Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 82


__ADS_3

Hal pertama yang di rasakan Randika adalah pegal, tidur dengan posisi Arumi yang berada pada lengannya membuat dia sesaat tidak bisa bergerak. Randika menarik napas dalam, perlahan dia menarik tangannya dari Arumi dan menggantikannya dengan bantal. Dia mencium kening Arumi sebelum beranjak keluar dari sana.


Ketika membuka pintu dia terkaget dengan dua sosok pria yang menatapnya denga datar. Pria itu terkekeh, lalu mendekat. "Ada apa dengan wajah kalian?"


Rilan menatap datar. "Apa kau menikmatinya Tuan muda Randika Garret?"


"Ya." Randika tertawa sambil berjalan pergi. "Dimana wanita itu?"


"Di ruang pengobatan," jawab Rilan mengikuti langkah Tuannya.


"Aku akan pulang, kalian membuat ku tidak bisa tidur dua hari ini."


"Itu adalah hukumanmu karena menabrak kekasihku."


"Aku menerimanya dengan senang hati," ujar Brian berlalu pergi.


***


Untuk kesekian kalianya Evanya mendapat tatapan sinis dari Randika, seakan mengisaratkan untuk cepat menghilang dari hadapannya. Sedangkan Rilan, dia hanya menatap dari ambang pintu karena enggan mendekati wanita yang dia anggap tidak waras.


Evanya menatap kedua pria yang baru masuk, dia menyeringai saat Randika sudah di depannya.


"Apa kau datang karena merindukanku?"


"Aku senang melihatmu baik-baik saja."


Evanya tersenyum, dia bergerak memaksakan diri untuk bangun.

__ADS_1


"Tetaplah di temputmu Evanya."


"Aku ingin menyambutmu dengan Normal."


"Berhenti berfikir aku masih mecintaimu dan hiduplah dalam kenyataan."


Evanya menggeleng, dia mendekat lalu menahan tangan Randika agar mendekapnya. "Aku mohon, jangan tinggalkan aku Ran, kembalilah seperti dulu."


"Hentikan semua ini Evanya!"


Randika menarik tangannya dengan keras dan mencekal tangan Evanya yang lain agar tidak kembali menyentuhnya.


"Jangan memgabaikanku Randika, aku melakukan semua ini demi bersama mu."


"Aku tidak peduli!"


"Kenapa kau lebih menginginkan wanita pungut itu dibanding diriku, apa kekuranganku hingga kau mengabaikanku seperti ini."


"Kau terus saja mengulang-ulang masa lalu, kita bisa memulai lagi dengan melupakan semua itu."


"Apa kau pikir mudah untuk melupakan penghianatanmu itu? kau pergi bersama lelaki lain dan membuat aku harus menanggung dosamu. Apa kau tahu? aku sangat menderita, aku bahkan membenci orang lain tanpa sebab. Dan kau mengatakan lupakan saja?" Randika menahan kalimatnya menatap tajam Evanya lalu bergumam.


"Kau sangat menjijikan."


Evanya tersentak kaget saat tiba-tiba Randika menarik lengannya dan menyeret wanita itu untuk mengikutinya.


"Apa yang ingin kau lakukan, lepaskan!" pinta Evanya mencoba melepaskan diri.

__ADS_1


"Kau harus menyadari di mana tempatmu sebenarnya Evanya."


"Lepaskan! Rilan tolong aku!"


Pria itu bukannya menolong malah tertawa. "Kau harus mengakui semua kesalahanmu dan mendekam di penjara Evanya," ujar Rilan.


"No, aku tidak mau, lepaskan aku!"


"Karena mu hidupku hancur."


"Tidak! itu bukan salahku."


"Bersikap baiklah Evanya kalau tidak kau akan lebih menerima kesakitan, aku sudah cukup banyak memaklumi kesalahanmu.


"Lepaskan aku!" jerit Evanya saat Randika memberikannya kepada dua orang pria.


Randika memberi isyarat agar kedua pria itu membawanya, membuat Evanya semakin meronta. Namun setiap usaha yang dia lakukan hanya sia-sia. Bahkan teriakannya tidak di pedulikan. Evanya terus saja memohon agar Randika dan Rilan melepaskannya, hingga rontaan-nya terhenti saat melihat sosok yang sangat dia benci muncul di hadapannya.


"Kau wanita perusak! dasar wanita pungut! Karena mu seluruh hidupku hancur, aku membencimu!"


Arumi menatap datar Evanya. "Seharusnya aku yang mengucapkan kata-kata itu.


.


.


.

__ADS_1


Maaf lahir dan batin yah pembacaku yang tercinta. Maaf jika ada salah-salah komentar yang menyinggung kalian 🙏🙏🥰😍🌵💜



__ADS_2