
Mansion di penuhi teriakan keras Claudia saat melihat Tuan mudanya kembali dengan tangan berlumuran darah. Sedangkan pria yang terluka itu terlihat tenang dengan satu tangan menggenggam tangan yang terluka.
"Apa Arumi sudah kembali?"
"Anda sedang terluka Tuan, sebaiknya obati dulu."
Arumi yang baru saja selesai mandi berlari keluar dengan menggunakan kimono saat mendengar teriakan Claudia. Dia menuruni tangga tanpa takut akan terjatuh. "Ada apa Clau, kenapa kau berteriak."
Arumi terkejut saat maniknya menangkap sosok pria berdiri dengan tangan berlumuran darah.
"Ra-Randika?"
Tubuh Randika hampir jatuh saat wanita itu berlari menghampirinya. "Kau sudah kembali?"
"Apa yang terjadi, tanganmu berdarah."
Gadis berambut panjang itu mengisyaratkan kekasihnya agar duduk. "Ambilkan kotak obat Claudia, cepat!"
"Bien. (Baik.)"
Randika tersenyum lepas, pertama kalinya dia merasa sangat bahagia saat menatap wajah Arumi yang kini duduk di depannya. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Arumi, bibirnya hanya berjarak beberapa senti dari ceruk leher kekasihnya. Randika dapat mencium aroma Vanila wanita yang akan menjadi istrinya. lalu bergumam pelan sebelum kesadarannya hilang.
"Jangan pernah meninggalkanku."
"Randika!"
"Tuan muda!"
🍂
🍂
__ADS_1
🍂
Randika terbangun dengan tangan kanan yang sudah di perban, Arumi membalutnya dengan sangat baik. Dia menggenggam tangan Arumi dan membiarkan wanita itu memeluknya.
"Aku baik-baik saja Sayang."
"No, jangan bergerak," teriaknya saat Randika akan bangun.
"Hanya luka kecil, sebentar lagi juga sembuh."
"Kau pingsan Randika, itu artinya kau kehilangan banyak darah."
"Sayang."
"Please!"
"Baiklah, aku akan diam. Dan sekarang ceritakan, apa yang kau lakukan di bukit de la reine hingga malam. Apa kau tidak takut sendirian di sana?"
"Di rumah pun aku selalu sendirian bukan."
Wanita berponi itu membisu. Dia memilih diam dan menikmati usapan di punggungnya di banding harus berdebat lagi.
"Arumi ...."
"Aku hanya duduk dan bercerita di sana. Kita pernah melakukannya bukan."
"Lalu."
"Ada seorang pria yang menemaniku bercerita. Dan dia sangat manis." Arumi tersenyum saat mengingat bagaimana dia menggoda Brian saat itu.
"Pria?"
__ADS_1
"Dia salah satu pengunjung di sana, kedua orang tuanya telah membuangnya. jadi dia sering ke sana untuk menatap laut."
"Apa kalian juga bertukar cerita?"
"Tentu saja, dia pria yang baik. dia mengubah sedihku menjadi bahagia. Aku sangat senang bisa mengenalnya."
"What?"
wajah Randika sedikit tidak suka mendengar Arumi memuji-muji pria tersebut.
"Lupakan pria itu, kau membuatku cemburu."
Arumi terkekeh. dia mencium tangan Randika yang berbalut perban dengan pelan dan lembut agar tidak terasa sakit.
"Apa yang kau lakukan?"
"Memberi sedikit obat, ciumanku adalah obat terbaik."
"Apa aku boleh mencobanya di sini?" Randika menunjuk pada bibirnya. "Mungkin, luka ku akan cepat sembuh jika ciuman itu ada di tempat semestinya."
Sesuai arahan, Arumi menaiki tubuh Randika dan duduk di atas perut kekar miliknya. Dia melingkarkan kedua tangannya pada leher Randika, manik cokelatnya menatap dalam pada manik hitam di depannya. Lalu dengan cepat dia mendaratkan ciumannya pada bibir kekasihnya yang sedikit basah membuat keduanya sejenak menikmatinya hingga Arumi tersentak saat tangan Randika mengelus pinggangnya.
Wanita itu dengan segera melepas paksa ciumannya hingga membuat kekasihnya kebingungan.
"Ada apa, kau tidak ingin melanjutkannya?"
"Tidak."
"Whay?"
"Kita hanya akan berciuman Randika tidak selebihnya."
__ADS_1
"Kau membuat juniorku menderita."
"What! Junior?"