Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 111.


__ADS_3

"Maaf mengganggu," ucap Rilan dengan nada datar dan wajah datarnya.


Arumi yang kaget dengan kedatangan Rilan segera merapikan diri dan menunduk malu.


"Dasar sinting, dia bahkan tidak bisa membedakan di mana tempat seharusnya melakukan hal seperti itu," gumam Rilan di dalam hati.


Kenyataannya Rilan mengetahui Randika memang sering berhubungan dengan banyak wanita di luar sana sebelum bersama Arumi, dia bahkan tidak canggung melakukan hal seperti tadi di depan banyak orang termasuk di depan Rilan. Pria itu pun tidak peduli dengan kelakuan sahabat sekaligus majikannya itu. Namun, itu berlaku untuk wanita lain, tidak untuk Arumi.


Arumi adalah wanita baik-baik yang harus di perlakukan dengan baik pula, dan ini bukan tentang rasa cemburu atau iri melihat kemesraan pasangan itu, tetapi Rilan hanya ingin Randika memperlakukan Arumi dengan sangat baik.


"Tuan mencariku?"


"Kau terlambat tuan Harperr." Randika memberikan kecupan pada puncak kepala kekasihnya dan berlalu pergi menuju ruangan kebesarannya.


"Maaf, aku lupa mengaktifkan ponselku," ucapnya melirik sejenak ke arah Arumi.


Arumi yang menyadari tatapan Rilan mengerutkan kening karena bingung. "Ada apa dengannya, apa dia marah? tatapannya sedikit membuatku merinding." gumam Arumi pelan.

__ADS_1


Arumi mengikuti langka kedua pria itu menuju ruangan di mana biasanya mereka membahas hal-hal penting. Ketika sampai di sana, matanya hampir tidak bisa berkedip.


Ruangan ini di penuhi dengan buku-buku yang tersusun sangat rapi. Ada beberapa penghargaan yang berdiri kokoh pada rak yang di tutupi kaca tembus pandang. Begitu banyak samlai wanita dengan manik cokelat itu malas untuk menghitungnya.


Matanya tidak berhenti di disitu saja, kini matanya menjelajahi setiap sudut ruangan yang di dominasi dengan warna putih itu. Ada beberapa lukisan indah yang menempel pada dinding ruangan. Arumi masih dalam suasana yang bisa di katakan norak atau udik, Pasalnya hampir 4 tahun menjadi penghuni Mansion, ini adalah kali pertama dia memasuki ruang kerja milik Randika. Benar-benar mencengangkan.


"Apa ada tugas yang harus aku kerjakan tuan?"


"Cutimu masih beberapa hari lagi Rilan, kau masih berstatus sahabatku saat ini. Jadi ubah cara mu memanggilku."


"Aku lebih nyaman seperti ini tuan."


"Bien, Tuan."


Kini tatapan Randika beralih pada wanita yang sangat dia cintai itu. " Sayang ... bisakah kau menjelaskannya sedikit untuk Rilan."


"Aku?" Wanita itu menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi bingung.

__ADS_1


"Tentu saja Sayang. Katakan, kau ingin pernikahan seperti apa."


Hal pertama yang melintas di pikiran Arumi adalah gaun. "Aku menginginkan gaun yang sederhana tapi terlihat elegan."


"Itu saja?" tanya Rilan saat keheningan menguasai.


"Ah ... aku ingin buket bunga yang aku pegang nanti adalah asli. Bisakah kau menyiapkan seikat bunga Daisy untuk ku nanti?"


"Bukankah kau menyukai bunga lili?"


Kedua pria itu berkata secara bersamaan, dimana membuat Arumi geli mendengarnya. Dia terkekeh melihat raut wajah kedua pria yang sangat berarti dalam hidupnya itu saat menyadari kalimat yang di ucapkan sama.


"Bunga lili, memang mendeskripsikan bagaimana diriku yang sebenarnya, maka dari itu aku menyukainya. Tetapi Bunga Daisy adalah bunga yang melambangkan kesetiaan dan kepercayaan. Itu sangat cocok untuk pasanganku."


Sontak Rilan tertawa mendengar arti dari bunga Daisy, membuat Randika berdehem karena salah tingkah. Wanita memang selalu mengingat segala hal yang menyakitkan, padahal banyak hal manis yang sudah terjadi. Tetapi lagi-lagi, segala hal yang mereka ucapakan tidak lari dari kata sindiran untuk hal-hal buruk yang telah di lakukan pasangannya di masa lampau.


"Itu adalah pilihan yang tepat Rumi, aku setuju."

__ADS_1


Mata Arumi berbinar saat melihat Rilan mengucapkan kalimat itu dengan tersenyum. Seperti kata peribahasa '


Esa hilang dua terbilang. Yang artinya. Berusaha dengan keras hingga tujuan tercapai.'


__ADS_2