Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 22


__ADS_3

Drzz ... drzz ... drzz ....


Randika merogoh benda pipih miliknya dan melihat pada layar, satu pesan dari nomor tidak dikenal muncul di sana dengan isi pesan yang membuat dahinya berkerut.


'I miss you.'


Rilan yang melihat ekspresi Randika berubah langsung bertanya. "Ada apa?" 


Randika segera menggeleng. "Tidak."


Dia kembali mengotak-atik pengaturan ponsel miliknya dan membiarkannya masuk kembali ke dalam saku. 


Randika dan Arumi pun di persilahkan menuju altar. Arumi menarik napasnya dalam sesaat sebelum Randika mendekatinya, meminta gadis berponi itu untuk ikut bersamanya. Sungguh malam ini pria pemilik mata hitam itu berbeda dari Randika yang dulu pernah dia kenal. Dia sangat Romantis, mengingatnya saja membuat Arumi tersenyum sendiri, hatinya di penuhi oleh bunga-bunga.


"Kau siap?"


"Yah," jawab Arumi pada pria yang akan menjadi tunangannya itu. 


Seketika itu jantungnya berdetak kencang, tangan Arumi melingkar erat di lengan Randika menuju altar. Pria yang berjalan di sampingnya saat ini sangat gagah dengan jas biru dia tampan dan terlihat rapih, meski sehari-hari juga dia sangat rapih. 


Mereka bertukar cincin, sebelum akhirnya raut wajah ketegangan Arumi menghilang saat bibir Randika kembali menyentuh puncak kepalanya. 


"Apa ini yang di namakan jatuh cinta?"


*

__ADS_1


*


*


Sementara itu, di belahan Bumi lain, seorang Wanita terlihat tengah putus asah. Berulang kali dia mengecek ponsel miliknya untuk memastikan apakah pesannya dibalas atau tidak. Namun sama sekali tidak tampak adanya perubahan pada ponselnya.


"Sial kenapa dia tidak membalas pesanku, apa dia sudah melupakanku?"


Wanita itu mondar-mandir tidak jelas di dalam kamarnya, dan terus saja memandangi ponselnya sambil menggigit hujung jarinya gunda Antara terus mengirimkan pesan atau menghubungi langsung.


Akhirnya setelah lama bergelut dengan pikirannya, wanita itu kemudian melakukan sebuah panggilan telepon. Namun, lagi-lagi Randika sama sekali tidak merespon, sudah beberapa kali dia menyambungkan panggilan namun Pria yang sudah berubah status itu mengabaikannya.


Wanita itu mengeram, mencaci dan meneriaki ke arah benda pipih miliknya itu. "Apa kau benar-benar membenciku, hingga panggilan dan pesanku saja kau abaikan," keluhnya.


"Aku tidak akan menyerah, lihat saja nanti, akan aku buat kau bertekuk lutut di hadapanku Randika Garrett! Kau hanya milikku! Hanya milikku! Batinnya




"Aku ucapkan selamat sekali lagi," ucap Brian dengan kerlingan menggoda.


Randika tergelak. "Dasar mesum."


"Ran, aku titip Rumi, jaga dia dengan baik." ucap Rilan menepuk bahu Randika.

__ADS_1


Randika pun menjawab dengan memberikan senyum simpul pada Rilan. Arumi yang menyadarinya pun hanya berdecak.


"Dasar Robot."


Setelah selesai memberi selamat, Rilan dan Brian pun berlalu dan menghilang dibalik pintu utama. Kini, hanya tinggal Randika dan Arumi yang masih betah di sana. Sebenarnya hanya Rilan, karena sedari tadi Gadis itu ingin sekali meninggalkan Aula. Namun dia ragu. Jika pergi begitu saja, pasti tidak enak, akhirnya dia terdiam kaku di tempatnya dengan wajah datar.


"Apa aku harus menggendongmu untuk kembali ke kamarmu?" tanya Randika memecah ketenangan.


Arumi memekik "Dasar Robot, tidak perlu aku punya kaki," jawab Arumi kesal.


"Sepertinya Akhir-akhir ini aku sangat baik hingga membuatmu berani melawanku," ucap Randika sengit.


"Ti-tidak! Aku tidak sedang melawanmu," ucap Arumi panik.


"Lalu apa ...!" tanya Randika geram.


"Aku hanya menunggumu! Kenapa kau jadi marah-marah padaku," jawab Arumi yang ingin menangis.


"Hei ... kau mau menangis? tidak boleh sekarang Sayang. Belum saatnya," ujar Randika menyeringai.


"Maksudmu?"


"Apa kau lupa dengan perjanjian itu? besok adalah hari pertamamu. Jadi, tidurlah lebih awal karena tugas pertamamu dimulai dari jam enam pagi besok" papar Randika yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Arumi yang masih terlihat bingung.


"Aku pikir dengan berubahnya sikap kasarmu menjadi lembut beberapa hari ini padaku, membuat mu lupa dengan perjanjian itu. Ternyata tidak. Dan bodohnya, Aku malah mulai jatuh cinta kepadamu.

__ADS_1


 


__ADS_2