
Semalaman, pria bermanik hitam itu terjaga, memastikan wanita yang ada di dalam pelukannya baik-baik saja. Dalam tidurnya dia selalu terlihat gunda, Evanya membuat dia merasa terancam, pengaruh dari kehadiran wanita itu membuat tubuh Arumi panas dingin memikirkannya.
Selama beberapa saat Randika tidur dengan posisi miring menyangga kepala dengan tangan. Dan dalam pelukannya, Arumi terlelap, menyembunyikan wajahnya di dada Randika. Kali ini dia tidak akan berfikir kotor karena Arumi sedang membutuhkan kehangatan darinya.
Di detik-detik terakhir mata Arumi terpejam, Randika memberanikan diri untuk menghubungi Rilan dan Brian. Namun, tangannya tidak berhenti mengelus wanitanya. Dengan kelembutan dan penuh kasi sayang, Randika membelai kening Arumi yang terasa hangat, sepertinya perempuan ini sedikit demam.
"Apa sudah ada kabar tentang keberadaannya?"
'Belum.'
"Apa, pria yang menjemputnya sudah di lacak?"
'Damian, dia yang menjemput Evanya. Aku sudah mengecek cctv dan memastikan pria itu adalah dia."
"Seharusnya wanita itu aku lenyapkan sejak awal."
Sadar Arumi membuka mata Randika buru-buru menutup sambungannya.
"Kenapa? kau tidak bisa tidur?"
"Apa kau bicara dengan kak Rilan?"
Randika mengangguk pelan. "Tidurlah kembali, ini masih terlalu larut."
__ADS_1
"Jam begini apa kalian tidak lelah, apa terjadi sesuatu?"
"Tidak ada. Tidurlah, tutup matamu dan istirahatlah agar demam mu cepat turun." Pria itu mengusap lembut kepala kekasihnya meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. "Seharusnya kita ke dokter."
Wanita itu menggeleng. "Aku hanya membutuhkan dekapan mu."
Randika tersenyum samar, dia membaringkan tubuh di dekat kekasihnya, mendekapnya seperti keinginan sang pemilik hatinya. "Aku mencintaimu."
Kalimat itu membuat Arumi semakin menggesakan wajahnya di dada Randika, pria itu sebenarnya merasa geli. Namun, dia menahan tawanya untuk tetap memberi kehangatan dan juga kenyamanan kepada wanita yang dia dekap.
"Ke mana kau ingin berbulan madu."
Perempuan itu menengadah, lalu berfikir sejenak. "Apa boleh kita ke kuba?"
"Kuba?"
Randika terkekeh. "Dari mana kau menemukan drama seperti itu."
"Itu adalah drama terpopuler di korea, tentu saja mereka menyiarkannya di tv."
"Lain kali, ajak aku untuk menonton drama itu."
"Apa persiapan pernikahan kita lancar?"
__ADS_1
"Beberapa hari lagi akan selesai," ucapnya mengecup kening Arumi.
Perempuan itu merenung, hingga dia merasakan tangan Randika masuk ke dalam tanktop dan mengelus punggung belakangnya. "Demam mu masing tinggi, kita harus ke dokter Sayang."
Arumi menolak untuk di sentuh, ini sangat terasa canggung, mengingat mereka pernah seperti ini saat Arumi dalam pengarih obat. "Tidak perlu, ini akan turun dengan sendirinya."
"Kalau begitu, aku tahu cara yang efektif."
"Huh?"
Ucapan Randika membuat wanita itu kebingungan, apalagi saat tangan Randika membuka tanktop hitam yang sedang di pakainya ke arah bawah.
"Apa yang kau lakukan?"
"Tenanglah, aku tidak akan melakukan apapun. Cara ini efektif untuk menurunkan demam mu." Randika menyelimuti tubuh Arumi, di ikuti dengan dirinya yang melepaskan baju atasnya. Sedetik setelahnya, Randika memeluk erat tubuh Arumi, menarik selimut dan menutupi sampai batas leher.
Rasa panas Arumi seketika dia rasakan saat keduanya menempelkan tubuh, suhu badan Arumi begitu panas, keduanya mulai berkeringat, apalagi saat wajah Arumi berada di dadanya, keringat itu semakin bercucuran.
"Kau benar-benar harus ke dokter Arumi."
Tidak ada jawaban dari Arumi, wanita itu semakin kepanasan. Keringat membasahi keduanya, apalagi Arumi menggunakan gulungan selimut yang tebal. Selama beberapa saat mereka dalam posisi itu sampai akhirnya Randika mengecup pundak Arumi dan mulai mengubah posisi duduk.
Masih dalam kebingungan dan kaget dengan apa yang terjadi, wanita itu menutup bagian atas tubuhnya dengan kemeja Randika dan ikut duduk. "Sebentar." Tangan Randika memegang kening Arumi yang berkeringat, mencoba memastikan. "Syukurlah suhu badanmu sudah turun."
__ADS_1
Arumi menepis tangan Randika dengan sekejap. "Aku ingin mandi."
Perempuan itu berjalan dengan cepat masuk ke kamar mandi, menutup pintu dengan cepat Pikirannya bertanya-tanya dengan apa yang baru saja terjadi. Hingga akhirnya dia mengguyur tubuhnya dengan air. "Ya Tuhan, aku hampir saja gila."