Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 94


__ADS_3

Randika menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan Rilan. Pria itu tidak menyangka mereka menyukai wanita yang sama, dan yang lebih membuatnya kaget, Rilan menyimpannya tanpa di ketahui Arumi. Padahal, keduanya cukup dekat dalam hal hubungan.


"Kau tidak akan memecatmu bukan?" Demi menghindari salah paham pria Prancis itu mengatakan yang sejujurnya.


Matanya menatap pria yang duduk di depannya, tangan Rilan hendak mengambil teh lemon segar yang baru di bawakan Claudia. Namun, ketika Randika menatapnya Rilan menghentikan tangan-nya dengan cepat.


"Kenapa kau tidak mengatakan ketuka rasa itu kau sadari."


Rilan tersenyum getir. "Kau tau alasannya."


"Jangan mengira aku tahu semua tetangmu setan!"


"Arumi, tidak menyukaiku, dia menganggapku saudara laki-lakinya. Dan aku bahagia dengan status itu. Jika saja dia tahu, mungkin kita tidak akan berteman sejauh ini."


"Kau payah!"


Manik cokelat itu sontak memandang Randika dengan menyupitkan mata. "Hei, jika aku melakukannya dengan benar maka kau tidak akan memilikinya."


Seakan tertembak peluru, seluruh tubuhnya menegang saat mendengar ungkapan Rilan, Randika tersenyum miring sebelum kedua kepalannya mendarat tepat pada perut Rilan yang mengakibatkan pria itu meringis penuh kesakitan.


"Agh... uhuk ... uhuk, kau hampir saja membunuhku Randika!"


Belum sempat Randika lajut berbicara, terdengar derap hels berjalan mendekat dengan suara panggilan yang membuat jantung Rilan berpacu tidak normal.


"Sayang," panggil gadis berambut ikal panjang itu dengan lembut. Arumi fokus menatap kekasihnya tanpa menyadari jika ada orang lain yang juga sedang menatapnya.


"Kau sudah siap?"


Jemari kekarnya memberi isyarat agar Arumi mendekat ke arahnya, tujuannya tentu saja, agar Rilan tahu Arumi hanyalah milik dia seorang.


"Ayolah, bukankah kita harus memilih cincin?" jemari kecilnya menggenggam tangan Randika membiarkan tubuhnya tertarik dan bersimpuh tempat di samping pria bermanik hitam itu. Sepersekian detik, saat tangannya ingin mengusap wajah kekasihnya matanya kaget menangkap sosok pria yang sudah 4 tahun ini menjadi saudara laki-lakinya ada di depan mata.


"Kak Rilan?"

__ADS_1


"Bonjour Rumi," sapa Rilan menahan tawa. Namun, di balik itu tidak ada yang tahu bagaimana perasaannya.


"Aaaaaah ... ini memalukan."


Gadis itu berlari pergi, dia benar-benar tidak menyadari keberadaan Rilan karena posisi duduknya yang sedikit jauh dari Randika.


Keduanya tertawa saat Arumi menghilang di balik pintu kamarnya. Dan Rilan karena malu, dia memukul Randika dengan bantal kursi sofa yang dia peluk.


"Kau sangat licik, apa kau ingin membuatku cemburu Tuan Robot."


Randika rerkekeh dan geli karena protes dari Rilan. "Aku hanya ingin kau tahu, dia hanya milikku." ucapnya penuh penekanan.


"Jangan libatkan aku dalam percintaan kalian, aku bukan benalu." ujarnya beranjak meninggalkan Randika.


"Hei! pembahasan kita belum selesai."


"Ku anggap sudah Randika, dia milikmu."


"Kau harus ingat ucapanmu itu," teriak Randika saat Rilan mengatakan-nya tanpa menoleh.


"Aku berjanji."


Manik cokalet itu tersenyum, bukan karena janji Randika, tetapi rasa khawatir dalam hatinya kini hilang. Jujur saja Rilan sedikit tidak bisa merelakan Arumi karena takut wanita itu tersakiti. Namun, kini tidak lagi, Arumi sudah mendapatkan pria yang luar biasa di sampingnya yang bisa menjaganya dengan baik.


"Aku pergi."


"Tunggu Rilan!"


Pria itu berhenti melangkah, lalu dengan malas menoleh ke arah sahabatnya. "Apa lagi."


"Setidaknya biarkan Arumi tahu tentang perasaanmu."


"Apa kau bersedia jika dia lebih memilih ku dari pada dirimu? Jika iya, maka akan ku lakukan."

__ADS_1


"Lakukanlah."


"What?" Wajah pria yang selalu terlihat datar itu berubah kaget.


"Lakukanlah jika itu membuat mu legah, setidaknya aku bisa tahu bagaimana perasaan kekasihku terhadapmu."


"Kau yakin?"


Randika mengangguk. "Jika pilihannya adalah kau, maka aku pun harus ikhlas bukan. Melihat orang yang kita sayangi bahagia itu akan sangat melegahkan."


"Meski sejujurnya itu menyakitkan batin Randika."


"Jangan mencobanya Randika, kau akan semakin sakit saat perasaanmu hanya hayalan baginya."


"Aku mencoba memberimu kesempatan karena tidak ingin terlihat merampas cinta sahabatku."


"Dan aku mencoba untuk tidak menganggu hubungan cinta sahabatku."


"Rilan please!"


"Aku mohon, jangan memaksaku."


"Kau harus menyatakan cintamu Rilan, aku tidak ingin hidup dalam bayang-bayang ketakutan kalau suatu saat Arumi akan meninggalkan ku dan pergi bersamamu."


"Kau gila! mana mungkin hal seperti itu terjadi."


"Apapun bisa terjadi, bahkan yang lebih buruk dari perkiraanku. Dan aku tidak ingin menyesal karena tidak memberikan kesempatan mengetahuinya lebih awal."


Rilan terdiam. "Arumi pasti tidak akan nyaman setelah itu Randika."


"Kenapa aku harus merasa tidak nyaman?"


"Sayang!"

__ADS_1


"Rumi!"


__ADS_2