
Maafkan aku yang baru up. tubuhku seminggu ini benar-benar lemas. doakan aku agar tetap sehat yah kawan-kawan. 💜
.
.
.
"Kapan Mom dan Dady kembali?"
'Entahla sayang, Dady belum ingin kembali.'
Randika mengerutkan kening. "Whay? Bukankah keadaannya sudah membaik?"
'Dady akan kembali jika kau bersedia menikahi Arumi,' teriak Amirta.
"Dady! Kau mendengarku? Pulanglah aku akan segerah menikah."
'What?'
"Aku akan menikahi Arumi Dady."
'Sayang, apa kau tidak bercanda?'
"Non, Mom, aku serius akan menikahi Arumi."
Jenny dan Amirta sangat kaget, padahal baru saja Rilan memberi kabar kalau hubungan mereka sudah lebih baik. Dan sebenarnya, Claudia dan Rilan selalu memberi kabar tentang keadaan Mansion dan hubungan kedua anaknya. Yang membuat mereka enggan kembali adalah ingin membiarkan kedua anak yang sedang kasmaran itu lebih mempererat hubungan mereka.
Jenny dan Amirta beranggapan bahwa keberadaan mereka akan membuat keduanya canggung dan enggan menyalurkan perasaan. Makanya, meski kesehatan Amirta sudah pulih, mereka belum mau untuk kembali.
"Hallo Mom, apa kalian masih di sana?"
'Apa kau sungguh-sungguh,' tanya Amirta dengan nada terdengar mengejek putranya.
"Dady!"
__ADS_1
'Kami tahu kau akan menyukainya.'
"Kalian cukup santai untuk berita sepenting ini, tunggu! ... apa Rilan memberitahu tentang rencanaku pada kalian?"
'Yah, beberapa hari ini dia selalu melaporkan kegiatan kalian.'
"Dasar penjilat."
'Jangan mengatainya seperti itu, Dady sangat menyukai kinerjanya. Oh yah apa Rumi sudah sehat? kakinya sudah pulih bukan?'
"Apa kalian memata-matai kami? ini sudah sangat berlebihan Dady."
'Dady hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja dan tentu saja ingin melihat bagaimana cara anak laki-laki ku memperlakukan wanita.'
"Apa kalian tidak percaya padaku?"
'Non, kau adalah anak yang baik, hanya saja Daddy harus benar-benar memastikan semua berjalan dengan baik, baik kau maupun Arumi.'
Randika terdiam, dia mendengar semua kata yang du ucapkan oleh ayahnya.
"Aku tidak sejahat yang kalian pikirkan, aku akan menjadikannya ratu, kalian cukup mendukung ku saja, tidak perlu seperti detektif."
Amirta tersenyum untuk anaknya dari sana. 'Okey ... okey jagoan, Daddy dan Mom mengerti.'
"Jadi kapan kalian akan kembali? Aku tidak ingin membuat kekasihku menunggu."
'Wow, jagoanku cukup dewasa kali ini."
"Aku selalu seperti ini Mommy," ucapnya tersipu malu, Ini adalah bagian paling favorit sekarang. Menceritakan bagaimana dia benar-benar akan menikahi Arumi membuat Randika tidak berhenti untuk tersenyum. Mereka melewati cukup banyak penderitaan hingga akhirnya bisa bersama. Dan Randika tidak akan melupakannya itu akan dia simpan di bagian paling terdalam di hatinya.
'Baiklah Sayang, Mom akan matikan teleponnya. Mommy akan bicara dengan Daddy tentang kepulangan kita ke Quebec. Dan kau, cukup jaga Arumi agar hubungan kalian tetap aman sampai hari pernikahan tiba. Kau mengerti yang Mommy katakan bukan?'
"Aku mengerti, Mommy tenanglah. Evanya tidak akan berani mengganggu hubungan kami lagi."
'Ingat Sayang, jangan melakukannya dengan kekerasan, apalagi kau sampai melukainya. Itu tidak akan baik pada akhirnya.'
__ADS_1
Randika menurunkan pandangannya dan sejenak berfikir akan apa yang ria lakukan pada Evanya. "Aku tahu, jaga kesehatan kalian dan cepatlah pulang."
'Baiklah Sayang, sampai jumpa. titip salam Rindu untuk calon menantu kesayangan kami.'
"Akan aku sampaikan. I love you."
'Love you more Honey.'
tutt ... tut ... tut....
Bunyi sambungan terputus, dan di saat yang bersamaan seseorang yang bersuara menanyakan hal yang membuat Randika terkejut.
"Kau mengatakan I love you untuk siapa?"
"Aaah ... Astaga Arumi! kau mengagetkan ku saja." Pria itu menyapu dadanya berulang kali, jantungnya hampir saja berhenti berdetak karena terlalu kaget.
"Siapa yang kau telepon sepagi ini?"
"Itu Mommy dan Daddy Sayang, kau pikir siapa?"
Perempuan itu menengok dengan tatapan salah tingkah. "Tidak ada."
Manik hitam itu bersinar, menatap kekasihnya dengan tatapan penuh kebahagiaan. "Katakan, apa yang kau pikirkan." Randika hendak mendekat ke tepi ranjang. Namun, Arumi dengan cepat turun dari ranjang.
"Aku akan ke kamarku sekarang."
"Hei! tunggu!," ujarnya terkekeh, tingkah Arumi saat malu benar-benar membuatnya tidak tahan untuk tertawa.
Suara tawa Randika membuat Arumi melangkah dengan panjang, hanya dalam hitungan detik wanita itu sudah menghilang dari kamar pria yang hanya memakai celana pendek itu.
"Arumi! tunggu dulu."
"Aku harus mandi," teriaknya lalu menghilang di balik pintu kamarnya.
"Dasar wanita, mereka selalu cemburu tanpa sebab."
__ADS_1