
Setelah ditinggal keluar oleh Randika. Arumi kembali menatap kosong termenung dengan tubuhnya yang masih berbalut selimut tebal. Selama dia hidup, ini adalah kejadian tergila yang pernah dia alami. Menerima perjodohan dengan saudara angkatnya sendiri, kemudian sekarang, dia malah terbangun dengan keadaan tidak berpakaian dengan seorang pria yang tertidur di sampingnya.
Gadis keras kepala yang biasanya ceria kini mendesah seakan lelah dengan keadaan. Dia mengusap pipinya menghapus air mata yang terus turun. "Aku membencimu."
Lama menangis di bawah selimut membuat Arumi gerah dan memutuskan untuk mandi. Dia beranjak dari tempat tidur yang entah milik siapa, berjalan tertatih menuju kamar mandi. Gadis itu duduk membiarkan tangisannya semakin pecah hingga tidak ada yang tersimpan.
"Maafkan aku Ibu, Ayah. Aku tidak bisa menjaga kehormatanku."
Arumi memandangi tubuhnya pada cermin besar yang berada di kamar mandi, menelisik sekujur tubuhnya yang nyaris sempurna itu. Dia memiliki Lingkar dada yang pas, bulu mata lentik dengam hidung yang pas dengan bentuk wajahnya.
"Kenapa kau lakukan ini padaku."
Gadis itu menyingkirkan semua benda yang ad di depannya. Menangis kembali di bawah guyuran shower. Arumi mencoba melupakan apa yang terjadi semalam. Lebih dari sekali gadis itu mandi untuk menghilangkan jejak Randika pada tubuhnya. Dia membersihkan seluruh tubuhnya hingga ke sela-sela hingga tidak ada jejak yang tertinggal.
"Ini lebih baik."
Setelah selesai dengan urusan kamar mandi, Arumi pun keluar menuju pantri dengan bathrobes yang melekat pada tubuhnya.
"Kau tidak mengajakku sarapan?"
Randika tersendat, menatap kaget pada gadis yang tiba-tiba bersuara di sampingnya. Dan yang lebih mengagetkan lagi Arumi turun dengan menggunakan bathrobes. "Shit, apa sedang memancingku."
Mengerti dengan tatapan pria di depannya Arumi memasang wajah datar dan berkata.
"Aku tahu, ini tidak sopan, tapi bajuku sudah kau rusak bukan. Jadi apa yang harus aku gunakan selain Bathrobes ini."
__ADS_1
"Apa kau gila, untuk apa aku merobek bajumu."
Gadis itu tidak menjawab, dia hanya mencibir dan menatap tajam ke arah Randika.
"Berhenti menatapku seperti itu."
"Aku lapar," ucap Arumi pelan
"Kau bisa makan nanti kalau sudah di rumah," ujar Randika santai sambil menghabiskan sisa sarapannya.
"Tapi aku ingin sekarang!"
"Jangan membantah."
"Tidak! Aku ingin makan."
"Jangan meneriaki ku, kau terlihat semakin menjijikan."
"Terserah apa yang ingin kau katakan. Tapi kembali ke kamar sekarang juga.
"Aku butuh baju."
"Rilan akan datang membawakannya, setelah itu kita akan kembali ke Mansion. Dan kamu bisa sarapan di sana."
"Dasar Pria jahat."
__ADS_1
"What! Penjahat? Kau si penjahat itu. Bisa-bisanya gadis polos sepertimu melukaiku seperti ini."
"Itu pantas kau dapatkan."
Randika kembali tergelak, melihat tajam pada Arumi memberitahukan lewat mata hitam pekatnya bahwa dia tidak melakukan apa-apa malam itu. Randika lalu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
'Bawakan pakaian yang bersih, kita harus kembali ke mansion pagi ini.'
'Baik Tuan.'
Setengah jam kemudian Rilan pun tiba dengan dua papper bag besar dan memberikannya kepada Randika.
"Apa dia baik-baik saja."
"Hmmm," gumam Randika pelan.
"Hanya bergumam? Huh, dia selalu seenaknya menjawab orang. Semoga Rumi baik-baik saja, kalau sampai sesuatu terjadi padanya, kalian berdua akan ku habisi," batinnya.
"Tidak ada yang terjadi, dia baik-baik saja," ucap Randika seakan tahu apa yang dipikirkan Rilan.
Sial, apa dia mendengar kata batinku.
"Baik Tuan. Titipkan salamku untuk Arumi."
"Apa antara pantri dan kamar jaraknya hingga ke Afrika, kenapa harus ada adegan titip salam."
__ADS_1
"Sedekat itukah mereka?" batin Randika penasaran