
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Amirta ketika seluruh Anggota keluarga sudah berkumpul.
Randika menatap Arumi dengan intens, gadis itu terlihat salah tingkah, saat tiba-tiba Dady menanyakan soal pernikahan.
"honey biarkan mereka istirahat sejenak, kita akan membahasnya nanti saat makan malam, bagaimana, kalian setuju?" sela Jenny memotong pembahasan. Dia tahu jika Randika dan Arumi pasti bingung dan bertanya-tanya.
"Mom, apa maksudnya ini, bukankah pembahasan terakhir kita soal pertunangan?"
"Mom tahu apa yang kau maksud. Tapi, bisakah kita bahas nanti setelah makan malam selesai?
Faktanya bukan maksud Jenny untuk mengabaikan pertanyaan Amirta, tapi dia hanya sedang berusaha melerai peperangan besar yang akan terjadi jika percakapan ini terus berlangsung. Hubungan antara anak dan ayah ini masih begitu tegang terakhir saat Amirtha meminta putranya untuk menjadi suami Arumi.
Amirta mengeleng tahu apa yang di lakukan oleh istrinya."Kau akan terus membuat dia menjadi pria pemberontak jika terus seperti itu."
"Om aku ingin me--" ucapannya tersendat saat Randika menutup mulutnya dan menarik dia menjauh dari sana.
Amirta, Jenny, dan Rilan, yang menyaksikan adegan aneh itu sampai mengerutkan dahi. Karena sikap Randika yang mereka tahu, dia tidak akan melakukan hal semacam itu pada seorang Wanita, apalagi Itu adalah Arumi. Gadis yang selalu tidak dia pedulikan.
"Ada apa dengan nya, tidak biasanya dia akan merespon seperti itu pada Arumi."
"Apa kita salah lihat?"
"No Dad, that's the reality" jawab Jenny dengan tersenyum.
Sementara itu diluar sana Randika dan Arumi sedang melakukan adegan tarik menarik, yang semakin membuat Arumi kesal.
"Lepaskan, kau menyakitiku!"
Randika menghempaska tangan Armu hingga membuat wanita bertubuh munggil itu terhuyung-huyung.
"Apa yang ingin kau katakan! apa kau akan bilang tentang syarat-syarat itu?"
__ADS_1
"Pas!"
"Et alors?"
"Aku hanya ingin mengatakan kalau kita belum mau menikah dan meminta untuk menundah pembahasan tentang pernikahan. Tapi, kau menghancurkannya," ucap Arumi kesal.
"What?" Randika terkekeh, Lagi-lagi dia ceroboh. "Apa kita harus kembali untuk mengatakannya lagi?"
"En retard."
"iam sorry, ku pikir kau akan mengatakannya," ujarnya menyesal.
"Memangnya kenapa kalau aku mengatakannya," tanya Arumi penasaran.
"Kau hanya perlu tahu bahwa kau tidak boleh menyinggung tentang syarat itu di depan Mom," Randika berjalan meninggalkan Arumi yang masih kebingungan.
"Aku akan mengatakannya," teriak Arumi mengejek.
Randika berbalik dan melirik tajam pada gadis berponi itu. "Aku akan mencium-mu jika kau mengatakannya," ujarnya penuh penekanan.
Ucapan Randika seketika membuat Arumi menutup bibir tipis berbalut lipstik berwarna nude itu dengan kedua tangannya. "Dasar Pria Robot mesum!"
***
Malam pun tiba, dan acara makan malam bersama mereka berjalan dengan baik. Masing-masing menikmati setiap hidangan yang disajikan dengan diam, hingga akhirnya suara Amirta terdengar memecahkan kesunyian itu.
"Apa kalian sudah menetapkan tanggalnya?"
"Baiklah, kita akan mengadakannya minggu depan," ujar Jenny dengan mata berbinar.
"Aku akan meminta Rilan dan Clarisa untuk mengurus semuanya."
Masih dengan ekspresi datar Randika menjawab tanpa ada beban.
"Terimah kasih sayang. Rilan, adalah orang yang tepat untuk mengurus semuanya."
"Sekretarismu ini, memang cekatan Dady suka kinerjanya," sahut Amirta.
"Momy harap, kalian berdua akan melakukan yang terbaik seperti yang kita harapkan."
"Maaf Om, Tante, Boleh aku bicara?" ujar Arumi menyela.
Binggo, batin Randika.
"Boleh sayang silahkan," ujar Jenny dengan lembut, dilanjutakan dengan anggukan setuju dari Amirta. Randika yang pura-pura kaget pun, segera melirik Arumi dan memberikan anggukan.
"Om, Tante, Maaf. Aku tahu kalian sangat menyayangiku. Jujur aku juga sangat senang berada di sini. Menjadi bagian keluarga Garrett adalah hal terbaik dalam hidupku, tapi ...." Ucapan Arurmi terhenti, dia melirik dengan tatapan tanpa dosa ke arah Randika.
Randik sedikit mengerutkan dahi, dia memberi kode kepada Arumi untuk tidak mengatakan kesepakatan mereka.
"Tapi Apa Rumi," ujar Amirta penasaran.
__ADS_1
"Tapi ... bisakah pernikhan-nya nanti saja, kami berdua sepakat untuk lebih mengenal satu sama lain." Arumi mengucapkan dengan satu kali tarikan napas.
Amirta dan Jenny pun saling menatap saat mendengar ungkapan hati dari gadis pemilik manik cokelat itu. Sejenak kedua orang tua itu tergelak.
"Hahahaha, ya ampun Rumi, Aku kira ada apa."
"Kau membuat Kami deg-degan," sahut Jenny mengekor.
Randika yang mendengar ucapan Arumi langsung menarik nafas legah, gadis itu sudah menyelamatkan setengah hidupnya. Semoga ke depannya akan seprti ini.
"Deg-degan?'
Jenny pun tersenyum melihat tingkah polos calon menantunya itu. "No sayang, Kami hanya mengira kau akan membatalkan perjodohan ini," ujar Jenny menahan tawa.
"Ah ... mana mungkin tante."
"Baiklah, jika itu keputusan kalian. Yang terpenting, kalian berdua mau untuk menikah setelah beberapa bulan pertunangan," ucap Amirta serius.
"Baiklah, kami setuju," ujar Randika mantap.
"Terima kasih Rumi, sudah mau mengabulkan
permintaan kami, maaf jika Tante sedikit memaksamu kemarin."
"Ah i-iyaa Tante" ujar Arumi gugup.
"Panggil saja Mom, bisakan Rumi?" ucap Jenny menyentuh punggung jemari Arumi, dengan lembut.
"Tapi"
Mani Cokelat itu melirik ke arah pria tampan yang begitu menawan dengan kaos kerak berwarna navi yang duduk di sampingnya.
"Kau boleh melakukannya jika merasa itu nyaman," ujarnya tanpa melihat ke arah gadis yang sedang menatapnya.
Arumi tersenyum. Permintaan wanita yang sangat terlihat anggun di depannya membuat dia seperti mendapatkan semangat hidup, tak pernah terlintas di benaknya Jenny akan mengijinkan dia memanggilnya Ibu, dia merasa sangat bersyukur dan bahagia, namun di satu sisi, hatinya sangat hancur karena terpaksa harus menjalani sisa hidupnya bersama pria yang sama sekali tidak dia cintai.
Memikirkan semua itu seketika membuat bulir bening yang selalu dia simpan dengan rapat mengalir lembut di pipinya.
"Owh Rumi. Sayang, kenapa kau menangis," ujar Jenny ikut sedih.
"Rumi, kau baik-baik saja Nak," tanya Amirta ikut khawatir melihat anak gadisnya yang tiba-tiba menangis.
"Sudah. Cukup. Kau seperti anak kecil," ketus Randika.
"Kenapa kau selalu mengganggu momen haru ku,"
Randika berdecak, "Aku hanya ingin menenangkanmu."
"Itu bukan menenangkan, tapi mengejek Robot,".
"Kau seharusnya bersyukur, ada pria tampan di sampingmu saat kau menangis," ujar Randika.
"Dasar Pria Robot! Pria kaku!"
__ADS_1
Randika terkekeh, ingin sekali tangannya mencubit pipi gembul milik Arumi, namun kemudian dia sadar jika sedari tadi mereka menjadi tontonan gratis kedua orang tuanya, hingga membuat Pria berambut hitam lebat itu menjadi malu dan mengalihkan pandangan-nya.
"Ehmmm."