
Arumi baru saja menyelesaikan mandi, dia keluar dari kamar mandi dan mulai mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Handuk berwarna putih miliknya kini menempel membalut tubuhnya yang basah. Dia bersandar pada kursi pasangan meja rias nya yang berada di dekat jendela, menatap keluar sambil menyisir, hingga tak menyadari seseorang masuk ke kamarnya dan kini menatapnya dengan intens.
Arumi tersentak kaget ketika puncak kepalanya di elus lembut. Tanpa melihat pun dia sudah tahu siapa yang kini berdiri di belakangnya. Arumi hanya diam, dia memilih untuk tetap menikmati guguran daun mapel yang sudah semakin banyak memenuhi halaman membiarkan Randika yang mengambil alih merapikan rambutnya.
"Maafkan aku."
"Tidak." Gadis itu menggeleng dengan air mata yang mulai jatuh.
"Maaf aku selalu menyakitimu. Aku hanya tidak mau membuatmu terluka dengan kisah cintaku dengan Evanya."
Arumi menahan napasnya mengaturnya agar lebih tenang. "Keluarlah ... tinggalkan aku sendiri."
"Sayang."
"Aku mohon."
"Tidak ada apapun yang tersisa antara aku dan Evanya, Dia adalah masa lalu ku dan Kau adalah masa depanku. Aku memang sangat mencintainya, tapi itu dulu. Sekarang di hatiku hanya ada Kau Arumi. Tidak Evanya ataupun orang lain." Randika mencoba meyakinkan Arumi, dia berjongkok di depan gadis yang di cintainya dan mengusap lembut pada kedua pipinya. "Percayalah padaku."
Empat tahun, kenangan yang dia pikir akan menghilang nyatanya harus dia ingat kembali. Ditinggalkan kekasih yang sangat dia cintai adalah hal yang menyakitkan. Tidak terbayang sama sekali olehnya hal itu bisa terjadi.
"Apa kau sangat mencintainya?"
"Dulu. Itu dulu."
__ADS_1
"Dan sekarang masih sama," sela Arumi cepat.
Randika menggeleng menangkup wajah cantik milik kekasihnya mencium keningnya lama sebelum jemarinya mengusap lembut rambut cokelatnya perlahan. "Juste toi." Hanya Kau.
"Tu mens. ( Kau berbohong.)"
"No," ucapnya merangkak untuk lebih mendekat.
"Tu mens. (Kau berbohong.)"
"Arumi."
"Kau menyebutnya dalam mimpimu. Bahkan ketika kau membuka mata, nama itu masih kau sebut."
Arumi menyeringai. melepaskan tangannya dari genggaman Randika dan beranjak meninggalkan Pria yang terdiam bingung di tempatnya.
"Arumi aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Mimpi apa! Katakan," teriaknya.
"Baiklah. Karena kau lupa, aku akan mengingatkanmu kembali," ujarnya menahan emosi. "Kau ingat bukan, semalam kau kembali dengan sempoyongan. Kau mengigau yang tidak jelas saat kak Rilan membawamu masuk. Mungkin kau sedang mengalami hari yang buruk di kantor jadi aku biarkan kau seperti itu. Tapi kau malah berteriak menyebut nama Wanita itu berulang kali. Aku menunggumu semalaman dan ketika kau terbangun bahkan hanya nama itu yang kau sebut. Kau meninggalkan ku dan pergi begitu saja. Berhari-hari aku diamkan, ku pikir kau akan ingat dan meminta maaf kepadaku. Tapi ternyata tidak. Kau bahkan berlaga di depanku seolah-olah tidak terjadi apa-apa kemarin."
Penolakan adalah hal yang menyakitkan. Baginya itu sudah biasa. Tapi jika itu di lakukan oleh orang yang sangat di dambakannya hati siapa pun akan hancur berkeping-keping.
"Arumi, aku benar-benar tidak tahu sudah seperti itu."
__ADS_1
"Kau mengabaikanku," keluhnya.
"Rumi maafkan aku."
"Apa yang harus aku lakukan, apa aku harus menjauh darimu lagi seperti biasa."
"Apa yang kau katakan. Untuk apa kau harus menjauh dariku."
"Jika tidak seperti itu hatiku akan hancur, kau masih mencintai wanita yang bahkan sudah tidak peduli lagi padamu," teriaknya penuh penekanan.
"No, aku sudah melupakannya dan sekarang hanya ada kau. Hanya kau."
"Kau yakin."
"Sangat yakin."
Arumi ragu, dia kembali bingung dengan kenyataan. Apa dia harus memafkan Randika dan yakin bahwa dia benar-benar sudah melupakan wanita itu, ataukah dia harus meminta penjelasan lagi agar dia lebih yakin. Matanya memejam menyalahkan diri sendiri bimbang dalam kenyataan hidupnya sendiri.
Randika yang melihat gadisnya yang rapuh pun mendekat perlahan memeluknya dengan penuh cinta. Ketika Pria itu menyingkirkan rambut yang menutupi bahunya, Arumi merasakan hembusan nafas hangat Randika menyapu leher jenjangnya.
"Ne te détourne pas de moi. (Jangan berpaling dariku,)" ujarnya menatap manik hitam Pria di depannya.
Arumi menahan napasnya saat bibir hangat Randika mulai mengecupnya. Sepasang mata cokelat itu menatap Pria di depannya dengan sayup. "Maaf, aku sudah meragukanmu."
__ADS_1