
"Di mana kau."
"Aku ... di Apartemen."
"Kau berbohong! katakan di mana kau."
"Aku sedang di Apartemen, memangnya ada apa?"
"Seseorang mengatakan melihat mu di sekitar Mansion milik Randika, apa yang kau lakukan di sana?"
Evanya berdecak. "Kau menyewa orang untuk membuntutiku?"
Brian mejamkan mata sejenak, menetralkan emosinya yang sebentar lagi akan meluap. Berbicara dengan wanita berambut pirang itu membutuhkan kesabaran. "Katakan, apa yang kau lakukan di sekitar Mansion."
"Kau Sangat ingin tahu Tampan."
"Evanya!!"
"Okey ... okey .... Aku mengunjungi Randika, kau tahu kan dia sedang terluka."
"Untuk apa kau kesana. Arumi bisa melihatmu dan itu akan memperburuk hubungan mereka."
"Nyatanya Randika mau menemuiku."
"What?"
"Apa yang di pikirkan pria bodoh itu, apa dia akan membiarkan Arumi melihat kedekatannya dengan Evanya?
"Hallo Brian, Brian apa kau masih di sana?" Evanya mengerutkan dahi menatap layar ponseknya yang tiba-tiba hening. "Ada apa dengan pria ini, apa dia melamun di sana. Brian!"
"Aku tidak tuli Evanya."
"Itu karena kau tidak terdiam di sana."
"Evanya aku mohon, jauhi Randika, jangan membuat masalah."
__ADS_1
"Aku tidak membuat masalah tampan, tapi sedang mengatasi masalah."
"Apa maksudmu?"
"Randika berjanji akan mengembalikan semuanya. kejayaanku, kepopuleran ku dan tentu saja cintanya."
"What? sekalai lagi Brian di buat kaget oleh pernyataan Evanya. "Jika hanya untuk terkenal, kau bisa mendapatkannya dengan melakukan beberapa konser kecil. Setelah itu kau bisa naik kembali seperti dulu, semua orang masih mengenalmu bukan."
"No Brian, mereka memang masih mengenalku tapi seseorang telah menutup mulut mereka dengan uang."
"Siapa?"
"Kau akan tahu jika waktunya sudah tiba."
"Jangan membuat teka teki dengan ku Evanya. Aku katakan sekali lagi, jauhi Randika."
"Kau pria yang membosankan, berhenti mengatur ku. Tujuan ku ke Kanada untuk mendapatkannya kembali, bukan sebaliknya."
"Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa Evanya. Hentikan."
"Aku hanya mengingatkanmu sebagai teman. jika kau tidak mendengarkanku. karier mu akan lebih hancur."
"Maka dari itu, Randika harus tetap bersamaku."
"Kau akan menyakiti perempuan lain dengan obsesimu? Rilan tidak akan membiarkanmu menyakiti adiknya."
"Aku tidak perduli. apapun akann aku lakukan untuk mencapai tujuanku."
"Evanya!!" Brian berteriak begitu keras hingga wanita di seberang teleponnya tersentak.
"Oh astaga Brian, kau membuatku semakin kesal. Berhenti meneriaki ku. Aku ingin merapikan Apartemenku. Sampai jumpa tampan."
"Evanya!"
tuutt tuutt tutt.
__ADS_1
Suara sambungan telpon yang di tutup Evanya. memebuat Brian mengumpat tanpa henti. Dia bahkan memasang wajah datar saat seorang pria kaya mendekatinya untuk bertanya minuman apa yang terbaik di kafe nya.
"Shit."
Pria bermanik biru itu menarik napas dalam. Seharusnya dari awal dia tidak membantu wanita itu, Dan Randika, entah apa yang dia pikirkan. Membiarkan Evanya berada dekat dengannya akan membuat Arumi terluka. "Apa dia tidak memikirkan perasaan Arumi? Huh."
•
•
•
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Rilan saat mendapati Randika yang sedang terdiam balkon kamarnya, dia terlalu kacau, apalagi saat melihat tangannya yang kembali berdarah dengan perban yang masih menempel.
"Tuan, apa yang terjadi? anda tampak mengerikan."
"Rilan,"
"Ya Tuan."
"Apa kau benar-benar sahabatku?"
Rilan terdiam dan berfikir sejenak. "Tentu saja, apa anda ingin mengungkapkan sesuatu?"
Randika menarik napas dalam, dia kembali fokus. "Aku ingin kembali bersama Evanya."
"What? Apa kau gila! mana mungkin kau kembali padanya di saat hubunganmu dengan Arumi masih baik-baik saja."
"Aku ingin menebus kesalahanku, aku menjanjikan dia akan kembali pada ketenarannya, menjadi Pianis terkenal," ujarnya masih tetap tenang dan fokus.
"Menebus kesalahan apa, aku tidak mengerti."
"Aku tahu kau paham maksudku." Randika yakin Rilam mendengar desas desus dan pasti sudah mencari tahu dan memanfaatkan ketampanannya untuk memikat Clarisa, agar wanita itu mengatakan semuanya.
"Clarisa hanya memberikan ciuman dan keahliannya di ranjang. Aku tidak bisa memanfaatkan ketampananku kali ini."
__ADS_1
Randika terkekeh, dia berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Rilan. "Apa kau ingin mendengar cerita ku?"