Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 48


__ADS_3

"Ran, mau ke mana?"


Sepasang mata hitam itu berpaling dengan tatapan nanar. Alkohol membuatnya tidak bisa mengendalikan diri. Dia selalu berakhir di kamar jika terlalu banyak minum.


"Aku harus pulang Evanya, Ini sudah pagi."


"Bisakah kau tinggal sebentar lagi."


"Kenapa kau tidak semanis ini ketika aku berusaha menahanmu waktu itu."


"Dan kenapa kau terus saja mengingat hal itu. Kita tidak akan bahagia jika kau terus mengungkitnya."


"Ambilkan aku Air. Kepala ku pusing, aku rasa ini akan pecah."


"Tidak ada Air di sini."


"Apa?"


"Aku baru saja kembali dan belum mengisi apapun Sayang," ucapnya mengelus pipi pria itu hingga manik hitamnya balas menatap.


"Jauhkan tanganmu."


Evanya tidak menghiraukan penolakan Randika dia malah lebih memainkan jemarinya di dada Randika lalu melingkarkan kedua tangannya pada leher jenjang pria itu dan menampakan wajah menggoda. "Tetaplah di sini."


"Menjauh dariku Evanya."


"Jangan mengabaikan ku seperti ini. Kita bahkan sudah melakukannya semalam."

__ADS_1


"Apa kau pikir aku bodoh. Jangan menguji ku Evanya," ujarnya penuh penekanan.


"Aku tidak akan membagimu dengannya."


"Kau tidak punya hak mengatakan itu."


Evanya tertawa keras "Akan aku buat sampai kau mengatakan itu adalah hak ku."


Randika menarik diri dari Evanya menghepaskan wanita berambut pirang itu menjauh darinya dan segera ke kamar mandi.


"Kau mau kemana?" tanya Evanya.


"Mandi."


"Haruskah aku ikut."


"Pergi Evanya."


"Apa kau baik-baik saja Sayang."


"Berhenti memanggil ku seperti itu."


"Baiklah. Aku akan diam di sini," ucapnya santai memandang dari balik kaca pembatas.


Tidak sekalipun dia memalingkan wajah dari pria yang sedang mandi itu. Ada ketakutan di dalam hatinya akan kehilangan Randika. Meski dia tahu saat ini Randika sedang bimbang, antara bersamanya atau Arumi. Namun dia merasa cemas lantaran sikap Randika padanya seakan tidak ingin dirinya berada di dekatnya.


Berbeda dengan Randika pria itu sibuk memikirkan apa yang akan di jelaskannya nanti pada Arumi. Randika segera menyelesaikan mandinya keberadaan Evanya membuatnya risih hingga tidak nayamn berlama-lama di bawa guyuran shower.

__ADS_1


Dengan memakai kimono Randika segera keluar, di tatapnya Evanya yang masih setia bersandar pada kaca pembatas.


"Kau ingin sarapan apa, akan ku buatkan."


"Katamu tidak ada apa-apa di sini."


"Kita bisa membelinya bersama-sama bukan."


"Aku harus kembali ke Mansion Arumi pasti sedang menungguku."


Evanya menggeleng dia menyandarkan tubuhnya pada Randika hingga tidak ada jarak di antara mereka. Randika yang hendak memakai baju pun tersentak hingga mendorong keras tubuh wanita itu.


"Evanya!"


"Shit"


Evanya mengerang kasar. Dia sangat benci jika ada pria yang berani menolaknya, terlebih itu adalah Randika.


Dia tidak akan menyerah. Dengan kelicikannya Evanya membuat Randika hingga bergeser tepat di samping tempat tidur lalu dengan mudahnya wanita itu mendorong tubuh Randika jatuh di atas ranjang dan menindihnya. Apapun akan dia lakukan untuk membuat Randika tergoda dengannya hingga lupa untuk kembali pada tunangannya itu.


"Evanya! Apa yang kau lakukan."


"Sssst. Aku akan membuat pagi ini sangat indah."


Wanita itu menunduk memberikan ciuman pada leher Randika sebelum mencium bibirnya dengan kasar. Aroma tubuh Randika yang maskulin membuat Evanya menggila seakan menjadi candu baginya.


.

__ADS_1


.


πŸ‘ΉJangan panas yah gays πŸ˜πŸ˜†πŸ™


__ADS_2