
Meninggalkan keramaian pada Ballroom hotel, Randika dan Arumi memilih untuk lebih dulu beristirahat. Perempuan itu kelelahan karena lama berdansa bergantian dengan 3 pria. Randika, lalu Amirta, kemudian saudara laki-laki semata wayangnya, Mr Cool, Rilan Harrper. Dan Brian, dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk berdansa dengan Arumi, karena sibuk menenangkan Aurela yang sedang merajuk.
Randika menggendong Istri tercintanya ala-ala bridal. ( Biar kaya pengantin yang lain gengs 😆.)
Arumi menyembunyikan kepalanya di dada Randika karena malu, beberapa orang yang berada di lobi memperhatikan keduanya karena Arumi yang masih memakai gaun pengantin.
"Sayang, turunkan aku. Banyak orang di sini."
"Memangnya kenapa kalau banyak orang."
"Aku malu," bisik Arumi.
"Tidak perlu malu, kita sudah sah."
"Tetap saja, ini memalukan Randika." Arumi sedikit meronta agar Randika mau menurunkannya.
"Diamlah, orang akan mengira aku membawamu lari dari pernikahan."
Arumi terkekeh, dia melingkarkan tangannya semakin kuat menyembunyikan kembali kepalanya pada ceruk leher suaminya. "Dasar robot."
Saat sampai di depan kamar, Arumi di buat terkaget karena ternyata Rilan sudah menunggu di sana dengan beberapa boddyguard.
"Kak Rilan?" sapa Arumi yang masih di gendong Randika, dia memukul lengan suaminya agar menurunkannya.
"Apa kau tidak bisa berjalan Rumi? Kenapa dia--"
Rilan tidak melanjutkan kalimatnya karena di tatap dengan tajam oleh Randika. Arumi yang melihat itu memutar kedua bola matanya malas. "Dasar Pria kaku, ini di sebut gendongan ala bridal. Semua pengantin melakukan ini kak, apa kau tidak tahu?"
"Tidak."
Jawaban Rilan membuat Randika ingin sekali memakannya. Apalagi, gelengan kepala dari pria prancis itu seperti robot yang sedang mengikuti instruksi majikannya. Kaku tanpa ekspresi. "Kau seharusnya menjadi robot, bukan aku. Kau terlalu kaku soal percintaan."
"Tapi aku ahli di atas ranjang."
__ADS_1
Mata Arumi membulat dengan tawa yang hampir pecah. Namun, dia menahannya umtuk menghindari perdebatan dengan sang suami.
"Tapi kau belum menikah bukan?"
"Tetap saja, aku ahlinya soal bercinta."
"Tutup mulutmu dan pergilah dari sini da--"
Randika berhenti, dia menatap 4 penjaga yang berada di belakang Rilan, mereka menertawakan kedua pria yang sedang membahas soal kekuatan bermain di atas ranjang hingga mengabaikan gadis cantik yang berdiri dengan eksepresi datar di sana. "Apa yang kalian tertawakan, huh?"
"Maaf Tuan, tapi Nyonya menunggumu."
Randika juga Rilan yang tersadar serentak, keduanya saling menatap lalu menoleh ke arah Arumi.
"Sayang!"
"Buka pintunya sekarang!"
Rilan yang memegang kartu kamar sampai kaget, mendengar hentakan suara Arumi. Dia bahkan berulang kali salah menempelkan kartu pada skan barkode pintu.
Rilan akhirnya menyerahkan kartu itu kepada Arumi. "Ma-maaf," jawabnya sambil menunduk.
"Ini semua gara-gara kau dia jadi marah," bisik Randika menyenggol lengan sahabatnya.
"Kenapa aku," jawab Rilan juga dengan berbisik. Pria dengan manik mata cokelat itu berlalu pergi membawa para pengawal menghindar dari amukan adiknya.
•••••
"Sayang!"
"Apa?"
"Bagaimana kalau kita mandi."
__ADS_1
"Aku tidak mau, aku ingin langsung tidur saja."
"Tapi Sayang, bukankah malam ini malam pertama kita."
Arumi terdiam, dia masih terlihat kesal dengan tingkah suami juga kakaknya yang seperti anak kecil.
"Kau harus membuka gaunmu sebelum tidur Sayang."
Arumi tetap terdiam, membuat Randika terkekeh lalu memeluknya. Hal itu Randika jadikan kesempatan untuk membuka resleting gaun pengantin Arumi di bagian belakang hingga terlihat jelas punggung mulus istrinya.
"Oh astaga, Sayang!" Arumi menjerit spontan saat tangan Randika mulai menjalar di sana.
"Buka gaunnya."
"No!"
"Ayo mandi bersama."
"Apa?"
Tanpa bicara Randika membawa Arumi ke kamar mandi, wajah Arumi bahkan memerah, dia di turunkan di atas buthup. "Ayo buka gaun mu, aku akan membantu."
"Biar aku saja," ucap Arumi memeluk dirinya sendiri. Dia menunduk malu saat Randika menatapnya.
"Apa kau malu?"
Arumi terdiam, dia terlihat tegang. Entah mengapa dia takut melakukannya sekarang. Apalagi, ini di kamar mandi.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Ti-tidak."
Randika tertawa. "Sayang, kita tidak akan melakukannya di sini. Kita hanya akan mandi."
__ADS_1
Aaaa si abng robot. Ih bikin orang salah paham. Di kiranya malam pertama akan berlangsung di kamar mandi wkwkwkwkkwkw