
Pagi itu burung berkicau dengan sangat merdu, seakan ingin menghibur sang wanita yang tengah merasakan kesedihan. Arumi membuka mata saat belaian lembut menelusuri bagian pipi hingga rahangnya. Dia bahkan merasan kecupan lembut sang kekasih yang sudah lebih dulu membuka mata.
"Honey, wake up you don't want to hear those beautiful birds whistling? (Sayang, bangunlah kau tidak ingin mendengar burung-burung cantik itu bersiul?)" bisik Randika di samping telingah kekasihnya.
Jemari kekar itu menelusuri garis punggung Arumi yang terlelap membelakangi, mambuat ia sedikit bergerak dan membalikan arah hingga menghadap Randika yang sudah terjaga. Perempuan itu tidur dengan mulut yang sedikit terbuka hingga menarik perhatian Randika.
Pria itu mengigitnya pelan hingga Arumi melenguh merasa sakit, tapi masih tetap memejamkan mata. "Come on, wake up honey."
Tubuh Arumi menegang saat tangan kanan Randika mulai mengelus pinggangnya. "Hentikan! itu menggelikan."
Randika terkekeh saat Arumi mengatakan geli dengan mata yang tertutup. "Kau menikmatinya."
Arumi memukul dada Randika yang polos itu karena malu. Seperti biasa di manapun pria itu tidur, dia akan selalu melepas bajunya. Entah kenapa kebiasaan yang awalnya Arumi pikir adalah mesum, kini berangsur-angsur dia maklumi.
"Apa kita bisa melakukan pemanasan sayang."
__ADS_1
Dahi Arumi berkerut, dengan seketika wanita itu membuka mata. "Pemanasan apa yang kau maksud."
Pria itu malah tersenyum licik. "Tentu saja pemanasan untuk membuat Randika Junior," bisiknya dengan tangan menelusuri bagian belakang tubuh Arumi.
Spontan Arumi menempelkan kedua tangannya di dada Randika, menahan pria itu untuk tidak menghimpitnya. "Apa yang kau lakukan."
Bukannya berhenti Randika malah semakin mendekatkan diri hingga tidak ada jarak di antara keduanya.
"Aaaa."
Arumi menjerit tatkala pria itu membalikan posisi dan menjadikannya di bawah tubuh kekar itu. "Randika!" Arumi mencoba menyingkirkan Randika yang menindihnya.
"Randika ...."
"Apa boleh?" bisik Randika tepat sesaat setelah dia selesai menciumi bibirnya.
__ADS_1
Dan sesuatu yang di berikan Randika itu membuat Arumi melemah, sensasi yang seperti mendambah. Namun, ia malu untuk mengakuinya.
"Hentikan! ini sudah pagi."
Randika terkekeh mendapati suara bisik kekasihnya. Entah karena masih mengantuk ataukah malu jika suaranya terdengar sampai keluar kamar.
"Apa kau siap menjadi Nyonya Randika Garret?"
Wanita itu sontak tertawa. Arumi bergerak membalikan arah hingga pria itu menjatuhkan badan di samping tubuhnya. Perempuan itu lalu tidur dengan tangan Randika sebagai bantalan. Dari jarak kurang lebih 4 senti, sang mata hitam itu menatap wajah cantik Arumi, terpatri begitu pas, karena ukuran wajah Arumi selebar daun tangan Randika yang terbuka.
Dia begitu mempesona dengan Bulu mata lentiknya, mata bulat dengan kantung mata yang sedikit bengkak, hidung yang mancung meski sebenarnya sangat minimalis ukurannya. Dan yang membuat Randika semakin betah menatap wajah kekasihnya adalah, Tidak ada sedikitpun nodah di wajah Arumi, begitu mulus dengan rona merah alaminya.
Keheningan tercipta secara tiba-tiba, pria itu masih menatap wajah Arumi dengan lekat. Tangannya terangkat mengelus pipi Arumi sebelum memainkan bibir tipisnya.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau kau benar-benar meninggalkanku."
__ADS_1
Arumi melenguh saat Randika kembali menciumnya. "Aku tidak ingin kehilangan dirimu Arumi," ucap Randika di sela ciuman-nya.
"Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu Randika. Hidupku adalah milikmu."