Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 125.


__ADS_3

"Apa kau baik-baik saja?"


"Aku merasakan mual."


Tangan Randika mengelus pelan pada punggung Arumi yang terus saja merasa mual. "Apa yang kau makan pagi ini?"


"Tidak ada, hanya segelas susu."


Randika berfikir sejenak, lalu kembali menatap Arumi dengan tatapan serius. "Sayang, jangan-jangan kau ...."


"Apa? Kau pikir aku hamil?" Arumi melempar serbet yang dia gunakan untuk mengelap mulutnya ke arah Randika. "Jangan konyol, kita tidak pernah melakukannya."


Pria bermata hitam itu tertawa dengan keras. "Aku hanya bercanda Sayang. Kau sangat serius dengan wajah tegang mu itu."


"Jangan bercanda dengan hal seperti itu, aku tidak menyukainya. Bagaimana kalau ada yang mendengarnya, mereka akan mengira kalau aku benar-benar hamil."


"Tenang saja. Bukankah aku akan menikahimu."


"Oh God." Arumi memijat keningnya, dia tahu Randika sedang bercanda tapi dengan mood yang tidak baik seperti ini, itu terdengar menjengkelkan.


"Ayolah Randika, aku sedang mual dan kau malah mengatakan hal-hal aneh. Lakukan sesuatu, agar rasa mualku hilang."


"Memangnya apa yang kau makan, kenapa tiba-tiba merasa mual?"


"Mungkin karena semalaman aku tidur hanya dengan menggunakan lengeria tipis itu?" Wanita itu menunjuk pada kain tipis yang tergantung pada bagian depan rak baju miliknya.


"What?" Mata Randika melebar melihat lingeria berwarna hitam itu. "Apa yang ingin kau lakukan dengan memakai itu?"


"Aku hanya sedang berlatih untuk terlihat seksi di depan ... mu." Kalimat terakhir terdengar seperti bisikan.


"Sayang!" Randika menangkup pipi Arumi yang kini menunduk, memberikan kecupan singkat di bibir kekasihnya dan mulai terkekeh.


"Can you show me again?"

__ADS_1


"Randika!"


Seketika suara tertawa pria itu pecah. Tidak ingin terkena masalah lagi, pria itu segerah mengalihkan keadaan. "Sebentar, aku akan memanggilkan Minora."


"Cepatlah! aku mulai merasa pusing."


"No! kau jangan sakit, dua hari lagi adalah hari special untuk kita, dan kau bisa memakai lingeria itu kembali."


Arumi memutar kedua bola matanya malas. "Lalu kenapa kau masih di sini, pergilah Sayang, panggil Minora untuk membantuku."


"Oh ****, kenapa aku lupa."


Randika berlari keluar mencari Minora, pelayan itu dengan panik bergegas menghampiri majikan kesayangannya. Tidak melupakan kesopanannya, Minora mengetuk pintu sebelum masuk.


Tok ... tok ... tok ....


"Nona?"


Arumi menengok, menatap pintu yang terdengar suara memanggil.


"Nona! Apa yang terjadi, wajahmu terlihat pucat."


"Jangan bicara, Minora, aku ingin muntah," ucap Arumi dengan nada sedikit kesal. Dia membuang napas kasar saat merasakan mual kembali menganggu.


"Apa kau baik-baik saja Nona?" tanya Minora dengan wajah panik.


"Ini teh jahe hangat, minumlah." Randika, tiba-tiba masuk dengan membawa segelas teh yang asapnya masih mengepul.


"No! Aku tidak suka jahe."


"Ini akan menghangatkan perutmu, Sayang. Minumlah."


"Aku akan membantunya, Tuan," ujar Minora mengambil alih gelas yang di pegang oleh Randika.

__ADS_1


"Tidak!" Tangan Arumi menahan gerakan Minora untuk memberikan gelas itu mendekat ke arah mulutnya.


"Sayang!"


"Tapi aku tidak menyukai jahet," ucap Arumi dengan wajah memelas.


"Kau akan terus merasa mual jika tidak meminumnya. Ayolah, hanya sedikit saja." Randika memohon agar kekasihnya mau menuruti untuk meminum teh jahe itu.


"Yang di katakan Tuan benar Nona, itu adalah ramuan yang di buatkan Claudia untuk menghilangkan masuk angin. Itu adalah air rebusan rempah yang menggunakan sedikit jahe untuk menghangatkan perut. Jika Nona meminumnya, aku yakin rasa mualnya akan hilang."


"Benarkah, hanya sedikit jahe saja?"


Minora mengangguk cepat dengan wajah meyakinkan. "Tentu saja, Nona, mana mungkin aku berbohong padamu."


Arumi megalihkan pandangan ke arah Randika. Namun, kekasihnya hanya membalas dengan anggukan bahu, yang mana membuat Randika terkekeh karena kerutan di wajah Arumi benar-benar lucu.


"Sudahlah, Sayang, jika kau tidak ingin meminumnya, aku akan mengembalikannya ke dapur." Randika meraih gelas yang sedari tadi di pegang oleh Minora dan berbalik hendak melangkah pergi.


"Hei, kembalikan."


"Kau akan meminumnya?"


Arumi terdiam sejenak lalu mengangguk tanda menyetujuinya. "Tapi hanya sedikit."


"Membuang makanan itu tidak baik, Tuhan akan marah padamu."


"Hei, ini minuman, bukan makanan."


"Astaga Arumi, sama saja."


"Ini tidak enak."


"Habiskan, Sayang. Kau tidak boleh sakit," ucap Randika mencium pipi kekasihnya. Yang mana membuat senyum wanita itu melebar hingga memperlihatakan dereran gigi putihnya.

__ADS_1


"Jika kau melakukannya setiap saat, maka aku akan meminum semua jamu itu tanpa paksaan."


__ADS_2