Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 38


__ADS_3

"Evanya, aku mohon jangan pergi."


Sepasang mata hitam itu terus menatap gadis di depannya, memohon untuk tetap tinggal bersamanya. Ramai orang lalu-lalang di sekitarnya tidak membuat dia segan atau malu untuk melakukan hal itu.


"Evanya!" teriaknya lagi hampir menghancurkan gendang telinga gadis yang di tariknya sedari tadi. Dia memeluk kakinya memohon agar tetap berada di sisinya. "Evanya aku mohon jangan lakukan ini padaku, apa salahku."


"Lepaskan aku Ran!"


Wanita berambut hitam lurus itu meronta-ronta bergeliat seperti cacing untuk melepaskan diri. Dia benar-benar merasa lelah karena keegoisan Randika yang tidak mau melepasnya. "Aku harus pergi Ran."


"Aku mohon, jangan tinggalkan aku sendirian," pintanya dengan memelas.


"Ran! Aku tidak bisa," ucapnya penuh penekanan. Dia mengelus wajah kekasihnya yang sudah di penuhi keringat bercampur air mata. "Aku harus mengejar impianku."


"Kau bisa melakukannya di sini."


"Tidak! Aku harus ke Prancis untuk bisa mewujudkannya."


"Kita bisa pergi bersama-sama nanti."


"Ran. Aku sudah tidak mencintaimu lagi, kau tahu aku berselingkuh bukan. Kenapa kau seperti ini"


"Aku tahu. Tapi rasa cintaku melebihi egoku Evanya. Aku memaafkan segala kesalahanmu. Jadi tetaplah bersamaku."


"Randika!"


"Aku tidak bisa kehilangan dirimu. Kita sudah cukup lama bersama bukan. Bahkan aku memberikan segala yang kau inginkan."

__ADS_1


"Aku tidak pernah meminta."


"Aku sangat mencintaimu Evanya."


"Tapi aku tidak."


Jeddarrrrrr


Tiga kata yang berhasil membuat tubuh Randika mendidi hingga sesak menggerogoti dadanya membuat Pria bermanik hitam itu susah untuk bernafas. "Bahkan setelah semua yang sudah kulakukan padamu?"


"Aku mencintai Demian, dia adalah segalanya bagiku. Segala impianku ada bersamanya. Jika aku pergi, untuk menjadi seorang Pianis adalah hal yang mudah."


"Kau akan menyesal telah melakukan ini padaku Evanya Mastaw." tangannya masih menggenggam erat jemari kanan Evanya.


Evanya melepas paksa genggaman Randika pada jemarinya, mengabaikan ancaman Pria yang sedang menahan amarah itu dan berjalan pergi tanpa berkata apa-apa. Randika kehilangan tenaga dia lemah hingga bersimpuh di jalanan di antara banyak mata yang melihatnya.


"Evanya !!"


"Evanya !!"


"Evanya, jangan tinggalkan Aku."


"Ran ...."


"Ran ... sadarlah, ada apa denganmu."


"Randika!! Kenapa kau berteriak."

__ADS_1


Gadis berponi itu bergeser agar lebih dekat dengan kekasihnya. Arumi tahu unangannya pasti sedang bermimpi buruk. Itu terlihat dari kerutan pada dahinya dan keringat yang tidak hentinya bercucuran.


"Apa yang sedang kau mimpikan. Dan siapa Evanya?" Nama itu berulang kalai di sebut Randika


tanpa peduli dengan seseorang yang sedang memendam rasa kecewa di sampingnya.


Arumi mengelus lembut pada puncak kepala Randika memberikan rasa nyaman di sana. Sejenak Pria itu mengerjap dengan air mata yang masih menetes.


"Kau baik-baik saja," tanya Arumi saat mata Randika mulai sepenuhnya terbuka.


"Dimana Aku."


"Kau di kamarmu," jawab Arumi.


"Evanya! di mana dia." Pemilik mata hitam itu merangkak menggapai pintu dengan raut wajah yang sangat khawatir. Air matanya bahkan dengan derasnya menetes. Dia berlalu meninggalkan wanita yang sedari tadi setia menemaninya bermimpi.


"Kenapa kau lakukan ini padaku," ucapnya dengan meneteskan air mata. Wanita itu tertawa menatap pria yang sudah menjauh darinya.


"Bahkan dalam mimpimu saja aku tidak ada."


.


.


🐌🐌🐌🐌🍭


Jangan lupa kasi like komentar dan votenya yah teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2