Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 100


__ADS_3

"Kau mengabaikan semua panggilan juga pesan dari ku."


Pria itu menelan ludah kasar. "Maaf, aku sedikit sibuk kemarin."


"Kau di mana? apa kau bersama Aurela?"


Rilan tidak menjawab, dia lebih memilih sibuk menyaring kopi untuk sarapannya bersama Aurela.


"Hallo ... Kak Rilan? apa kau masih mendengarku?"


"Sepertinya Itu bukan urusanmu Nona, kau tidak perlu tahu aku bersama siapa sekarang."


"A-apa?"


"Shiitt ... kenapa aku jadi kasar padanya," gumamnya di dalam hati.


"Apa sekarang kau sedang marah padaku?"


"Tentu saja tidak, kau adalah calon Nyonya Tuanku. Aku tidak akan berani melakukannya."


"Kenapa tiba-tiba kau berubah!"


"Karena memang seharusnya seperti itu."


Manik cokelat itu tiba-tiba melebar, dia tidak menyangka seseorang yang dia anggap adalah orang yang tidak akan menyakitinya kini sedang berusaha untuk menjauh. Dan akhirnya cairan kristal itu jatuh pada pipi mulusnya. Arumi benar-benar terpukul, fakta bahwa dia pernah mengagumi pria ini hingga menjadi cinta, yang kemudian dia simpan menjadi rasa persaudaraan, kini hancur berkeping-keping, hanya karena kekasihnya yang ingin mendengarkan kebenaran.


"Apa benar sekarang aku bicara dengan Tuan Rilan Harperr?"


"Rumi ...."


Wanita itu menarik napas berat, tangisan yang dia tahan untuk tidak terdengar membuat dia susah untuk bernapas


"Kau berubah setelah tahu aku lebih memilih bersama Randika dari pada dirimu, kau bahkan tidak bertanya kenapa sebegitu dekatnya kita tapi aku tidak pernah tahu tentang perasaanmu."


"Arumi, kau menangis?"


"Kau bahkan pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasanku."

__ADS_1


"Arumi aku mohon jangan menangis."


"Dan kau malah menghabiskan waktu bersama Aurela, dan mengabaikan panggilanku."


"Arumi Chaska!"


"Kau bukan orang yang aku kenal!"


"Arumi! Berhentilah menangis, jangan seperti anak kecil."


"Anak kecil katamu? Kau tahu, aku memang menyukaimu sesak awal kita bertemu, aku menyukaimu sebagai seorang pria bukan seorang kakak. Dan ...." Karena tidak ingin kehilangan mu aku mengubur rasa citaku, dan merubahnya menjadi rasa persaudaraan. Aku tidak pernah berani untuk mengungkapkan-nya karena takut kau menjadi berubah padaku. Dan yah, kau berubah."


Rilan menelan ludah kadar saat Arumi mengakhiri semua kalimat terakhir itu. Untuk kedua kalinya dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kau berubah Tuan Rilan."


"Arumi cukup! Jangan mengatakannya lagi."


"Entahla, ku kira sekarang aku harus terbiasa memanggilmu dengan sebutan nama saja."


Rilan terdiam memikirkan sesuatu yang entah apa.


"Kau tidak salah orang Arumi, aku masih Rilan yang dulu."


"Tidak! Rilan yang aku kenal ada sosok penyayang, penyabar, dia tidak pernah berkata kasar kepadaku, dia selalu menjadi sahabat, teman dan saudara."


"Arumi ...."


"Kau benar, tidak seharusnya kita membahas ini. aku turut bahagia atas hubungan dengan Aurela. maaf jika pernah mengecewakanmu. Dan terima kasih sudah begitu peduli kepadaku selama ini. aku akan mengingatnya dan akan aku balas semua kebaikan itu.."


"Arumi apa yang kau bi--"


tut tut tut.


"Arghh shitt ...." Rilan membuang ponsel dengan keras hinga terjatuh di dekar Aurela. Gadis itu memungutnya dan kembali memberikannya kepada sang pemilik.


"Kau tidak seharusnya seperti itu pada Arumi. dia tidak bersalah," ucap Aurela seraya menjulurkan tangan memberikan ponsel milik Rilan yang dia pungut.

__ADS_1


Rilan tidak menjawab. Dia berjalan menuju sofa panjang yang terdapat di ruangan yang luasnya cukup untuk sebuah apartemen standar namun bergaya moderen. Pria itu merebahkan tubuhnya sambil memejamkan mata seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Rilan?"


"Nikmati kopimu Aurela, biarkan aku berfikir sejenak. Aku juga tidak tahu apa yang baru saja aku lakukan."


"Kau harus berbaikan dengannya."


"Akan aku lakukan jika keadaan sudah membaik."


Saat Aurela hendak membuka mulutnya untuk menyela perkataan Rilan, seseorang lebih dulu mengetuk pintu. Saat terbuka, di sana Aurela mendapati sesosok pria yang memiliki manik biru dengan wajah datar berdiri sambil memegang paper bag di tangannya. Pria itu lalu memberikannya kepada Aurela. "Berikan padanya, dan aku tidak akan mampir. Merepotkan."


"What?" Aurela menatap aneh pada pria yang baru saja berbincang dengannya. Gadis itu mencibir karena tidak mengerti dengan semua ini. "Dasar pria-pria aneh."


"Siapa?"


"Ini, Brian memberikannya untukmu."


"Dia tidak mampir?"


"Kurasa aku tahu kenapa kalian bisa bersahabat sampai dengan sekarang."


"Apa yang kau tahu dari kami."


"Kalian sama-sama pria berwajah dingin yang aneh."


Pemilik manik cokelat itu terkekeh. dia menyimpan paper bag dan memberikan ciuman hangat di pipi kekasihnya. "Kau memiliki tingkat kepekaan yang cukup bagus sayang."


"Kau mengatakan hubungan kita kepada Brian?"


"Dia tahu, karena sebelum aku mencarimu aku sudah lebih dulu meminta ijin-nya."


"Kau melakukannya dengan baik Tuan Rilan."


"Aku tahu kau akan mengatakan itu."


Aurela cekikikan saat dia menerima tangan Rilan yang melingkar tepat di pinggangnya. Keduanya pun melangkah menuju meja kecil yang di atasnya sudah tersedia sarapan yang di buatkan khusus oleh Rilan.

__ADS_1


Hal pertama yang di lakukan Aurela saat melihat semua itu adalah takjub. Wanita itu kagum akan keromantisan yang di berikan oleh Rilan, pria berwajah datar itu ternyata masih pria yang mampu menaklukan hatinya.


__ADS_2