan ketegangan ini 😄. Ramaikan kolom komentarnya like serta beri vote dan hadia kalian jika berkenang. Selamat membaca.
•
•
•
•
Suara heels menggema di seluruh ruangan tepat saat musik terhenti. Evanya muncul dengan seyum mengembang pada bibir merahnya. Wanita dengan rambut pirang itu melangkah bagaikan slow mation membuat beberapa pria terpanah. Dia menghampiri Pria bermanik hitam itu dengan ekspresi penuh gairah. Ini pertama kalinya dia muncul di depan Randika setelah empat tahun meninggalkannya. "Bonjour, Tampan."
Pria itu menatap datar. Dia menelan ludah saat wanita bergaun merah dengan belahan dada terbuka itu mendekat lalu mendesah di depannya. Begitu pula dengan gadis yang berdiri di sampingnya. Mata Arumi tak berkediap saat melihat adegan yang membuat napasnya memburu.
Randika syok. Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Manik hitam itu menatap penuh wajah wanita yang berdiri di depannya dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan.
"Kau!"
"Yah, ini aku."
"Sudah lama se--" ucapan Randika terhenti saat bibir mantan wanitanya itu menempel tepat di atas bibirnya.
__ADS_1
Mata Arumi berpaling saat melihat wanita itu mencium bibir tunangannya. Hanya seperdetik, tapi mampu membuat hatinya meledak hancur berkeping-keping.
"Evanya!"
Arumi menahan napasnya dalam mendengar nama itu. "Jadi dia wanita itu." tidak dapat menahan tangisnya Arumi pun berlari keluar kafe berharap Randika akan mengikutinya. Namun, perkiraannya salah. Tidak ada bayangan pria yang dia cintai mengikutinya. Bahkan saat Brian meneriaki nama Arumi karena khawatir, pria itu bergeming tanpa menatapnya sama sekali.
"Mundur," teriak Randika saat Evanya akan memeluknya.
"Terdengar kekehan halus dari mulut Evanya. Bukannya mundur wanita itu malah lebih melangkah maju. "Bukankah kau merindukanku?"
"Kau gila."
Itu kalimat terakhir yang Randika ucapkan sebelum melangkah keluar. Membuat Evanya menyeringai dengan tatapan tajam. Setidaknya dia berhasil membuat wanita itu menangis.
Brian tampak cukup tegang hingga membuat tangannya gemetar. Dia adalah pria tangguh yang tahan pukulan, tapi untuk berbohong sebesar ini rasanya sangat tidak nyaman. Dia menghela napas legah saat melihat Randika keluar. Perkiraannya dia menyusul Arumi mungkin untuk menjelaskan yang terjadi.
"Sudah ku katakan. Kau tidak akan bisa menaklukannya."
Seperti yang sudah terjadi. Beberapa hari sebelum Evanya kembali, dia meneror Brian agar mau melakukan semua yang dia rencanakan. Awalnya Brian menolak. Namun wanita berambut perak itu terus memohon bahkan bersumpah tidak akan menyakiti Arumi. Dia hanya ingin memastikan perasaan Randika padanya setelah di tinggal pergi empat tahun ini. Namun dia tidak melakukan sesuai dengan janjinya. Tidak ingin larut dalam kekalahan, Evanya segera meraih tasnya melangkah pergi menyusul pria yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
"Evanya! Mau kemana kau," teriak Brian.
"Merebut apa yang seharusnya ku miliki."
__ADS_1
"Jangan konyol."
Wanita itu teidak menghiraukan teriakn Brian. Dia melangkah tegas dengan bergumam kesal dalam hati. "Aku tidak akan kalah."
•
•
•
"Sedang apa kau di sini?"
Gadis itu terdiam tanpa menjawab. Hanya air mata yang menggambarkan kesedihannya.
"Bangunlah, ini sudah larut. Akan aku antar kau kembali."
"Aku tidak ingin kembali."
"Kau harus kembali Rumi, aku tidak akan membiarkanmu sendirian disini."
.
.
__ADS_1
Gays Follow akun ke dua ku ini yah. Ini adalah akun keduaku. Karena satu dan lain hal aku harus pindah akun. tetap suport aku yah. bakal ada cerita menarik lainnya di akun baruku.
Happy weekend semua 🥰💜🙏