
Sejak keberangkatan Jenny dan Amirta ke prancis, mata Arumi tidak bisa terpejam. Entah sudah berapa gelas kopi yang dia minum untuk menahan rasa mengantuk. Arumi juga tidak bisa menghubungi Randika karena ponsel tunangannya itu mati. Entah itu sengaja atau batrey ponsel nya yang habis.
Satu jam ....
Dua jam ...
Tiga jam
Hingga malam berlalu, sosok pria yang di nantinya tidak kunjung tiba. Gadis itu sampai berulang kali memastikan apakah ada suara mobil yang datang atau tidak.
Lama menunggu membuat matanya mulai lelah dan terasa bsrat. Gadis berusia 23 tahun itu mulai mengantuk, dia memilih untuk memejamkan mata sebentar saja hingga suara garing Minora membangunkannya.
Manik cokelat itu membuka matanya yang sembab akibat tangisan. Arumi bangkit dan menatap pelayan pribadinya itu dengan mata setengah terpejam. " Ada apa."
"Kenapa anda tidur di sini? Jika ada yang keluar masuk di sini mereka akan mendapatkan pemandangan gratis yang indah."
"Apa maksudmu."
"Lihat gaun mu Nona."
Arumi memekik kaget. Dia lupa kalau gaun yang dia gunakan memiliki belahan bawah yang cukup tinggi. "Jam berapa sekarang."
"Jam 6 pagi Nona," jawab Minora cepat.
"Apa Randika sudah kembali?"
__ADS_1
"Tidak Nona, Tuan muda belum kembali dari semalam."
Arumi menarik napas dalam, dia kembali menyandarkan kepalanya di punggung sofa. Tidur menjelang pagi membuat kepalanya terasa pusing hingga membuat tubuhnya sedikit lemas.
"Maaf, bisa bawakan aku segelas air putih dan obat pereda sakit kepala?"
"Tentu saja Nona."
Pemilik manik cokelat itu segera meminum obatnya setelah Minora kembali. Dia tidak ingin tubuhnya ikut sakit di saat hatinya juga sedang sakit. "Aku akan mandi."
"Apa harus aku siapkan sarapan untuk mu Nona?"
"Tidak perlu mino, aku akan tidur sebentar sebelum mandi," ucapnya dengan suara pelan.
"Arumi menarik napasnya dalam. Sebelum menaiki tangga, dia menggelang pelan, memberi isyarat kepada Minora untuk tidak melakukannya.
Minora yang paham dengan maksud Tuan nya segera diam. Gadis kecil itu menunduk lalu pergi melanjutkan tugasnya.
•
•
•
Randika tidak fokus menyetir. Dia mengaktifkan ponselnya yang sengaja di matikan Evanya saat membawanya pergi dari mini bar milik Brian. Entah bagaimana cara Evanya membawanya hingga dia bisa terbangun di Apartemen miliknya gadis berambut pirang itu.
__ADS_1
Keningnya berkerut saaf membuka kotak pesan di ponselnya. Ada beberapa pesan dari nomor tidak di kenal, dan itu semua adalah pesan dari Arumi. Gadia itu mungkin menghubunginya dengan menggunakan ponsel petugas kebersihan yang kebetulan lewat saat dia sedang menunggu.
Semua isi pesannya sama, yaitu menanyakan di mana dia berada. "Gadis bodoh. Seharusnya kau menghubungi taksi dan kembali ke Mansion. Kenapa kau menunggu dengan gaun terbuka selarut itu di taman."
Sedetik setelah membaca ponselnya kembali berdering dengan nomor yang tidak di kenal lainnya. "Hallo."
"Sayang, kau sudah sampai?"
Tubuh Randika menegang, dia mengenali suara itu. Pria bermanik hitam itu kembali melihat ponselnya memastikan bahwa dia tidak salah mengenali suara.
"Evanya?"
"Kau ingin makan malam apa Sayang?"
Randika menelan luda kasar sebelum berkata. "Jangan menungguku Evanya, aku perlu menjelaskan semua yang terjadi kepada Arumi."
"Kapan kau kembali."
"Evanya Please."
"Aku akan menuggumu."
"Aku tidak akan kembali," ucapnya langsung menutup sambungan telepon. Semakin lama dia melayani Evanya, semakin membuatnya kehilangan kewarasan.
"Ya Tuhan, apa yang sudah ku lakukan."
__ADS_1