Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 45


__ADS_3

"Sedang apa kau di sini!"


"Dari mana saja kau, kenapa meninggalkanku sendirian."


"Oh mon Dieu (Ya Tuhan)." mata Rilan tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran dia melirik sekeliling dengan saksama. Ternyata parkiran Cafe Brian sudah sepih, dan itu artinya pesta reuni telah selesai.


"Dimana Randika?"


Gadis itu terdiam. Hanya air mata yang menggambarkan kesedihannya saat ini. Dan tanpa menjawab apapun Rilan langsung tahu, Pria itu meninggalkan kekasihnya sendirian.


"Shit, Bajingan!"


Erangan Rilan bahkan tidak membuat Arumi merasa lebih baik, tetapi berbanding terbalik dari kata tenang. Hanya Arumi yang membuat Rilan berani menunjukan sifat aslinya.


"Bangunlah, ini sudah larut. Akan aku antar kau kembali."


"Aku tidak ingin kembali."


"Ne pas (Tidak), kau harus kembali Rumi. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian disini."


"Kalau begitu biarkan aku menginap di tempatmu."


"Mana mungkin."


"Apa kau tinggal bersama kekasihmu?"


"Sejak kapan aku memiliki kekasih. Jangan konyol."


"Lalu kenapa kau tidak mengijinkanku menginap di tempatmu."


"Aku bukan saudara kandungmu Rumi. Tidak baik jika seorang wanita menginap bersama seorang pria."


"Randika bahkan bisa."


"Maafkan aku, tapi kau harus kembali ke Mansion."


"Aku tidak mau," rengek Arumi dengan mata berkaca. Gadis itu mendesah berulang kalau agar air matanya tidak sampai jatuh. "Sejak kapan kau tahu wanita itu ada."


"Shit." Rilan mengumpat tanpa suara. "Aku sama sekali tidak tahu Rumi.


"You lie (Kau berbohong.)"


Rilan terdiam. Dia menetralkan emosi menahan segala kesalnya agar gadis di depannya pun ikut tegar. Tidak ada yang boleh tahu jika selama ini dia berusaha untuk membuat Randika menjauh dari Evanya. Wanita itu tidak baik. Rilan merasa Evanya hanya memanfaatkan kecantikan dan memberikan cinta palsu untuk mewujudkan impiannya untuk menjadi Pianis terkenal di Kanada. Wanita itu sangat licik, dia melakukan segala cara untuk merebut hati Randika kembali.


"Akan ku pastikan kau membayar semua tangisannya. Berengsek!" gumam Rilan pelan.


Hatinya hancur saat melihat gadis yang sudah fi anggap adiknya itu berlerai air mata dengan tatapan sendu. Arumi bahkan menahan rasa sakit itu dengan membuang napas kasar sesekali.


Saat dia hendak membelai gadia itu dia di buat salah tingkah saat Arumi melontarkan pertanyaan aneh. Mendengarnya saja membuat dada Pria berwajah oval itu sesak.


"Apa aku tidak baik?"

__ADS_1


"No, kau yang terbaik."


"Apa aku tidak cantik, seksi? atau karena aku hanya memberikan ciuman tanpa adegan ranjang."


"Arumi! Pertanyaan macam apa itu," bentak Rilan.


"Katakan! bukankah kau pengawalnya. Kau pasti tahu yang sebenarnya."


"Dan aku adalah saudara laki-laki mu.Tidak ada rahasia apapun antara kita apalagi tentang kebahagiaanmu," sela Brian.


"Kau berbohong lagi."


"Rumi."


"Dia tidak pernah mencintaiku."


Rilan terdiam, saat manik coklat itu menunduk. Dia menarik napasnya dalam dan membuangnya dengan kasar. "Ayo kita kembali."


Manik cokelat itu menengadah menatap manik dengan warna yang sama dengannya. Mata Arumi memang berwarna sama seperti punya Rilan. mungkin karena memiliki manik yang sama hingga Pria berdarah Prancis itu menyukainya.


"Jangan khawatirkan itu. Semua akan baik-baik saja."


Rilan menatap Arumi dengan mata sendu. "Tuan Amirta jatuh sakit, dan mereka baru saja tiba dari Turki. Ini hanya sebentar setelah beberapa jam istirahat Nyonya Jenny akan membawa Tuan ke Prancis untuk me jalani pengobatan."


"Apa untuk itu kau pergi tadi?"


Dia mengangguk menyetujui pertanyaan Arumi.


"Sebagian tamu yang hadir adalah rekan bisnis Amirta grouper. Jika mereka tahu Tuan besar sedang sakit, itu akan membuat saham anjlok, resikonya besar. Dan itu bisa berdampak lebih buruk untuk kesehatan Tuan Amirta.


"Aku akan menemui mereka sebentar," ucap Arumi berdiri dari duduknya.


Dia melirik taman kecil yang berada di samping kafe Brian, di mana dia melepaskan kesedihannya malam ini. Hampir 4 jam dia berada di sana dan tidak ada seorang pun yang mencarinya, terlebih Randika, Pria yang sangat di harapkan Arumi akan seperti orang gila mencarinya ketika dia tidak ada.


"Kau baik-baik saja."


"Aku akan selalu lebih baik jika bersamamu."


Rilan terkekeh menoleh sejenak Arumi yang bersandar pada kursi mobilnya. Gadis itu terlihat sangat terpukul namun dia pintar menyembunyikan semua rasa itu di balik sikap tenangnya.





"Aku tahu kau pasti di sini."


Randika terdiam, entah kenapa dia tidak ingin terlihat oleh siapapun. Rasanya belum siap, apalagi ini soal perasaan. Tidak bisa di pungkiri bawha dia sangat merindukan Evanya. Namun untuk melupakan semua sakit hatinya sangatlah susah.


Melihat Randika seperti itu Evanya sedikit merasa bersalah. Saat hendak berkata Randika lebih dulu mengeluarkan suara.

__ADS_1


"Kenapa kau lakukan ini padaku Evanya."


"Apa kau ingin berdansa?"


Randika berdecak. "Bagaimana kita bisa berdansa dalam keadaan seperti ini, Evanya?"


"Ayolah," tariknya Randika ke tengah bar. Dia memberi kode kepada bartender untuk memutar musik dansa favoritnya.


Evanya tersenyum tipis, saat pria itu pasrah. Untuk pertama kalinya setelah 4 tahun dia melakukan dansa kembali bersama pria yang sangat dia rindukan. Dia menyandarkan kepala pada bahu Randika hingga bibirnya hanya berjarak beberapa senti dengan leher Randika hingga Evanya dapat mencium Aroma maskulin Randika.


"Kau sangat wangi."


Randika merespon dengan kecupan pada puncak kepala Evanya. Dia sejenak terlarut dalam keadaan hingga melupakan janjinya pada Arumi. Kedua insan yang saling merindukan itu berdansa tanpa.memperdulikan keadaan.


Dan semua yang terjadi ini di siapkan ole Evanya sendiri. Dia tahu betul Randika akan ke bar kecil yang bertempat di bagian belakang Kafe milik Brian. mereka mendesainnya menyerupai sebuah bar pada umumnya. Ke empat sahabat itu itu sering berada di sana saat Evanya dan Randika masih menjalin hubungan. Namun, ketika cinta itu berakhir, mereka jarang berkumpul dan hanya Randika saja yang sering menghabiskan waktu bersama wanita-wanita penghibur untuk menemaninya minum.


"Kenapa kau ke tempat ini."


"Karena di sini adalah tempat dimana kita selalu menghabiskan waktu bersama."


Kini tatapan Evanya beralih pada Randika. "Jika kau mau, kita bisa memulainya kembali."


"Bukankah kau ingin menjadi seorang Pianis."


"Aku tidak menginginkannya, bersamamu saja aku sudah bahagia." Evanya melingkarkan tangannya semakin erat. menyandarkan wajahnya pada dada Randika yang selalu membuatnya tenang.


"Aku mencintaimu."


Sejenak, ungkapan perasaan Evanya membuat Randika tersadar. Sepertinya pria bermanik hitam itu teringat akan sesuatu. Bagaikan tersengat listrik, Randika mendorong tubuh Evanya menjauh darinya lalu berlari dengan cepat meninggalkan bar menuju ballroom.


"Arumi, kenapa aku bisa melupakannya."


Randika sampai pada ballroom kafe dengan napas terengah-engah. Dia semakin panik ketika mendapati para pelayan yang sedang membersihkan sisa-sisa perayaan pesta. Dia berlari kecil mendekat ke arah salah-satu pelayan yang hendak keluar membuang sisa sampah untuk bertanya.


"Maaf, apa kau melihat seorang wanita dengan gaun berwarna biru?"


"Maksud anda gadis yang duduk di taman tadi?"


"Taman?"


"Yah, dia mengatakan menunggu kekasihnya yang sedang bersama teman wanitanya."


"Apa?"


Randika begitu terkejut dia bahkan tidak berani membayangkan seberapa lama gadis itu menunggunya. dengan gaun terbuka di tengah taman di malam hari dengan cuaca sedingin ini. Randika dengan cepat mengucapkan terima kasi dan berjala cepat menuju taman namun baru beberapa langakah pelayan itu kembali menyela.


"Dia sudah tidak ada. Dia kembali bersama kekasihnya."


jangan lupa tinggalkan jejak yah gays. jika mungkin ada yang kurang pada bab ini. beri krisan dengan baik 🙏😘.


jangan lupa follow akun baruku. kata kuncinya adalah Aurums.

__ADS_1


Selamat membaca.


__ADS_2