Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 78


__ADS_3

Arumi berteriak dengan histeris melihat dua pria itu tersungkur oleh senapan milik Rilan, matanya menatap ketiga pria itu penuh pertanyaan. "Sebenarnya ada apa ini?"


"Tenanglah," ucap Randika menarik perempuan itu kedalam pelukannya. Nakun, Arumi menolak dan mendorong Randika menjauh.


"Jangan mendekat! Aku membencimu!"


"Arumi ak--"


"Aku bilang jangan mendekat," teriak Arumi saat Randika akan menyentuhnya.


Dengan tubuh bergetar Arumi menatap dua pria yang terbaring dengan peluruh yang di tembakan oleh Rilan. Darah yang terus mengalir membuat dia merasa pusing, sedetik setelahnya wanita berambut panjang itu pingsan. Randika dengan cepat menahan tubuh Arumi yang hampir saja terjatuh dari tempat tidurnya, wajah khawatir dan panik tidak lepas darinya.


"Arumi! hei sadarlah."


Tidak ada yang bisa di lakukan Randika saat melihat wanita bermanik cokelat itu tidak sadarkan diri di pelukannya, bahkan Brian dan Rilan pun ikut terdiam. Dengan isyarat dia meminta Rilan dan Brian untuk membereskan kedua pria itu. Lalu dengan perlahan dia menurunkan tubuh mungil Arumi di kasur, kemudian menyelimutinya.


"Maafkan aku, akan aku beritahu semuanya jika kau sudah membaik. Bahkan jika setelah itu kau akan membenciku."


Saat Randika berdiri dia melihat Evanya yang terduduk dengan wajah pucat, terlihat jelas dia sangat khawatir dan ketakutan. Deru napas yang tidak karuan bahkan terdengar jelas oleh Randika.


"Kenapa kau diam saja."


"A-aku."


"Apa aku harus menembakmu sekali lagi?"


"No, Ran! ... no."


"Aku beri satu kesempatan untukmu, jauhi kekasih dan keluargaku."


Evanya menjawab dengan tertawa keras. "Kekasih? apa kau pikir dengan berbuat seperti ini dia akan memafkanmu? kau bermimpi!"


"Setidaknya mimpi ku tidak semenyedihkan mimpi mu."


"Aku akan membuat Arumi membenci mu!"


"Aaaaaah." Evanya mengerang saat Randika mulai meremas luka bekas tembakan-nya. Wajah pria itu datar tapi tidak dengan emosinya dia menodongkan senjata ke arah Evanya. "Dan aku akan membunuh mu sebelum kau melakukan itu."

__ADS_1


"Kau ingin membunuh ku demi wanita pungut itu?"


"Akan aku lakukan jika perlu."


"Kau tidak akan berani melakukan-nya, mana mungkin kau rela melukaiku."


Tanpa segan Randika menembakan peluru di sekitar kaki Evanya membuat wanita menjerit ketakutan. "Randika! Beraninya kau!"


"Aku tidak pernah mengasihani siapa pun yang mencoba menyakiti milikku, termasuk kau."


"Bukankah kau mencintaiku? kau mengatakan kita akan kembali seperti dulu."


"Kita tidak bisa kembali seperti dulu Evanya kau tahu itu."


"No! kau hanya milikku"


"Evanya!"


"Apa kau benar-benar mencintainya?"


Wanita itu menggeleng kuat. "Aku tidak akan rela!"


"Kau yang telah meninggalkanku."


"Kau tahu alasanku melakukan itu Randika!"


"Sudahlah Evanya, hentikan sandiwaramu ini. Aku tahu tujuanmu mendekatiku dan Damian, apa kau pikir pria itu tulus mencintaimu? Dia hanya memanfaatkanmu. Apa kau mau berakhir seperti kedua pria tadi?"


Evanya terdiam, dia menelan ludah kasar saat Randika memperlihatkan wajah datar. Tidak ada belas kasihan di sana, membuatnya merasa takut. Dengan penuh keraguan dia mendekati Randika.


"Jangan lakukan itu, maafkan aku."


Evanya memohon dengan bibir yang bergetar. "Aku mohon."


"Akui semua kesalahan mu dan terima hukumannya."


Mata Evanya bergetar mendengar itu, air matanya tumpah memenuhi pipinya. Rasa sakit bekas tembakannya bercambur dengan rasa sakit hatinya membuat dia meringis dengan sangat menyedihkan.

__ADS_1


Randika menatap darah yang mengalir pada tangan Evanya. "Aurela akan segera sampai, obati lukamu."


Beberapa menit kemudian Aurela tiba bersama Brian dan Rilan yang juga selesai dengan tugas mereka. Gadis itu memekik kaget saat mendapati Evanya yang tergeletak di lantai dengan wajah pucat dan tangan yang berlumuran darah.


"Evanya? apa yang terjadi denganmu?"


"Bantu dia mengobati lukanya."


"Kau juga boleh menyuntikan sedikit obat penenang agar wanita ini diam."


"Apa kau ingin membuatnya mati Tuan Rilan Harper."


"Kau terus saja melakukan hal gila hari ini Rilan, ayo cepat bantu aku mengangkatnya," ucap Brian.


"Kalian bisa membuat tempatku tutup karena melibatkan aku dalam hal gila seperti ini," pekik Aurela.


Randika menatap kepergian Evanya tanpa berkata, wanita itu benar-benar sangat tidak berdaya. Dia membalikan badan saat merasakan tangan yang begitu dingin menyentuhnya. Namun, dia hanya menatap dan membiarkan Arumi melanjutkannya.


"Maafkan aku," ucap Arumi dengan penuh tangis.


"Apa kau mendengar semuanya?"


Arumi mengangguk dengan tangisan yang semakin pecah.


"Please baby, don't cry. (Tolong Sayang, jangan menangis.)


"I made a mistake. (Aku melakukan kesalahan.)"


"Not. I'm the one at fault. (Tidak, aku yang bersalah.)"


"Aku tidak bermaksud meninggalkanmu, aku hanya ingin membuatmu sedikit sadar dengan keberadaanku, itu saja." Arumi menegakan tubuhnya. "Aku minta maaf."


Pria yang memiliki manik hitam itu tersenyum.


"Biarkan aku memelukmu."


"

__ADS_1


__ADS_2