
Seharusnya Malam ini Evanya sedang bahagia bersama Randika, melewati setiap detik dengan belaian lembut dari kekasih hatinya. Namun kini berbanding terbalik, Evanya terbaring lemah pada lantai apartemennya. Darah segar terus mengalir dari tangannya akibat tembakan tadi.
"Aakh ...."
Evanya meringis kesakitan, kesadarannya semakin melemah karena darah yang keluar cukup banyak. Dia berjalan tertatih mencari ponsel yang dia buang saat sebelum mandi. Wanita yang kesakitan itu menarik napas dalam saat menemukan ponselnya, kembali dia menarik napas lalu fokus menekan beberapa tombol dan melakukan panggilan untuk seseorang.
Tutt ...
tutt ...
tutt ....
Seseorang di sana berkerut saat melihat nama pada layar ponselnya. "Akhirnya kau mencariku, ada apa?"
"Ba-bantu a-aku ...."
"Ada apa dengan suaramu, apa kau baik-baik saja?"
"Damian ...." Evanya mengatur napas agar bisa berbicara dengan lancar. "To-tolong aku, aku sekarat."
'Kau baik-baik saja? Hallo Evanya!'
"Cepat datang dan bantu aku bodoh, apa kau tidak mendengarnya."
__ADS_1
'Evanya! Hallo ... Evanya apa kau mendengarku?'
Wanita itu mengerang kesal bercampur kesakitan. "Dasar bodoh, kau selalu tidak bisa di andalkan."
Evanya menyandarkan tubuhnya di atas ranjang, kini kepalanya makin terasa pusing dan kesadaran yang mulai menghilang. Namun, entah siapa yang harus dia hubungi untuk menolongnya. Damian yang dia pikir bisa di andalkan malah terlihat begitu bodoh.
"Shit, dasar pria bodoh. Jika saja aku tidak punya tujuan, tidak akan pernah untuk mendekatimu."
Seperti sebelumnya Damian memang tidak bisa berbuat apa-apa untuknya. Namun seolah ini adalah takdir seseorang terdengar membunyikan bel sambil mengedor-ngedor pintu apartemennya.
"Apa Randika kembali?"
Bugh
"Arrghh sial, itu sakit sekali akh ...."
Evanya Manarik napas dalam, dia menarik jaket dan menutup tubuhnya. Saat pintu terbuka, mata Evanya langsung berbinar dan kesadarannya pun hilang tubuhnya jatuh dan menabrak pria di depannya.
*
*
*
__ADS_1
*
Rilan lebih banyak diam, dia merasakan Randika yang sangat berbeda dari biasanya. Kini pria dengan manik hitam itu lebih banyak melamun dan bicara seperlunya saja.
"Aku akan keluar sebentar, apa ada yang ingin kau pesan Rumi?"
"Non, merci."
Kini tatan Rilan beralih pada pria yang terdiam dengan wajah datar itu. Dia ingin bertanya namun melihat wajah datar Randika membuat pria pemilik manik cokelat itu mengurungkan niatnya. Sebelum pergi Rilan kembali menatap Arumi. "Jika kau membutuhkan sesuatu beritahu Randika."
Arumi terdiam sejenak, dan raut wajahnya dapat terbaca oleh Randika. "Kau bisa mengusirku dari sini jika kau mau Rumi."
"Aku tidak mengatakan apa pun?"
"Seluruh perkataanmu ada pada wajahmu?" ucap Randika masih dengan wajah datar.
"Aku ingin berbaring."
"Tidak apa-apa, kau memang butuh istirahat."
Arumi terdiam, dia termenung memikirkan apa yang harus di katakannya. Tentu saja dia ingin menyindir sampai semua perkataannya menembus jantung dan membuat pria di depannya berhenti bernapas.
Yah mungkin itu terdengar menyakitkan, tapi sepadan dengan apa yang dia lakukan untuk Arumi. Benarkan Riders ku tercinta? wkwkwkwkwk.
__ADS_1
Holla Gays, aku mau tolong nih. Jangan nimbun bab yah. π₯Ίπ statistik ku turun drastis, hancurrrrr hatiku tauuggg. Padahal aku mengurangi waktu tidurku untuk kalian, please hargai aku yah jangan nimbun bab. Beri vote dan like kalian serta komentar yah. Dukung karya aku, biar aku tetap rajin up