Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 50


__ADS_3

Tubuh itu terus bergerak gelisah, tidak ada posisi tidur yang membuatnya nyaman. Arumi kembali membuka matanya. Memikirkan Randika yang belum juga kembali membuat dia tidak tenang.


"Di mana kau sekarang, apa kau tidur bersama wanita itu?"


Mansion terasa sunyi saat Arumi membuka jendela. Biasanya di pagi musim gugur, Mom Jenny akan berdiri di taman belakang untuk bersantai dengan secangkir kopi panas. Tentu saja wanita setengah abad itu duduk di temani suami tercinta. Sesaat Arumi memanjatkan doa untuk bisa mendapatkan kebahagiaan seperti kedua orang tua angkatnya. Mereka adalah pasangan serasi. Gadis itu terus berdiri sambil memejamkan mata hingga suara seorang pria membuatnya membuka mata.


"Kau akan masuk angin jika terus berada di situ."


Arumi tidak ingin menoleh, dia hafal betul dengan suara itu. Itu adalah suara pria yang yang membuat sakit di hatinya.


"Pembohong!"


Arumi menoleh dan memberikan tatapan tajam yang berhasil membuat Randika terdiam seketika.


"Arumi aku--"


"Kau pembohong!"


"Rumi."


Randika bergumam pelan. Dia tidak ingin suara teriakannya menambah sakit hati kekasihnya. "Maafkan aku."


"Apa dia adalah wanita yang kau panggil dalam mimpimu itu?"


Keheningan menyelimuti saat pria itu mengangguk. Hingga mata cokelatnya menangkap ada cinta di mata pria itu untuk wanita yang baru dia temukan selama 4 tahun pencariannya. Arumi berpaling seketika membelakangi, menghentikan gerakan Randika yang akan menyentuhnya.


"Pergi," perintah Arumi saat air matanya akan jatuh.


Seketika teriakan Arumi membuat Perasaan Randika takut. Kecemasan menyelimutinya. Dia pernah berada di posisi ini, tidak berdaya, mengingat pada saat orang yang dia cintai menghianatinya. Dan itu menyakitkan.


"Rumi!"


"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Arumi dengan tajam.

__ADS_1


"Aku minta maaf, tapi ini sunggu di luar kendaliku."


"Apa! Randika kau tidur dengan perempuan lain sementara kekasihmu menunggu di jalanan. Sendrian hingga larut malam. Jika saja kak Rilan tidak kembali ke tempat itu mungkin aku akan tertidur sampai pagi di sana karena menunggumu."


"Tidak akan ku lakukan lagi, aku janji."


Arumi tersenyum miring. Menatap Pria yang berdiri di depannya. "Kalau begitu tinggalkan dia."


Randika terdiam, membuat Arumi berdiri dengan kesimpulan dalam benaknya. Hal itu membuat Gadis bermanik cokelat itu menjatuhkan air mata. Dia menghebuskan napas panjang agar menetralkan perasaannya. "Keluarlah, aku harus membersihkan badan."


"Aku akan tetap di sini."


"Untuk apa? kau ingin melihat bagaimana bentuk tubuhku saat tidak terbalut pakaian?"


"Aku sudah melihatnya."


"Ah, benar. Apa jangan-jangan obat itu adalah ide mu untuk menjebak ku?"


"Apa kau tidak waras. Untuk apa aku melakukan itu."


"Lalu apa aku melakukannya malam itu? tidak!"


"Mungkin kau urungkan karena bentuk tubuhku yang tidak sesuai keinginanmu, tidak seperti Evanya yang memiliki tubuh sempurnah."


"Arumi! ada apa denganmu."


Arumi kembali bertanya. Apa Evanya memiliki lekuk tubuh yang indah.


"Aku tidak tidur dengannya," teriak Randika dengan keras.


"Lalu kenapa kau baru kembali."


"Aku mabuk dan Evanya membawaku ke apartemen nya."

__ADS_1


"What!"


"Kami tidak melakukan apapun sayang aku bersumpah."


Arumi berpaling saat melihat Randika berjalan ke arahnya. Namun, Randika malah menahan lengannya. "Jangan berpaling dan dengarkan semua penjelasan ku."


"Aku tidak perlu mendengarnya." Arumi mencoba melepaskan tangan Randika yang menahannya.


"Apa Rilan sudah menceritakan semuanya pada mu?"


"Aku tidak tahu apa yang kau maksud."


"Lalu dari mana kau tahu aku bersama Evanya semalam."


"Semua orang di pesta itu membahasnya dengan wajah berbinar. Dan aku baru tahu, Ternyata tunanganku adalah kekasih dari wanita cantik yang tiba-tiba muncul dan mencium tanpa ada rasa malu di depan ku."


"Aku sungguh minta maaf untuk itu," ujarnya pelan.


"Kau meminta maaf mewakili wanita itu?"


Randika menggeleng. "Untuk diriku karena membuat mu membenci ku."


"Kau tahu, aku ketakutan sendirian karena tidak tahu arah kembali ke mansion?"


Pria itu berjongkok, dengan wajah bersalahnya. Dia mentap Arumi yang menangis, tangan kekarnya meraih jemari putih milik tunangannya dengan tatapan yang tidak putus. "Maafkan aku, aku mohon maafkan aku."


"Air mata Arumi semakin menetes, tangannya kini beralih mengelus pipi Randika. Arumi melihat dengan jelas di mata Randika, dia tidak ingin melukainya. "Kau tidak mencintaiku."


"No, aku sangat mencintaimu."


Arumi melepaskan tangannya yang kembali di genggam ole Randika.


"Hubungan kita terjadi karena alasan perjodohan. Kau hanya mengasihaniku."

__ADS_1


"No Arumi, no jangan berkata seperti itu."


__ADS_2