Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 102


__ADS_3

Hening, tak ada jawaban dari Arumi yang sedang kesal. Randika yang sudsh sangat mengantuk dan lelah pun harus kembali mencari cara agar bisa menghibur wanita.


"Kau sudah makan?"


"Kenapa kau menanyakan hal lain, kita sedang membahas tentang kak Rilan."


"Aku hanya sedang mengkhawatirkan mu Sayang."


"Pergilah! Aku tidak ingin bicara denganmu." Mata cokelat itu beralih menatapnya dengan tajam. "Ini semua karena kebodohanmu itu."


"Aku melakukan hal yang benar. Lihatlah, sekarang Rilan bahkan sudah bersama Aurela."


"Tapi tidak dengan ku!"


"Sayang, Jangan egois. Rilan berhak menjalani kehidupan normalnya. Dia akan tetap ."


"No! Dia mengatakan hal-hal buruk padaku. Dia bahkan mengganti panggilanku."


"Itu hanya basi basi karena dia masih merasa canggung, jangan mengambil hati."


"Tidak! Dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh."


"Apa kau melihat wajahnya."


Arumi memincingkan mata, dia bersedekap dada. "Kami berbicara lewat telepon Randika bukan saling berhadapan."


"Maka dari itu kau tidak tahu bagaimana kacaunya dia saat mengatakan hal buruk padamu. Aku yakin ini hanya masalah waktu. Dia akan memperbaiki moodnya dan kembali seperti biasa."


"Entahla."


"Tenanglah, dia akan datang dan meminta maaf padamu. Sekarang yang terpenting, semua sudah terungkap dan kita tetap bersama."


"Apa itu tidak terdengar menyakitkan untuk kakak ku Tuan Garret.

__ADS_1


"Yah, ku rasa begitu. Tapi ini lebih baik."


"Dia akan sangat membenciku."


"Kau berfikir terlalu berat Sayang."


"Aku tidak ingin dia membenciku." Gadis itu kembali terisak


"Ya Tuhan Arumi hentikaan semua ini. Rilan akan tetap menjadi Rilan, jika aku tidak melakukannya sekarang, maka di kemudian hari jika itu terungkap aku tidak tahu apakah kita masih tetap bersama atau tidak."


"Tapi ...."


"Dia kakak yang baik, kasih sayangnya tidak akan berubah padamu. Percayalah sesegara mungkin dia akan menghampirimu. Kita harus memberinya waktu untuk menenangkan diri "


"Entahlah."


"Jika dia tidak datang maka aku yang akan menghampirinya, dan membawanya kembali. Aku berjanji."


Suara pintu terbuka terpaksa mengalihkan pandangan keduanya. "Tidak perlu, aku di sini."


"Bukankah ini semua karena ide cemerlangmu itu."


"Est-ce que tu manipules la situation maintenant? (Apa sekarang kau sedang memanipulasi keadaan?)"


Rilan menyeringai. "Memanipulasi? bukankah kau yang memaksaku untuk mengatakannya."


Arumi yang tidak tahan dengan keangkuhan Rilan spontan berteriak dengan keras.


"Kak Rilan!" Mata Arumi menatap dengan nyalang.


"Jika kedatanganmu hanya untuk beradu argumen, lebih baik kau kembali."


"Baiklah selamat malam."

__ADS_1


Apa?" Randika berbalik. "Rilan!"


Sesuai keinginan, Rilan pun meninggalkan Mansion tanpa peduli dengan teriakan Randika dan tatapan kekecewaan Arumi. Pria itu berjalan tanpa menoleh sedikitpun.


Mata Arumi berpaling melihat kepergiaan Rilan, hanya terhitung detik. Namun, mampu membuat hatinya hancurkan berkeping-keping.


Belum pernah sekalipun Rilan menjawab dengan begitu lantang padanya. Bahkan pria itu datang dan pergi begitu saja. Padahal ungkapan itu keluar karena ia yang terlalu kesal. Dia benar-benar dingin. Beruntungnya Aurela, dia bisa memiliki hati pria dingin itu. Memikirkannya saja membuat wanita yang memiliki rambut panjang itu mendapatkan kesedihan dan kekecewaan.


Kesedihan dan kekecewaan yang Arumi rasakan, bukanlah karena tidak bisa memiliki hati pria yang memiliki warna manik yang sama dengannya itu, melainkan karena kini, dia harus belajar untuk bisa merelakan orang yang begitu dia sayang selayaknya saudara kandung berubah menjadi seorang pelayan setia keluarga Garret.


Arumi tetap melihat ke arah pintu yang baru saja di lewat Rilan, mulutnya terkatup seakan tidak kuasa menahan hasrat. "Apa dia akan tetap menjadi Rilan yang aku kenal?"


"Sayang."


"Aaaah."


Arumi menjerit ketakutan yang segera di redam oleh pelukan Randika, pria berambut hitam itu lalu membawa kekasihnya menuju pembaringan. Kejadian dua hari ini benar-benar membuat Arumi tersakiti, dan semua itu adalah ulahnya sendiri.


"Maafkan aku, karena keegoisanku kau menjadi seperti ini."


"Pergilah, aku ingin sendiri."


Pria bermanik hitam itu menggeleng. "Aku akan menemanimu, tidurlah."


"Aku merindukan kedua orang tuaku," ujarnya dengan tangisan yang meledak. Arumi tersakiti, hatinya hancur berkeping hingga membuat Air matanya mengalir semakin deras.


"Kau ingin aku menemanimu besok?"


Arumi mengangguk dengan air mata yang mengalir membasahi pipi. Dengan bibir yang bergetar Arumi menjawab. "Oui. (ya.)"


"Tidurlah, semua akan kembali normal, aku janji."


Wanita itu tersenyum tipis, menyambut ciuman lembut di puncak kepalanya. "Apa kau ingin menemani ku tidur?"

__ADS_1


"Hmmm, tidurlah. Aku akan tetap di sini, di sampingmu," ujarnya sambil mengelus-elus rambut kekasihnya.


__ADS_2