
Garis punggung Gadis yang terlelap itu terlihat seksi. hingga membuat manik hitam itu tidak tahan untuk mengusapnya. Randika menuliskan namanya di sana. Berulang kali dia melakukan-nya hingga membuat pemilik rambut ikal itu mengerutkan kening dalam lelapnya.
Arumi bergerak hingga menghadap Randika yang terjaga. Gadis bermanik cokelat itu tidur beralaskan tangan Randika menggantikan bantal. Dia tertidur seperti seorang pria dewasa. bibir manisnya tidak berhenti mengecap hingga membuat Randika gemas. Pria itu tanpa sadar menggigitnya hingga Arumi melenguh merasakan sakit tapi masih dengan mata yang terpejam.
"Apa kau kelelahan. Kau tertidur dengan sangat lelap.
Pria itu menatap lekat wajah cantik Arumi, tangannya mengelus membuat pipi Arumi hingga turun pada bibir tipis Arumi. Randika mencium bahu Arumi sebelum rasa kantuk mengalahkan segalanya.
•
•
•
Pagi ini, setelah pergulatan panjangnya bersama Randika, Arumi terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Entah apa yang sudah terjadi pada dirinya dia tidak ingat. Banyaknya obat yang dia minum membuat dia benar-benar lupa diri kemarin.
Gadis itu, mengerjap ketika merasakan ada tangan yang menimpa perutnya. Sungguh, sentuhan tangan itu sangat nyaman dan hangat. Arumi sedikit menolehkan wajah menatap kesamping. Ad wajah tampan dengan aura yang sangat menggoda terlihat di sana.
"Randika? kenapa Pria Robot ini tidur di samping ku?" Gadis bermanik cokelat itu mencoba mengabaikan. "Mungkin aku sedang bermimpi?"
Wanita itu memperbaiki posisi tidurnya membiarkan tubuhnya berhadapan langsung dengan calon tunangannya itu. Kini dia tangannya terangkat mengusap-usap rahang pria yang tertidur di depannya, menatap kedua matanya yang sedang terlelap. "Benar kata orang, kau sangat Tampan. Tapi sayang, kau memiliki hati yang tidak baik Pria Robot."
Arumi menutup matanya kembali. Rasa kantuk yang masih tersisa juga rasa sakit di sekujur tubuhnya membuat dia lelah. Namun setelah beberapa menit menutup mata, dia kembali terbangun. Dengan sigap ia mengubah posisinya duduk dan kembali menoleh ke arah sosok pria yang tertidur di sampingnya. Dia mencubit sedikit kulit tangannya untuk memastikan.
"Aaah sakit."
Bersamaan dengan rasa sakit yang dia rasakan kesadarannya kembali normal. Namun ingatan tentang semua yang terjadi hingga semua ini terjadi tidak ada sama sekali. Arumi menundukkan kepala dengan kekecewaan yang tidak dapat di gambarkan. Tidak tagan dengan amarah yang semakin memuncak membuat Arumi berteriak keras.
"Randika!"
Randika yang tertidur pulas pun terhentak dan bangun seketika. "Apa ...!! Ada apa? Kenapa kau berteriak!"
"Apa yang kau lakukan padaku."
"Tidak ada."
"Lalu untuk apa kau melepas semua pakianku."
__ADS_1
"Apa Kau sudah Gila! untuk apa aku melakukannya."
"Jangan berlaga bodoh Randika!"
"Ingat kembali semua yang kau lakukan semalam, jangan ganggu tidurku."
"Huh?"
Kini netranya kembali dia buat kaget saat melihat ada bekas cakaran di tubuh Randika, dan Itu sangat banyak. Terlihat dari bentuknya ini adalah bekas cakaran baru.
"Apa itu ... aku yang melakukannya?"
"Tentu saja."
"Sakit?" tanya Arumi semakin bingung
"Kau benar-benar berbeda saat berada di ranjang. Aku sampai sangat menderita karena mu... argh."
Randika meringis tubuhnya benar-benar merasa perih. Luka cakaran ini benar-benar banyak dan memenuhi dada kekar miliknya.
"Jangan bilang kau lupa Arumi."
Arumi tersentak. Ucapan Randika membuat gadis bertubuh mungil itu seketika bergerak mundur hingga membuat selimut tebal yang menutupi tubuhnya melorot sampai ke perut dan membuat sesuatu yang tak seharusnya dilihat terpampang jelas di sana.
"Apa kau sedang menggodaku."
Dengan cepat tangan Randika meraih selimut dan menaikan-nya hingga menutup kebagian leher Arumi.
"Heii apa yang kau la-- aahh ...."
Arumi kembali histeris, saat menyadari dirinya tidak memakai sehelai benang pun, tubuhnya gemetar, amarahnya kini memuncak hingga ke ubun-ubun. Dengan cepat gadis itu meraih selimut dan menutupi tubuhnya hingga menyeluruh.
"Kenapa, kenapa kau lakukan ini padaku."
"Maafkan aku."
"Dasar pria jahat! Aku membencimu."
__ADS_1
"Maaf."
"Kau jahat! Kau jahat!"
Gadis itu menangis dengan keras di bawah selimut, tidak perduli orang lain akan mendengarnya atau tidak.
"Arumi berhenti menangis."
Arumi tidak peduli dia terus saja menangis. Kepalanya berputar mengingat-ingat sesuatu yang membuatnya berakhir seperti ini. Gadis itu tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan Randika padanya. Randika pun sangat menyesal, entah apa yang harus dia lakukan agar gadis itu menghentikan tangisannya.
"Turunkan selimut mu, apa kau tidak sesak berada dibawah sana?"
"Bukan urusanmu."
"Terserahla."
"Kau harus bertanggung jawab."
"What! untuk apa?"
Gadis itu membuka selimut yang menutupi kepalanya. Menampakan wajah dengan tatapan penuh amarah dan kebencian dan berteriak keras ke arah pria di depannya.
"Kau telah meniduriku."
"Aku sudah meminta maaf."
"Hanya maaf."
"Lalu aku harus bagaimana Arumi."
"Dasar penjahat!" teriak Arumi dengan melayangkan beberpa pukulan ke tubuh Randika yang penuh cakaran.
"Kau-- Argh."
Randika mengerang kesakitan. Pria bermanik hitam itu menyibak selimut yang sedari tadi menutup tubuhnya, menendangnya jauh sehingga sebagian kain tebal itu menjuntai ke lantai. Dia turun dari tempat tidur dan berjalan berlalu tanpa mempedulikan Arumi yang sedang terisak dengan amarahnya.
"Cih ... Kau yang memintaku melakukannya, Kau bahkan mencakar tubuh berhargaku ini dengan buas. Apa Kau lupa gadis bodoh. Sial," batin Randika menggerutu.
__ADS_1