
"Kau menyukai bukit?"
"Tidak."
"Lalu kenapa Kau memilih bukit sebagai tempatmu melepas Rindu?"
"Biar aku selalu ingat, seberapa benci aku terhadapnya."
Arumi menghapus air matanya yang jatuh. Kehilangan kedua orang tua membuatnya hampa, tidak ada lagi seseorang yang akan meneriakinya ketika telat bangun, tidak ada lagi pria tampan yang selalu membela saat omelan ibu menggema. Mereka pergi begitu saja tanpa berkata apapun.
"Jangan menatap ku seperti itu Brian."
"Owh, kau melihatnya," ujarnya terkekeh.
"Apa kau punya kekasih?"
"Semua wanita yang mendekati ku hanya menginginkan kekayaan. Dan kau tahu bukan, aku tidak se-kaya kekasih mu."
"Bolehkah aku mencium mu?
Uhuk ... uhuk ....
Mendadak Pria yang sedang menatap matahari terbenam itu terbatuk, mendapati tenggorokan-nya tersumbat seperti sedang tercekik.
"Apa kau sedang menggodaku?"
Arumi tertawa dengan keras. Wajah Brian saat kaget sangat menggemaskan. "Ternya kau sangat mudah di jaili." Arumi kembali tertawa, dia tidak peduli dengan beberapa mata yang sedang memperhatikan mereka dari tadi. Wanita itu terus tertawa hingga bulir bening mucul di hujung matanya.
"Arumi, kau baik-baik saja?"
"Aku ke sini untuk menceritakan kesedihkanku, dan kau merubahnya menjadi cerita bahagia yang baru. Kau pria yang sangat manis."
"Wanita aneh."
Arumi tertawa kecil, manik cokelat itu lalu kembali menatap matahari yang sudah mulai masuk di persembunyiannya.
"Apa kau sering melakukan nya pada orang lain saat kau bosan."
"Apanya?"
__ADS_1
"Menggoda mereka seperti tadi."
"Tidak, hanya kepada kak Rilan."
"Beruntungnya kau Rilan. Rilan? " Brian membatin dengan memberikan tatapan aneh kepada Arumi dia seperti mengingat sesuatu tentang Rilan.
"Oh shittt."
Pria itu buru-buru merogoh sakunya celananya di mana ponsel miliknya dia simpan, lalu menekan beberapa tombol dan melakukan panggilan.
"Ada apa?" tanya Arumi saat melihat ekspresi Brian yang panik.
"Aku lupa menghubungi Rilan."
"What? Ini sudah berjam-jam Brian, dia akan cemas."
"Diamlah."
****
'Hallo'
'Maaf, aku sudah menghubungi nomormu dari tapi tapi terdengar sibuk.'
'Jangan membodohi ku. Katakan di mana Arumi, kau tidak melakukan apapun padanya bukan?'
'Aku pria normal Rilan, jelas saja ada yang terjadi.'
Rahang Rilan mengeras di sana. 'Aku akan membunuhmu jika sesuatu terjadi padanya.'
'Hei santai, aku hanya bercanda.'
'Jangan banyak bicara dan cepat kembali. Randika sedang marah besar. Dia menyuruhku mencari Arumi di semua perpustakaan yang ada di quebec."
Brian tertawa keras mendengar ocehan Rilan. 'Dia menjadi gila saat kekasihnya menghilang, tapi masih saja melakukan hal bodoh."
"Tutup mulutmu, ini semua karena ulahmu, jika kau tidak membatu Evanya, kita tidak perlu melakukan hal gila seperti ini. Bawa Arumi kembali ke Mansion secepatnya, sebelum Randika kembali dari kantor. Jika dia tahu apa yang kita lakukan, semua rencana kita akan gagal.'
'Tapi Arumi masih mau di sini.'
__ADS_1
'Di mana kalian.'
'Bukit Gros morne."
'What? apa kau gila! itu sangat jauh, kenapa kau membawanya ke sana tanpa seijinku!!'
'Bukan yang asli, ini palsu.' Brian memijat dahi saat mengatakan itu. Menjadi Rilan memang sangat sulit, pria dingin itu tidak bisa di ajak bercanda.
'Palsu? apa maksudmu De la Reine.'
'Yah.'
'Kembali sekarang! ini sudah gelap.'
'Okey.'
Brian mengakhiri panggilannya dan memberi syarat pada Arumi untuk segera kembali. Wanita itu mengerucutkan bibirnya tanda kecewa. Padahal dia masih ingin berlama-lama di sini.
"Bisakah kita lebih lama lagi di sini?"
"Tidak bisa, kita harus segera kembali sebelum Randika tiba di Mansion."
"Kenapa tidak ada yang bisa aku lakukan sesuai keinginanku."
"Kau mau membuat kita semua mati di tangan Randika? dan apa kau mau pria itu mengusirmu dari rumah?"
"Jika itu terjadi aku bisa tinggal bersamamu dan Rilan bukan."
Brian menatap bungkam. Arumi sekali lagi membuat pria bermanik biru itu salah tingkah. "Wanita ini akan membuat ku benar-benar menyukainya jika kita tetap berada di sini."
"Apa yang kau pikirkan Brian?"
"Tidak, aku tidak memikirkanmu."
Arumi tertawa kecil, lalu berbalik menuruni bukit menuju mobil. "Cepatlah Brian."
.
.
__ADS_1