
"Hmphh."
Pria dengan manik hitam itu menciumnya secara tiba-tiba, kali ini lebih dalam. Hingga membuat Arumi untuk susah mengatur napasnya. Randika melakukannya dengan perlahan. Namun, dia sama sekali tidak membiarkan ciumannya terlepas.
Kini bibirnya berpindah pada leher Arumi, menciumnya secara pelan hingga membuat wanita itu menggigit bibir bawahnya, menyalurkan rasa yang sama sekali tidak bisa di jelaskan. Arumi memejamkan matanya sambil mengadah karena merasakan kenikmatan.
"Ran ... i-ini di tempat terbuka."
Pria itu tidak fokus dengan apa yang di ucapkan kekasihnya. Dan kini dia semakin menurunkan ciumannya.
"Randika, jangan di sini, no!"
"Aaah ... Tu-tuan muda!" Dengan cepat kepala pelayan itu berbalik badan padahal dia baru saja akan mendekat karena berfikir keadaan sudah normal kembali.
Randika menghentikan gerakannya, lalu menatap sosok yang berdiri dari jauh dengan terkekeh.
"Oh ... maaf Claudia. Sayang, sepertinya kita lanjutkan di kamar saja."
"Apa yang kau katakan." Wanita itu cemberut, menyangkah sesuatu yang tidak-tidak. "Kita tidak boleh melakukannya sebelum menikah Randika."
"Bukankah Aku tidur di dekatmu setiap malam?"
"Hei tutup mulutmu. Dasar Robot mesum," ucap Arumi kesal. Dia menghentakan kakinya lalu berlalu meninggalkan Claudia dan Randika, menaiki tangga menuju kamarnya.
Dan bukannya khawatir, Randika malah tertawa, dia kembali melihat ke arah Claudia. "Sepertinya kekasihku sangat malu Claudia." Ia lalu mendekat menghampiri telinga bagian kiri Claudia dan berbisik. "Aku harus ke sana sekarang."
"Maître! Qu'est-ce que vous allez faire en haut?(Tuan! apa yang akan kalian lakukan di atas?)" Teriak klaudia dengan gerakan mencegah. "Mme Jenny sera très en colère contre vous Monsieur, vous devez garder vos distances." (Nyonya Jenny akan sangat marah padamu Tuan, kalian harus tetap menjaga jarak.)"
"Kalau kau khawatir, kamu bisa ikut Claudia. Aku tidak keberatan dengan keberadaanmu."
__ADS_1
"Apa?"
Randika tertawa dengan keras mendapati wajah Claudia yang terlihat salah tingkah. Wajah kepala pelayan yang biasanya datar dan lempeng kini berubah bersemu merah, dia seperti seorang perawan muda yang sedang di goda oleh pria pujaan hatinya. Bahkan Minora dan Grassy yang mengintip dari balik ruang makan pun ikut merasakan debaran Claudia.
"Dasar perawan tua, kenapa dia merona seperti sedang di goda pria. Bukankah dia tidak memiliki pasangan selama ini. hihihihi."
"Ssstt ... jangan keras-keras Minora, dia akan menghukum dirimu karena mengatakan dia perawan tua," bisik Grassy mengangkat kepalanya lalu berbelok ke kiri dan kanan memastikan tidak ada orang yang mendengarnya.
Sementara itu, Randika sudah meninggalkan Claudia yang sedang tersipu, wajah gemerlap pria itu menandakan dia berhasil mengerjai pelayannya. Kini dia menuju sosok yang baru saja membantunya melakukan yang sedikit memalukan tapi, cukup untuk bisa membuat para pelayannya tidak berani untuk menganggu kemesraan mereka.
"Sayang!"
Randika lalu mendekat ke arah kekasihnya, menangkup wajah mungil yang seluas telapak tangannya itu hingga tatapan mereka bertemu. "Apa kau marah?"
Dengan penuh rasa kesal Arumi menatapnya. "Jangan lakukan hal gila seperti tadi. Kau tahu bukan, Claudia melakukannya karena perintah kedua orang tuamu, kalau sampai dia melaporkan kejadian tadi pada Mommy dan Daddy, mereka akan mengira aku wanita tidak baik."
"Lalu kenapa kau melakukannya di depan mereka."
"Bukankah kau sendiri yang ingin mencobanya?"
"Randika!"
Pria itu tertawa, mengambil dagu Arumi, dan mengarahkan tatapan manik cokelat itu agar tetap fokus padanya.
"Jangan melakukannya lagi."
"Aku hanya sedang menjaili Claudia dan Minora tadi Sayang."
__ADS_1
"What?"
Wajah Arumi nampak sangat kaget, pasalnya dia sudah begitu terperdaya dan pria ini mengatakan hanya menjail? oh Tuhan, ingin rasanya Arumi mencakar-carak wajah tampan-nya itu hingga berubah wujud menjadi jelak.
"Kau tahu, aku suka ekspresi wajahmu saat kesal."
"Jangan membodohiku, pria selalu menyukai wajah cantik bukan wajah kesal yang buruk seperti tadi."
"Aku berbeda dengan mereka, seseorang yang menyukai penampilan di banding hati akan berakhir seperti aku dan Evanya."
"Bisakah kau tidak membahas wanita itu? kau selalu menghancurkan rasa bahagiaku."
"Hei, kau marah."
"Kita sudahi pembicaraan tentang mantan, aku tidak suka mereka hadir saat pembahasan. Entah itu tentang masa lalu atau masa depan."
"Aku tahu ada banyak alasan kau tidak menyukainya, tapi aku juga hanya memberikan contoh Sayang."
"Aku tidak membutuhkan contoh seperti itu, dia muncul seakan-akan ingin menggantikan posisiku."
Randika mengulum senyum, dia mengelus pipi kekasihnya dengan penuh kelembutan. "Kita akan bersama untuk waktu yang lama."
"Waktu yang lama ....?"
"Sangat lama."
"Sungguh?"
Randika mengangguk pelan, sedetik setelahnya mereka lalu berpelukan.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, di mana Minora dan Claudia? apa mereka masih mengawasi kita?"