Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 77


__ADS_3

Aku ingin berbaring."


"Tidak apa-apa, kau memang butuh istirahat," ujarnya lalu memejamkan mata.


Arumi terdiam yang melihat itu langsung termenung memikirkan apa yang harus di katakannya lagi. Tentu saja dia ingin menyindir sampai semua perkataannya menembus jantung dan membuat pria di depannya berhenti bernapas.


Dia kembali menatap jendela besar itu, berandai-andai dengan ekspresi Randika saat mendapati dia terbujur kaku dengan luka pada kakinya. Di saat yang bersamaan tiba-tiba saja terdengar ketukan dari arah pintu.


Tok ... tok!


Arumi menengadah, menatap pintu yang terbuka dengan suara hils runcing yang menggema keras di kupingnya. Seorang wanita muncul di sana dengan senyum licik pada bibir merahnya yang tebal, dua pria yang terlihat oleh Arumi. Namun, ternyata mereka tidak ikut masuk.


"Hallo Sayang, kau semakin tampan."


Pria itu menatap kaget, dia berdiri seketika. "Evanya?"


"Kenapa, kau kaget melihatku baik-baik saja."


Wanita dengan warna rambut pirang itu mendekat dan berdiri tepat di depan Arumi. "Aku dengar kau mengalami kecelakaan, apa kau baik-baik saja?"


"Bien."


"Apa kau tahu siapa yang membuatmu seperti ini.?"

__ADS_1


"Tidak! aku menyadarinya saat tubuhku terbentur mobil, ku pikir seseorang mendorongku dari atas bukit."


"Malang sekali nasibmu anak pungut."


"Evanya!"


Wanita itu tidak peduli dengan teriak Randika. Dia berjalan melewati Arumi, seakan tidak peduli dengan keberadaannya Evanya mendekat ke Randika dan menyentuh rahangnya dengan sensual membuat pria yang sedang menatap datar itu dengan cepat mencekal tangannya.


Evanya tidak kalah cepat saat Randika ingin berlalu darinya, dia mendesakan tubuh pada Randika memberikan rangsangan yang sama sekali tidak di hiraukan oleh pemilik manik hitam itu. Kekecewaan yang Evanya dapatkan membuat matanya di penuhi amarah, apalagi saat melihat tatapan Arumi yang terlihat tenang, amarahnya tidak dapat di tahan lagi. Dia berjalan mendekat dan menampar Arumi dengan keras.


Plak ....


"Akh," Arumi menjerit merasakan sakit pada pipi mulusnya.


Bukannya merasa sakit atau takut, Evanya malah tertawa. Dia melepas cengkeraman Randika dengan kasar. "Kalau begitu lakukanlah setelah kau bebas." Dia melakukan tepukan untuk memberi kode pada dua pria kekar yang menunggu di luar sana agar masuk.


"Tahan dia."


Randika berontak. "Lepaskan aku."


Sontak saja itu membuat tubuh Arumi menengang, dia sangat kaget saat dua pria kekar itu mendekap tubuh Randika dengan kasar. "Evanya apa yang kau lakukan!"


"Wow." Evanya menatap takjub wajah Arumi yang panik. "Apa kau takut kekasihmu terluka?"

__ADS_1


"Evanya menjauh darinya." Randika meronta untuk melepas diri namun dua pria ini menahannya dengan cukup kuat. "Lepaskan aku."


"Apa kau sadar, dirimu itu tidak lebih berharga kau hanya anak pungut yang kebetulan di cintai oleh majikannya."


"Evanya!" Randika berteriak dengan penuh amarah.


Namun berbeda dengan Arumi, dia terkekeh menatap tajam Evanya. "Kau terlihat sangat menyedihkan Evanya."


"Beraninya kau!"


Evanya yang marah kembali menampar Arumi dengan keras membuat perempuan brmanik cokelat itu hampir tersungkur dari tempat tidurnya, Arumi tidak menerimanya, kali ini hidupnya harus di landasi keadilan maka darinya Arumi mengembalikan tamparan itu.


"Aku berbeda dengan dirimu Evanya, kau hanya wanita murahan yang menginginkan ketenaran. dan itu membuatmu terlihat menjijikan." ucap Arumi yang di balas tatapan tajam oleh Evanya. Dan bukannya takut Arumi malah tertawa. "Kenapa? kau pikir aku takut padamu? kau salah Evanya."


Randika yang sedang sibuk meronta pun ikut tertawa membuat Evanya semakin geram.


Evanya kembali membalikan badan menatap Randika. "Bawa dia, kita akan bersenang-senang dengannnya."


Kedua pria itu menganguk lalu menyeret Randika keluar dengan paksa. Namun, sebelum melewati pintu kedua pria kekar itu mendapatkan kejutan 2 buah peluruh yang menembus kulit mereka hingga tersungkur tidak sadarkan diri ke lantai.


Dorr ... dorr ....


Bunyi tembakan itu mengundang teriak keras dari kedua gadis di sana, dan secara bersamaan Rilan dan Brian muncul di balik pintu.

__ADS_1


"Berapa banyak masalah lagi yang akan kau buat Evanya."


__ADS_2