
Malam itu akhirnya datang, setelah satu minggu pembahasan itu berlalu akhirnya acara pertunangan Arumi dan Randika pun digelar. Acara yang sederhana, itu adalah permintaan kedua pasangan yang masih belum bisa menerima itu.
Arumi terlihat cantik dengan gaun putih yang di hadiakan oleh Jenny. Dia bagaikan bidadari kecil, sangat cantik.
"Lihat siapa yang datang."
"Mom."
Manik cokelat itu tampak berkaca-kaca, Jenny dengan lihainya mengelus dagu mungil milik Arumi memerikan tatapan penuh cinta di manil hitamnya. "Don't cry baby it's your happy day you can't shed tears or your makeup will fade."
Jenny memeluknya sesaat sebelum gadis itu melangkah masuk. "Hei, don't cry anymore honey, tidy up your dress before entering."
"Thank you Mom."
Arumi memasuki Aula Mansion dengan di dampingi Jenny. Tampak setelah kemunculan-nya beberapa orang yang hadir terlihat terpesona dengan kecantikan Natural yang dia miliki. Arumi memang terlihat begitu cantik dengan sedikit polesan makeup di wajahnya.
Dia mengenakan gaun berwarna senada dengan kulit putihnya yang mulus. Bulu mata lentik, hidung mancung minimalis dan bibir tipis yang terlihat selalu tersenyum itu menambah nilai plus pada kecantikannya malam ini. Begitupun dengan Randika, dia terlihat Gagah dengan setelan jas Berwarna navi yang melekat dengan sangat pas pada tubuh atletisnya.
Amirta dan Jenny berbinar melihat Putra sematawayangnya itu. Kedua orang tua itu begitu bahagia karena mendapatkan menantu seorang gadis yang luar biasa. Namun, Arumi sendiri nampaknya terlihat sangat sedih. Ketidakhadiran kedua orang tuanya membuat wajah gadis berambut ikal itu sedikit sendu. Berbeda dengan Randika yang begitu santai dan menikmati acaranya.
"Ada apa Sayang! apa semua baik-baik saja?" tanya Jenny dengan lembut.
Arumi mentap Jenny dengan lirih. "I just miss my parents."
"Oh baby, mereka akan bahagia melihatmu dari sana."
"Terima kasih sudah menjadi ibu terbaik selama ini, dan menjadikan Rumi Anak yang beruntung karena memiliki kalian."
"Tidak Sayang, kami yang beruntung. Kehadiranmu membawa keceriaan di rumah Kami," balas Jenny dengan memeluk tubuh Arumi.
Malam ini Arumi harus menjadi wanita kuat. Dia harus menata hati dan pikirannya agar selalu tenang dan tidak boleh terlihat sedih didepan para tamu undangan.
Jenny melepaskan pelukannya dengan perlahan, menenangkan Arumi dan memberi isyarat pada Randika untuk mendekat. Pria Robot itu pun mendekat saat Jenny berpamitan untuk menyapa para tamu yang baru saja datang.
__ADS_1
"Hei ... apa kau baik-baik saja?" tanya Randika saat melihat mata Arumi yang sembab.
Gadis itu sedikit cemberut saat Randika mendekatinya. "Yah, I am fine."
"Matamu sembab Nona, Apa kau sedang menangisi nasibmu menjadi pendampingku?"
"Aku hanya sedikit mengingat kedua orang tuaku," sela Arumi kesal. Dia mengelus lembut pada puncak kepala Arumi "Tentu saja kedua orang tuamu akan bangga, kau menikahi Pria tampan seantero quebeck."
Arumi terkekeh, dia merasa geli mendengar ucapan Randika. "Kau sangat narsis Tuan Garret."
Randika yang akhir-akhir ini merasa akrab dengan Arumi pun kembali menggodanya. Keduanya pun saling menggoda hingga memunculkan suara gelak tawa yang cukup keras, membuat Rilan dan Brian yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut tersenyum.
"Aku rasa mereka berdua sangat cocok, apa lau setuju Rilan?"
"Aku rasa kau lebih cocok menutup mulutmu," sahut Rilan melirik jahat ke arah Brian.
Brian terkekeh. "Masih ada dendam rupanya."
Rilan tidak menanggapi ocehan Brian. Dia mengalihkan pandangan melihat fokus pada Randika dan Arumi yang tengah asik bercanda di sana. Menerka-nerka tentang perasaan gadis yang sudah seperti adiknya itu.
Rilan membayangkan sifat Arumi yang selalu banyak bicara dan tidak mau diam ketika dengannya. Kadang, gadis itu sering bertingkah lucu. Rilan selalu di buat tersenyum saat melihat tingkah Arumi. Dan kini adik kecilnya yang riang itu sudah menjadi calon Nyonya Garrett. Entah, apa dia tetap menjadi Arumi yang selalu ceria atau kah akan berubah.
"Kak ... Kak Rilan ...," teriak Arumi masam karena sedari tadi panggilannya tidak di gubris oleh Rilan.
Rilan terhentak dari lamunannya. "Ah, Rumi maaf," ujar Rilan saat tersadar.
"Kau sedang melamun?"
"No."
"Apa kau sedang terkesima dengan kecantikan ku?"
Rilan terkekeh. "Tentu saja, kau adalah ratu tercantik malam ini."
__ADS_1
"Tentu saja karena kau adalah calon istriku," sahut Randika yang tiba-tiba saja mendekat.
Sedari tadi Pria dengan perawakan bak Aktor korea itu mengamati kedua orang yang sedang bercanda itu dari kejauhan. Entah karena tidak suka melihat sekretarisnya itu bebas tugas atau karena tidak suka jika ada lelaki lain yang mendekati gadis yang sudah menjadi tunangannya itu.
"Maaf Tuan," ucap Rilan setengah membungkuk.
Randika terseyum dan menepuk pundak Rilan.
"Santailah, kau tidak sedang menjadi sekretarisku sekarang. Kau berperan sebagai sahabatku di sini," ujar Randika tersenyum di ikuti gelak tawa kecil Arumi dan Rilan.
Brian yang penasaran dengan perbincangan kedua sahabatnya itu pun dengan segera ikut bergabung.
"Wow ... wow ... wow .... Apa aku melewatkan sesuatu?"
"Dasar penguntit!"
Arumi pun mendengus ketika melihat kehadiran Brian. Dia masih marah dengan apa yang sudah dilakukan sahabat calon tunangannya itu.
"Selamat, Aku doakan hubungan kalian selalu bertahan." ucap Brian dengan gerakan memeluk Randika.
Randika membalas pelukan sahabatnya. "Merci."
Rilan menatap gugup saat Arumi mendengus. Dja tahu, wanita itu pasti membencinya. "Apa kau tidak ingin menerima ucapan selamat ku?"
"No!"
"Baiklah."
Ke empat remaja itu pun terlibat perbincangan yang tidak penting, sesekali mereka akan meledek dan menjaili Arumi yang terlihat selalu cemberut dan menjawab kasar kepada Brian.
Saat asyik berbincang tiba-tiba Ponsel Randika bergetar.
Drrzz ... drrzzz ... drzz ....
__ADS_1
Randika tersentak kareana getran. Dia merogoh saku celanya dan mengambil benda pipih miliknya untuk melihat ada apa gerangan hingga benda itu bergetar. Dan satu pesan dari nomor tidak di kenal muncul di sana dengan isi pesan yang membuat dahinya berkerut.
"I miss you."