Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 107


__ADS_3

Sejak tadi Rilan bicara sewajarnya saja. Membuat Arumi bertanya-tanya, apakah mungkin karena dia masih marah padanya.


"Kak Rilan?" Arumi menelan ludah kasar sebelum melanjutkan. "Masih boleh kan aku memanggilmu seperti itu?"


Rilan mengangguk pelan.


"Dia seperti itu lagi, hanya mengangguk dan menggeleng." batin Arumi kesal.


"Bisakah kita tidak bicara seperti ini? aku bertanya dan kau hanya mengangguk atau menggeleng, menjawab seperlunya saja. Keadaan seperti apa ini."


"Shiitt kenapa aku segugup ini."


"Jika kau ingin mengatakan sesuatu, katakanlah," ucap Arumi melipat kedua tangannya di dada, wajah kesalnya sungguh benar-benar dia tampilkan.


Rilan terdiam, termenung memikirkan apa yang harus di katakannya. Tentu saja Rilan ingin meminta maaf dan memulai kembali hubungan mereka yang sempat renggang. Namun, saat melihat wajah Arumi semua pikiran tentang meminta maaf itu hilang. Dia seperti terhipnotis untuk tetap diam dan bingung harus memulai dari mana.


"Bicaralah, jangan membuat ku mengatakan aneh-aneh lagi."


"Maaf, aku tidak bermaksud-"


"Tidak apa-apa."

__ADS_1


"Jangan memotong pembicaraan orang yang lebih tua darimu, itu tidak sopan."


"Maka dari itu bicaralah, jangan menggeleng mengangguk lalu diam lagi." Arumi berkata dengan datar, yang mana membuat Rilan sedikit merinding


"Arumi ... bisakah kita bicara dengan emosi yang tenang. Aku tidak ingin ada salah paham lagi."


"Bagaimana aku bisa tenang, kalau sikapmu seperti ini, jangan membuatku bingung menghadapai keadaan di mana kau hanya diam dan berkata seperlunya," ucapnya mulai terisak.


Rilan hanya tersenyum dingin. Dia tidak pernah mengira memperbaiki hubungan akan serumit ini. "Oke ... oke. Aku salah. Please aku mohon jangan menangis."


Rilan melangkah maju memeluk Arumi, dan saat pelukan Rilan mengerat di situlah tangisan Arumi pecah. "Maafkan aku. Aku tidak mengira perasaanku akan mengubah hubungan kita seperti ini."


"Kau jahat!"


Sikapmu seperti akan membuangku menjadi wanita terpuruk lagi."


Perempuan beramanik cokelat itu mengingat hari-hari di mana ketika kedua orang tuanya tiada, dirinya hanya berteman dengan pohon-pohon mapel dan menumpahkan keluh kesahnya di sana sebelum akhirnya Rilan datang dan menjadi temannya, menghibur dan membuat dia kembali hidup.


"Non, itu tidak akan terulang lagi."


"Lalu kenapa kau mengabaikan ku, kau berkata kasar dan meninggalkanku begitu saja."

__ADS_1


"Aku minta maaf untuk semua itu, jangan mengungkitnya lagi. Aku merasa seperti penjahat untukmu saat itu."


Arumi melepas pelukannya, masih dalam jarak yang sangat dekat, wanita itu menengada pada pria yang memiliki manik yang sama dengannya. "Apa saat ini aku sedang memeluk kakak laki-laki ku?"


Rilan mengangguk dengan mata berkaca. "Aku di sini Rumi. Kau akan selalu menjadi adik perempuanku."


"Benarkah?"


"Tentu saja," ucapnya dengan mencium puncak kepala Arumi.


Biarlah dia tidak menjadi pasangan hidupnya, biarlah dia tidak menjadi cinta sehidup sematinya, biarlah dia tidak bisa memilikinya untuk menjadi belahan jiwanya. Untuk saat ini, menjadi adik perempuannya saling berbagai segala hal, bersama-sama tersenyum dan menangis seperti ini, sudah cukup bagi Rilan. Dia akan bahagia jika Arumi bahagia. Itu yang ada di dalam hatinya sekarang.


"Maaf kan aku tidak lebih dulu menyadari perasaanmu."


"Non, Rumi."


"Maafkan aku karena tidak bisa menjadikanmu pasangan sehidup sematiku."


"Non, berhenti berkata seperti itu."


"Aku sangat mencintai Randika, begitupun denganmu. Aku tidak bisa hidup tanpa kalian."

__ADS_1


"Aku tahu." Pria itu mengelus lembut pada rambut ikal Arumi. Begitu lembut dan penuh rasa perhatian.


"Dan kau harus bahagia. Kau harus bahagia agar hatiku benar-benar ikhlas untuk melepaskanmu."


__ADS_2