
"Apa alasannya?"
"Huh?"
"Katakan alasannya, kenapa kau menyukaiku, dan sejak kapan?"
Rilan terdiam, dia menatap Randika dengan wajah datar. "Seharusnya kita tidak pernah membahasnya."
"Itu tidak akan merubah sebuah perasaan Rilan Harper."
Sontak kaget, Rilan menatap Arumi dengan heran karena ini pertama kalinya wanita itu memanggil nama lengkapnya. Randika yang merasa keadaan sudah mulai canggung meminta ijin agar Rilan dan Arumi bisa bucara berdua saja.
"Sebaiknya aku pergi, kalian mungkin tidak akan nyaman jika ada aku di sini."
"Non!" Wanita itu menoleh dengan tatapan tajam. " Bukankah ini kemauanmu? jadi tetaplah di situ," ucapnya dengan wajah tanpa ekspresi.
Randika Menelan ludah kasar, tatapan Arumi benar-benar tajam. Dia tahu dirinya sudah gila karena mengijinkan Rilan untuk mengungkapkan perasaannya meski tahu resikonya akan buruk jika Arumi benar-benar menyukai Pria Prancis itu. Namun, sepertinya dia melakykan kesalahan besar, Arumi sepertinya menjadi sangat marah.
Begitupun dengan Rilan, pria bermata coklat itu menatap Randika sesaat sebelum menyapu wajahnya kasar. Rilan memasang wajah datar andalannya, bersiap untuk apapun yang terjadi setelah pengakuan ini.
"Katakan!"
"Aku menyukaimu di mulai dari awal pertemuan kita saat Randika menugaskanku untuk menjadi penjagamu. Awalnya ku pikir hanya rasa yang biasa. Namun, lama-lama aku menjadi benar-benar menyukai kepribadianmu yang sederhana." Rilan menelan ludahnya dengan sangat susah saat melihat tatapan Arumi yang sama sekali belum pernah dia lihat. Begitu dingin dan tidak berekspresi.
"Kenapa kau diam, apa hanya sebatas itu rasa sukamu padaku?"
"A-Ku."
Rilan melirik pada Randika untuk meminta pertolongan. Namun, pria berwajah asia itu malah mengangkat kedua bahunya tanda tidak ada pembelaan darinya. Dia menarik nafas panjang. "Baiklah, mari kita selesaikan semua ini," batin Rilan.
"Aku akui, dulu memang sempat menyukaimu. Tetapi, itu dulu. Saat aku belum menyadari bahwa rasaku sebenarnya bukan karena menyukai dan ingin bercinta denganmu. Tapi, karena ingin melindungi, menjagamu dan ingin selalu melihat kau kebahagiaan ada di pihakmu. Sama seperti rasa seorang kakak laki-laki kepada saudara perempuannya."
"Lalu."
__ADS_1
"Lalu ... lalu si bodoh ini memaksaku untuk mengatakan perasannku."
Arumi menoleh ke arah tunangnnya.
"Aku hanya ingin dia tidak menyimpan perasaan apapun terhadapmu, itu saja."
"Kau tidak percaya padaku?"
"Bukan seperti itu, Sayang, aku percaya padamu. Maka dari itu, aku mengijinkan Rilan untuk mengatakan isi hatinya. Aku tidak ingin menjalani hubungan dengan bayang-banyang rasa suka orang lain padamu, aku bisa gila jika tiba-tiba kau menghilang bersamanya dan meninggalkanku."
"Dasar bodoh!"
"Sudah ku bilang ja--"
"Kau juga, apa tidak bisa menolaknya, apa kau pikir dengan mengatakan perasaanmu hatimu akan legah?" Arumi membuang nafas berat. "Kau akan membuat hubungan kita terasa canggung, dan sekarang entah aku harus memanggilmu kakak atau namamu saja. Ini semua membuat dadaku sesak." Gadis itu mengatakannya dengan terisak.
"Hei kau menangis?"
"Ini semua karena mu bodoh! sudah ku katakan jangan lakukan ini."
"Aku bahkan sudah mengubur rasa suka ku padanya karena tidak ingin kehilangan dia."
Rilan sekali lagi menatap kaget, seperti tersabar petir saat Arumi mengatakan menyukainya. Ternyata benar, Arumi pernah menaruh rasa suka padanya. "A-apa?"
"What? Apa katamu?"
"Arumi jangan bercanda," ucap Rilan yang sudah sedang binging.
"KAU PERNAH MENYUKAI RILAN?"
Masing dengan tangisan wanita bermanik cokelat itu berteriak. "Yah ... aku menyukainya dan membencimu!"
"What?"
__ADS_1
Randika masih belum mengerti membuat wanita itu melanjutkan. "Aku membencimu! kau selalu memperlakukanku dengan tidak baik, selalu menghinaku, kau bahkan tidak berniat menikahiku."
"Apa yang kau katakan Arumi, aku mencintaimu, menyayangimu lebih dari apapun, aku sudah mengajakmu menikah bukan."
"Lalu kenapa sekarang kau malah menyuruh orang lain menyatakan perasannya padaku?"
"Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadap Rilan Arumi, bukan menyerahkanmu padanya."
"Kau bohong! kau tidak mencintaiku."
"Arumi demi Tuhan itu tidak benar." Randika mendekat hendak memeluk wanitanya. Namun, terhenti dengan sentakan Arumi.
"Jangan mendekat, aku tidak ingin bersamamu," ucapnya dengan terisak.
"Ya Tuhan!"
Randika memaksa untuk memeluk Arumi, menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Dia menyeka air mata wanita itu ketika buliran itu hendak menetes lagi. "Jangan mengatakan kebohongan seperti itu lagi, kau hampir membuatku mati menegang."
"Seharusnya seperti itu tadi."
"Sayang!"
"Kau menyebalkan."
"Tapi kau tidak benar-benar serius mengatakannya bukan?"
"Aku memang menyukainya, mencintainya tapi hanya sebagai saudara laki-laki. Aku tidak berani menyukainya karrna cinta antara lawan jenis. Rilan terlalu baik bagiku dan aku tidak ingin kehilangan dia hanya karena perasaan sesaat."
Rilan tersenyum hambar, dia mengerti apa yang di lakukan wanita itu. Arumi hanya mengatakan kebohongan agar Randika merasa buruk. Manik hitam itu tidak beralih sedikitpun, melihat wanita berambut panjang itu menatap kekasihnya dengan wajah penuh marah. Namun, faktanya dia hanya ingin memastikan keseriusan Randika.
Ternyata mereka di takdirkan hanya sebagai saudara bukan sepasang kekasih, dan itu faktanya sekarang. Rilan sadar akan posisinya, Randika adalah pria tepat untuk adik manisnya itu. Pria itu tersenyum tipis sebelum akhirnya meninggalkan sepasang kekasih yang sedang saling menyalahkan.
Sakit hati? yah tentu saja. Dia bahkan berharap wanita yang memiliki warna manik yang sama dengannya itu benar-benar serius dengan ucapannya kalau dia pernah menyukainya. Namun, harapan itu sirna. Melihat bagaimana Arumi menangis di pelukan bersama Randika membuat dia menyadari bahwa merelakan cinta tidak selalu berakhir dengan rasa sakit.
__ADS_1
"Semoga kalian tetap seperti ini, bahagia tanpa ada yang merusak. Aku akan selalu menjadi tameng jika ada orang lain yang berani merusak kebahagiaan kalian," gumam Rilan berjalan pergi.