Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 110.


__ADS_3

Aurela melempar malas ponselnya, dia menggerutu sebelum masuk ke kamar mandi. Di bawah guyuran shower Aurela memejamkan mata merasakan kehadiran Rilan dalam imajinasinya. Bagaimana pria itu menyentuhnya, membelainya, bahkan dekapan yang di berikan Rilan membuat Aurela bergairah saat itu juga.


Untuk saat ini Aurela berfikir bahwa Arumi adalah saingan terberatnya. Entahlah, mungkin karena wanita itu memiliki posisi penting di hati Rilan, dan dia adalah wanita pertama yang di sukai oleh Rilan.


Aurela tidak ingin kehilangan Rilan, sampai kapanpun dirinya akan mengikat Rilan hanya bersamanya. Terlebih dia tidak ingin Rilan menyentuh wanita lain. Memikirkan-nya saja membuat Aurela gila. Apapun resiko-nya dokter hewan ini tidak akan menyerah. Dia harus mempertahankan Rilan untuk tetap menjadi miliknya.


"**** .... Aku hampir gila karena pria itu."


"Pria mana yang sudah membuatmu gila."


Mata Aurela membulat saat Rilan tiba-tiba mendorong pintu kamar mandi dan berjalan mendekatinya. "Rilan?"


"Kau memikirkan pria lain saat aku tidak ada."


"Apa kau bercanda, pria itu adalah kau."


"Benarkah?"


Aurela terkekeh, dia tidak pernah berhubungan dengan pria mana pun seperti ini. Namun, dia tahu, bersama Rilan, akan membuat dia bahagia.


Aurela berbalik, dia melingkarkan kedua tangannya pada leher Rilan. "Bukankah hari ini kau mengunjungi Arumi? Bagaimana, apa keadaan sudah membaik?"


Pria itu hanya tersenyum diam, tanpa rasa canggung dia memberikan ciuman pada leher Aurela sebelum berbisik. "Kau tidak malu seperti ini di depanku?"


"Aku?" Dokter wanita itu terkekeh. "Kau sudah melihatnya sebelum ini Rilan. jadi untuk apa aku malu."


"Apa aku boleh bertanya."


"Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku."


"Jangan menanyakan orang lain jika kita sedang bersama."


"Apa kau benar-benar menyukai ku?

__ADS_1


"Kau bertanya seperti itu lagi Aurela."


"Aku hanya ingin tahu, seberapa besar hatimu aku miliki."


"Kau bisa memiliki ku tanpa syarat."


Dan momen ini tidak di sia-siakan oleh Aurela, gadis itu mendambakan Rilan sejak dulu. Seketika wanita itu memeluk tubuh Rilan dengan erat, membuat dada kekar milik pria yang hanya menggunakan celana bokser itu menatap kaget.


"Apa yang akan kau lakukan."


"Ini akan seru," ucapnya mencium bibir pria itu dalam hingga tangan Rilan otomatis berselancar pada tubuh Aurela yang terlihat sangat menggoda.


Ciuman mereka semakin liar, beralih ke beberapa titik membuat Aurela menggerang, Rilan refleks membungkam bibir wanita itu dengan tangannya agar suaranya tidak sampai keluar. Apalagi klinik milik Aurela ada beberapa perawat yang masih bertugas.


"Whay?" ucap Aurela di sela napasnya yang tercegat. Dia frustasi tatkala Pria bermanik cokelat itu memainkan emosinya.


Rilan terkekeh, dia kembali menarik tubuh Aurela mendekapnya. "Kau sungguh tidak bisa diam."


"Apa kau tidak ingin melanjutkannya?"


"Kau selalu seperti ini."


Pria itu kembali terkekeh mendapati raut wajah Aurela yang kecewa, dia membalut tubuhnya dengan handuk dan menyandarkan tubuhnya pada ambang pintu. "Tenanglah, kita akan melanjutkannya nanti."


"Rilan!"


*


*


*


*

__ADS_1


"Apa Rilan sudah bisa di hubungi?"


Arumi menggeleng dengan wajah datar.


"Dimana pria berwajah es itu, sudah dua jam kita menghubunginya, bahkan pesan saja tidak dia baca."


"Memangnya kenapa, kau bahkan akan melakukan hal yang sama jika bersama wanita Randika."


Pria itu memincingkan mata menatap kekasihnya.


"Jangan menatapku seperti itu. Kalian semua pria sama saja. Yang membedakan kalian hanyalah wajah, tingkah dan kelakuan kalian sama." Arumi berhenti saat selesai menuruni tangga. "Jangan memberi komentar apa pun. Aku sudah melihat sendiri buktinya."


"Hentikan ocehan gilamu itu, dan kemarilah." Randika merentangkan tangan memberi isyarat agar Arumi mendekat ke arahnya.


Arumi mendekat. Namun, enggan menjemput ukiran tangan Randika, membuat senyum pria bermanik hitam itu luntur tatkala wanita itu memberikan tatapan datar.


"Ada apa lagi? Apa aku membuatmu kesal?"


Arumi memutar kedua bola matanya malas, saat dia hendak beranjak pergi, pria yang bersandar pada sofa di samping menahan tangannya.


"Kau tidak akan ke mana pun."


"Aku tidak mau di peluk, Mom dan Daddy ada di Mansion Randika," bisik Arumi kesal.


Pria itu terkekeh, dia menarik tangan Arumi lebih keras lagi hingga dada mereka beradu. "Kau semakin cantik dan menggemaskan."


"Menjauh dariku!"


"Aku serius."


"Dasar Robot penggoda."


"Apa kau bahagia?"

__ADS_1


"Sangat .... Bagaimana denganmu."


Arumi menengadah, dia di sambut oleh ciuman bibir Randika yang kemudian berlangsung lama. Mereka berciuman tanpa peduli kalau saja ada yang melihatnya, sampai kebersamaan mereka oleh seseorang yang berdehem. "Maaf mengganggu."


__ADS_2