
Evanya kembali ke apartemennya dengan wajah gusar dan kesal, hatinya menjadi tidak tenang saat aksinya di bukit De La Reine harus melibatkan Brian. Seharusnya dia lebih berhati-hati, jika Brian melihatnya saat melarikan diri tadi, pria itu akan segera melaporkannya kepada Randika. Terlebih dia akan mendekam di penjara.
"Shitt," teriak Evanya sambil mengacak rambutnya frustasi. "Apa Brian melihatku tadi? apa pria gemuk itu memberitahu orang-orang kalau aku yang mendorongnya?"
Pikiran Evanya menjadi kemana-mana, khawatir jika dirinya tertangkap maka semua rencana yang sudah setengah jalan ini akan ketahuan. Dan dia akan gagal menjadi seorang Pianis terkenal, bahkan dia tidak akan bisa memiliki Randika.
Sebenarnya dia sudah mengerti betul dengan keadaan, Randika memiliki prinsip yang kuat. Sekali dia membenci maka selamanya akan seperti itu. Namun, melihat bagaimana Randika begitu mencintai Arumi, hatinya seakan tidak rela dan ingin memiliki cinta Randika kembali.
"Jika Arumi mati, maka aku akan menjadi Nyonya Randika dan pindah ke Mansion itu. Aku tidak akan pernah rela wanita itu tinggal di sana dan memiliki Randika selamanya."
Evanya membuka semua bajunya menumpuknya di dalam kertas plastik. Dia mengenakan bathrobers dan keluar untuk membuang tumpukan baju itu ke tempat sampah. Dia harus menghilangkan semua jejak aksinya hari ini.
"Demi Mendapatkan mu aku rela melakukan apa saja Randika, asal kau menjadi milik ku."
__ADS_1
Bukan sekali ini saja, Evanya Sering sekali melakukan hal gila untuk menyingkirkan wanita-wanita yang selalu ingin mendekati Randika, dan itu selalu berhasil. Namun, entah kenapa Evanya merasa Arumi adalah saingan terberatnya saat ini.
Evanya kembali masuk dan buru-buru mencari ponselnya. Seingatnya malam ini, Randika akan menemuinya di apartemen. dan ini sudah begitu sore tapi pria bermanik hitam itu belum juga menghubunginya.
"Apa dia lupa?"
Dia melempar malas ponselnya menggerutu sebelum masuk ke kamar mandi. Di bawa guyuran shower Evanya memejamkan mata merasakan keberadaan Randika dalam imajinasinya.
Bagaimana nanti pria itu menyentuhnya, membelainya bahkan, mereka berdua akan melakukan adegan ranjang yang sangat nikmat malam ini. Kepalanya menengadah terpejam di bawah tintikan air, Randika seakan bersamanya di sampingnya menyentuhnya seperti dulu dengan penuh gairah. Memikirkannya saja membuat Evanya semakin bergairah hingga .... "Akh ...."
"Shit! Aku bisa gila jika terus membayangkanmu Randika Garret."
Evanya berpakian dengan sangat cantik malam ini, dia harus membuat Randika terpikat padanya. Wanita berambut pirang itu mentap kaca besar yang terdapat di dalam kamarnya, melihat baju yang di pakai dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Kau terlihat cantik Nona Evanya Mastaw. Malam ini kau akan menjadi Ratu di atas ranjang bersama Randika."
Sesaat setelah dia memuji dirinya bel berbunyi di sana. Evanya membuat senyum simpul, bahagia menyelimutinya saat ini.
"Aku sangat tidak sabar untuk memeluk mu Randika."
**
"Hai, kau da-- akh ...."
Evanya terdorong masuk kembali ke dalam Apartemennya dan terbentur tembok dengan sangat keras. Pria bermanik hitam itu mencekik leher wanita berambut pirang itu hingga dia memekik tak bernapas.
"Akh ... A-p-a yang kau ... akh." jeritan Evanya semakin kerasa saat jemari kekar pria itu menahan lehernya lebih kuat.
__ADS_1
"Kau melewati batasanmu Evanya Mastaw."
"Shit." Evanya mengumpat tanpa suara. dia menelan luda kasar saat melihat tatapan pria di depannya begitu tajam dan menyeramkan.