Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 115


__ADS_3

Evanya, wanita bermata biru yang sedang terbahak-bahak melihat raut wajah kedua pria di hadapannya.


"Sedang apa kalian di sini? apa Randika menugaskan kalian untuk menjagaku? atau kah mengawasiku?"


"Kau hanya berpura-pura agar bisa bebas bukan?."


Wanita itu duduk dengan menatap Rilan yang melihat tajam ke arahnya. Bukannya takut wanita dengan rambut perak itu melipat tangannya di dada. "Bagaimana menurutmu. Apa aktingku cukup bagus? Aku bisa mengelabui kalian semua dengan sangat mulus."


"Dasar wanita licik!" Rilan berkata dengan nada penuh penekanan.


"Bisa-bisanya kau membodohi kami Evanya. Dan dari mana kau dapatkan darah sebanyak itu?"


Evanya menyeringai. "Para penjaga di sini cukup bodoh, mereka selalu tergila-gila dengan tubuhku maka dari itu--"


"Kau menukarnya dengan tubuhmu?" potong Rilan dengan cepat. "Di mana pun kau berada, kau selalu menjual tubuhmu. Dan dengan tidak tahu malunya kau berharap Randika akan kasihan padamu."


"Ayola sayang, tidak usah berlaga sok polos di depanku. Bukankah kau juga sering membayar wanita untuk mendapatkan kenikmatan."


"Aku membayar mereka untuk melayaniku, bukan sebaliknya."


Perempuan itu tertawa hambar. "Teruslah percaya diri Rilan, karena jika aku sudah mendapatkan Randika, kau orang pertama yang aku singkirkan."


"Berusahalah sedikit keras, agar kau bisa mencapai tujuanmu."


"Aku tidak akan pernah kalah dari siapa pun."


"Randika tidak akan perduli denganmu karena dia akan segerah menikah."


"What? itu tidak mungkin."


"Bisakah kalian berdiam diam! Perdebatan kalian membuat kepala ku sakit." Pria itu mendekat ke arah Evanya, berdiri tepat di depannya. "Yang di katakan Rilan itu benar, semua persiapan sudah selesai. Kau hanya akan membuang-buang waktumu saja."


Kalimat itu membungkam Evanya, sekejap dia memandang Brian dengan tatapan tidak percaya. "Tidak, itu tidak benar itu tidak benar." teriaknya terlihat putus asah.


"Apa kau akan terus menasihati wanita gila seperti dia." Rilan melangkah pergi dari ruangan itu. Terus melihat wanita itu membuat emosinya naik turun. Namun, saat melewati Brian, langkah kaki Rilan di hentikan.


"Hei, bau parfum mu seperti tidak asing."


"Sejak kapan kau mulai mencium bau tubuhku."


Brian menatap dengan tatapan aneh. "Apa kalian memakai parfum yang sama?"


Pria prancis itu tidak menjawab. Namun, dari tatapannya Brian bisa menyimpulkan kalau ucapannya benar.

__ADS_1


"Waow."


"Kau kenapa?"


"Jadi artinya kalian memakai brang couple?" Brian terkekeh melihat ekspresi Rilan. "Wah ... wah ... wah .... Kau banyak kemajuan kawan. Ternyata saudaraku memiliki andil besar di dalam hidupmu."


"Terserah kau saja Brian."


"Hei ... adik ipar, mau kemana kau? Lagi-lagi kau menghindar."


Pria itu terkekeh, lagi-lagi dia tidak peduli, lalu mengacungkan jari tengahnya. "Enyalah dirimu, Brian."


"Adik ipar?" Evanya mengulang ucapan Brian karena merasa bingung dengan panggilan itu.


"Apa kau tidak tahu, Rilan sekarang adalah adik iparku."


"Memangnya apa yang dia lakukan?'


"Dia bersama Aurela, adik sepupuku kau kenal dia bukan? Kau pernah membuat onar di kliniknya."


"What? bukankah dia menyukai wanita tidak tahu malu itu?"


Brian hanya menjawab dengan gelengan kepala, yang mana membuat Evanya lemas seketika.


Evanya semakin tersiksa jika keadaannya seperti ini. Usahanya akan sia-sia. Mata biru itu beralih menatap Brian.


"Apa? kenapa kau menatapku seperti itu. Jangan berfikir aku akan membantu kali ini Evanya, itu tidak akan terjadi."


"Memangnya apa yang kau pikirkan, aku tidak mengatakan apapun."


"Seluruh perkataanmu ada di wajahmu," ucap Brian dengan datar.


Evanya rersenyum seolah bahagia karena ada yang mengerti dirinya. Tanpa di ketahui Brian Evanya sebenarnya sedang merencanakan sesuatu. "Brian, bisakah kau memanggil suster untukku, pergelangan tanganku terasa nyilu," ucapnya dengan meringis.


"Bukankah itu tidak terluka?"


"Jika tidak terluka lalu dari mana darah-darah itu bodoh. Aaakh .... Cepat aku merasa mual."


"Kau tidak sedang membodohi ku bukan, aki tahu tanganmu tidak terluka."


"Apa kau tidak melihat ini di perban." Evanya memaksa dirinya untuk mengeluarkan makanan dari dalam perutnya, dia membuat dirinya mual dan berlaga seolah-olah sangat kesakitan.


"Evanya, apa kau baik-baik saja?" Brian semakin panik saat perempuan itu memuntahkan isi perutnya. "Tu-tunggu sebentar jangan bergerak aku akan memanggil suster yang berjaga."

__ADS_1


"Cepatlah."


"Suster ... Suster."


"Ada yang bisa saya bantu tuan?"


"Yah." Brian mengambil napas agar tidak terbata-bata saat berbicara. "Tolong, temanku merasa mual dan pergelangan tangannya sedikit sakit."


"Makasudmu wanita yang di ruang paling ujung itu?"


"Benar, tolong lihat dia."


"Tuan, wanita itu hanya berpura-pura saja. Dia bahkan tidak meioiki luka atau gejala yang lainnya."


"Dia tidak berpura-pura, dia banar-benar terluka! Tangannya bahkan di perban." Pria itu berteriak seakan kekasihnya sedang dalam bahaya.


"Aku mengatakannya yang sebenarnya tuan. Wanita iru hanya memperalatmu saja, dia tidak terluka sama sekali. Aku yang memeriksanya, aku bahkan di bayar olehnya. Dia hanya ingin kekasihnya datang untuk melihatnya."


"What?"


"Percayalah padaku tuan, dia berbohong jika sakit."


"**** .... Wanita gila."


Brian berlari kembali ke ruangan di mana Evanya di rawat. Namun, wanita pembohong itu sudah tidak ada. "Sial ... Dasar wanita gila. Aaargh."


Pria itu terlihat frustasi, dia membuang selimut dan bantal-batal untuk meluapkan emosinya. "Evanya! Beraninya kau membodohiku! Wanita Sialan."


"Dimana kau?"


"Di sekitar rumah sakit?"


"Cepatlah, jangan sampai mereka menemukanku."


"Aku sedang mengambil mobil, tunggu aku di pintu keluar"


"Memangnya dari mana kau? Aku msnguruhmu untuk tetap di posisimu."


"Aku butuh makan Evanya, apa akau ingin aku mati juga."


"Baiklah aku di depan pintu keluar." Wanita itu melihat kiri dan kanan, memastikan bahwa posisinya aman sekarang."


"Tunggu aku."

__ADS_1


"Cepatlah, dasar payah."


__ADS_2