Aku Candumu

Aku Candumu
Ch23


__ADS_3

Randika bangun cukup pagi hari ini, dia memang sengaja melakukannya karena ingin melihat gadis itu melakukan tugas pertamanya. Namun, sudah beberapa menit berlalu Arumi belum juga muncul. Padahal biasanya gadis itu akan nangkring bersama para pelayan di dapur, dengan kebiasaannya yang selalu memperhatikan apa saja yang mereka lakukan.


"Apa dia lupa dengan tugasnya?"


Randika memutuskan untuk membangunkan wanita itu. Namun baru saja hendak menaiki tangga, seorang pelayan menghampirinya.


"Bonjour Monsieur, avez-vous besoin de quelque chose ?"


"Ah kebetulan kau di sini, Bangunkan Arumi untukku Claudia."


"Désolé jeune maître. Nona, sudah pergi dari satu jam yang lalu."


"Apa?"


Randika begitu kaget, tenyata Nona pembangkang itu sudah bangun dan pergi tanpa seijinnnya.


"Kemana dia sepagi ini?"


"Hari ini adalah peringatan tiga Tahun meninggalnya orang tua Nona,Tuan. Dia mengatakan akan ke bukit."


"Apa kau bilang, lalu kenapa tidak ada yang mengingatkanku?"


"Désolé jeune maître, aku pikir anda sudah tahu." Claudia membungkuk, dia tidak kejujurannya membuat dia di marahi.


Randika menarik napas dalam, dia benar-benar lupa kalau hari ini adalah peringatan meninggalkan orang tua Arumi. Dengan cepat dia berbalik menuju kamar untuk mengganti pakaian dan kembali keluar menuju garasi dimana Mustang hitamnya berada. Namun, ketika akan masuk ke mobil, tiba-tiba dia teringat sesuatu, dengan cepat dia berlari masuk ke dalam mansion dan menuju dapur.


"Clau!"

__ADS_1


"Oui Monsieur." Claudia berlari untuk mendekat.


"Apa Mom dan Dady juga ikut?"


"Non monsieur, Madame Jenny dan Monsieur Amir berangkat ke Turki pagi tadi," jawab Claudia cepat.


"What ...? Kenapa semua orang pergi tanpa memberitahuku!"


Pria itu mentap kesal hingga membuat Claudia bergidik. "Désolé monsieur, aku pikir anda sudah tahu."


"Claudia, seharusnya kau membangunkanku."


"Maaf Monsieur."


"Apa biasanya Dia akan pergi sendiri? maksudku Arumi."


"Rilan? kenapa aku tidak pernah tahu."


"Apa anda tidak akan menyusul Nona Arumi?" tanya Claudia saat melihat arah Randika bukannya keluar malah menaiki tangga.


"Tentu saja tidak, untuk apa aku kesana jika sudah ada Rilan," ujarnya kesal.


"Apa aku harus menyiapka sarapn untukmu?"


"Aku hanya ingin segelas kopi Clau."


"Oui Monsieur."

__ADS_1


*


*


*


*


Arumi terdiam menatap makam kedua orang tuanya, banyak yang ingin dia utarakan sekarang. Namun, hatinya berat untuk mengungkapkan, karena tentu saja yang ingin dia ceritakan adalah kesedihannya.


Gadis itu mengambil bunga yang sudah dia siapkan sebelum datang, menaburnya menutupi nisan. Setelah selesai menaburnya Arumi duduk bersimpuh, membelainya lembut nisan kedua orang tuanya dan menunduk dengan tangisan di sana.


"Apa kalian bahagia di sana? Maaf, aku baru bisa berkunjung karena banyak hal yang terjadi akhir-akgir ini. Apa kalian tahu, anak cantik ini sudah bertunangan. Malian pasti kenal siapa pria itu, dia adalah Pria Robot yang menyebalkan."


Perempuan itu memberikan kecupan pada tumpukan tanah itu sebelum menyeka air mata yang sudah membanjiri pipinya.


"Ayah tahu, dia pria yang sangat jahat. Dia sering mengacuhkanku, kadang membentakku, dia tidak suka aku mengganggunya. Dia bahkan sering menyuruh orang lain untuk menemaniku padahal yang aku inginkan adalah bersamanya. Dan ...." Ucapan Arumi terpotong karena sedikit malu untuk mengatakannya.


"Dan dia menciumku." Dia berkata dengan sangat pelan karena takut orang lain akan mendengarnya.


"Tapi ... akhir-akhir ini dia cukup aneh, dia terlihat baik, tidak berbicara kasar, dan selalu menggodaku. Ibu tahu ... dia sangat sangat tampan," ucapnya dengan wajah berseri-seri.


Arumi kembali mengingat semua perlakuan Randika padanya beberapa hari ini lalu tersenyum. Gadis berbaju hitam itu tersipu malu karena banyak kejadian tidak terduga yang membuat dirinya seakan menjadi kekasih Randika yang sebenarnya.


"Ah benar ... Tante Jenny dan Om Amir juga menitipkan salam rindu untuk kalian, mereka tidak bisa menemani kali ini karena harus secepatnya kembali ke Turki. Kak Rilan ju-- ...."


Ucapannya terhenti, saat sekejap dia merasa seperti ada yang sedang memperhatikannya. Arumi lalu membalikan badan untuk melihat apakah benar atau hanya perasaannya saja. Namun, saat berbalik.

__ADS_1


"Aaaaaa ...."


__ADS_2