Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 30


__ADS_3

"Hallo Tampan."


"Evanya!"


"Kau mengenali suaraku."


"Tentu saja. Siapa yang tidak hafal dengan suara merdu Pianis cantik sepertimu, semua orang pasti langsung tahu saat mendengarnya."


Evanya terkekeh, tentu saja yang di katakan Brian itu tidak benar, dia pasti akan tau karena satu-satunya orang yang memanggilnya tampan hanya Evanh.ya. "Tapi dia tidak mengenaliku," ujarnya sendu.


"Apa kau menghubungi Randika?"


"Aku menghubunginya berkali-kali. Bahkan mengirimkan pesan mesra untuknya."


"Apa!"


"Kau tahu, dia tidak merespon semua panggilan dan pesanku. Apa dia sudah melupakanku?"


"Untuk apa kau bertanya seperti itu padaku, bukankah kau yang telah meninggalkannya," decak Brian.


"Aku menyesal Tampan, tidak ada yang bisa meluluhkan ku seperti pria dingin itu. Dia bisa membuat ku melayang hanya dengan sekali sentuhan." Pipi Evanya bersemu saat mengatakan kata-kata itu. Dia membayangkan, bagaimana Randika memperlakukannya dulu, Pria sedingin Es itu bahkan sanggup memberinya Bintang jika dia meminta. Namun, entah setan apa yang merasukinya hingga dia lebih memilih Pria lain dan pergi meninggalkan Randika.


"Jangan konyol, Randika tidak akan peduli lagi. Dia sudah bahagia sekarang," ujar Brian.


"Tidak! Tidak ada yang boleh membuat dia bahagia selain aku," jerit Evanya menyipitkan mata.

__ADS_1


"Evanya Please. Jangan egois. Randika sudah bertunangan, dan dia sudah mendapatkan penggantimu. Kesalahan yang Kau buat terlalu besar untuk di maafkan," ujarnya memperingati.


"Dia akan selalu memaafkan semua kesalahanku, tentu saja kali ini juga sama." seru Evanya yakin. Dia tahu Randika pasti masih mencintainya.


"Perasaannya padamu sudah hilang satu bulan yang lalu." terang Brian.


"Apa maksudmu satu bulan yang lalu," sela Evanya penasaran.


"Selama Kau menghilang, Randika terus mencarimu kesana kemari. Dia bahkan  membayar beberapa orang untuk mencarimu ke Prancis. Tapi tidak ada satu orang pun yang memberi kabar tentang keberadaanmu padanya."


"Untuk apa Dia mencariku ke Prancis. Aku tidak Pernah kesana."


"Apa! Kau tidak pernah ke Prancis?" teriak Brian kaget.


"Tentu saja, setelah berita perselngkuhanku terungkap. Aku tidak lagi melanjutkan hubunganku dengan Damien. beberapa hari setelah Randika memutuskan hubungan kami, Aku terbang ke Jepang dan melanjutkan kuliah musik Ku. dan sekarang, Lihatlah ... Aku adalah Pianis terbaik di kota ini."


"Ibuku?" Evanya berdecak kesal. "Kau sampai berbuat sejauh itu untuk memisahkan kami." gumam Evanya pelan. Sangat pelan hingga tak terdengar oleh Brian.


"Apa Kau tadi mengatakan sesuatu? Aku tidak begitu jelas mendengarnya."


"Hmm ..., Tidak! Damien bukanlah alasanku untuk meninggalkan Randika. Dia hanya salah satu senjataku untuk membuat Randika meninggalkanku. dan sekarang aku sangat menyesal karena telah melakukan itu padanya."


"What! Kau bisa berkata seperti ini setelah semua yang Kau lakukan pada sahabatku. Dan untuk apa Kau melakukan semua itu. bukankah kalian saling mencintai."


"Akan Aku ceritakan semua saat sudah kembali."

__ADS_1


"Jangan katakan kalau Kau akan kembali dan merebut Randika dari tunangannya."


"Kau begitu mengenalku Tampan," ucapnya dengan tersenyum tipis.


"Evanya jangan berbuat aneh, kau akan terluka jika terus memaksa. Randika tidak akan bisa meninggalkan tunangannya," seru Brian.


"Maka dari itu Aku butuh bantuanmu. Dengar, Aku ingin Kau mengabulkan satu permintaanku Brian."


"Tidak! jika itu untuk menghancurkan sahabatku kembali."


"Adakan sebuah pesta untukku. Terserah kau pesta seperti apa. Yang terpenting Randika dan tunangannya harus hadir di sana."


"Tidak! aku tidak akan melakukannya."


"Ayolah tampan, aku mohon. Semua kebaikanmu akan aku balas nanti aku berjanji."


"Tapi Evanya, Aku mengenal baik tunangan Randika. Dan jika Randika tahu dalangnya adalah Aku, Kau tau bukan bagaimana Randika," keluhnya menolak permintaan Evanya.


"Tenanglah. tidak akan ada yang tau tentag hal ini hanya kau dan aku, Trust me."


"Bicara dengan siapa kau?"


"Itu suara Randika."


"Ran!"

__ADS_1


"Ada apa, kau terlihat gugup," ujar Randika dengan mata menyipit.


__ADS_2