Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 113.


__ADS_3

Randika berjalan dan berhenti di depan Arumi. sedetik setelahnya dia berjongkok hingga bisa menggenggam tangan Arumi yang duduk di depannya.


"Sayang ...."


"Kenapa? apa kau ingin mengatakan bahwa pernikahan kita di batalkan."


"What? memangnya siapa yang ingin mengatakan seperti itu."


"Aku tidak butuh penjelasan."


"Maafkan aku, aku tahu aku salah."


"Bagus jika kau menyadarinya. Sekarang pergilah."


"Bukankah kau membutuhkanku?"


"Aku tidak membutuhkan pria berengsek sepertimu," ucapnya memalingkan wajah.


Randika menarik napasnya dalam. Menggenggam


semakin kuat jemari Arumi. "Aku tahu aku salah, tapi ini tidak seperti yang kau pikirkan Sayang."


"Pergilah Randik, pergi dari hadapanku."


"Dia membutuhkan aku Rumi."


Akhirnya manik cokelat itu membalas tatapan Randika. "Dia membutuhkanmu? lalu apa aku tidak?"


"Arumi."


"Kau melanggar janjimu Randika."


"Sayang, aku hanya-"


"Pergilah, temui dia dan lakukan apapun yang ingin kalian lakukan."


"Apa kau gila."

__ADS_1


"Kau sudah mengecewakan ku."


"Makanya sekarang aku minta maaf." Pria itu sunggu tidak tahu apalagi yang harus dia katakan. "Dengarkan aku dulu Arumi, ak--"


"Pergi!"


Randika menghela napas panjang, dia berdiri dan mengelus puncak kepala kekasihnya sebelum melangkah. Sedetik setelahnya, Arumi kembali berkata.


"Aku ingin pernikahan kita di batalkan."


Randika berbalik dengan seketika, kata-kata Arumi membuat langkah kakinya terhenti, jantungnya seakan tertikam beribu-ribu panah, sangat sakit saat mendengar ucapan kekasihnya.


"Apa kau gila! Kau boleh mengatakan apa saja, menyuruhku pergi dan menjauh akan aku lakukan tapi tidak untuk yang satu ini."


"Lalu untuk apa kita menikah tapi hati dan perasaanmu masih bersama wanita itu. Aku tidak ingin berbagi dengan siapa pun. Apa pun alasannya aku tidak mau."


"Arumi, kau berfikir terlalu jauh Sayang, demi Tuhan aku tidak melakukan apa-apa."


Arumi menggeleng kuat. "Kau pernah meninggalkan ku sekali untuk wanita itu dan sekarang kau ingin mengulangnya lagi? Aku tidak mau! aku tidak mau!" jerit Arumi terdengar frustasi.


"Arumi, tidak seperti itu." Randika berusaha menangkup wajah kekasihnya. Namun, di tepis keras oleh perempuan itu. "Arumi, hei sayang ... Tatap aku."


"Tidak!"


"Tidak!"


"Sayang!"


"Tidak!" Arumi menatap manik Randika dengan tajam.


"Setop! Arumi setop! Sekarang dengarkan aku."


Wanita itu akhirnya diam. "Dengar Arumi, masa lalu ku tidak akan menghalangi kebahagiaan kita, rencana masa depan kita. Pernikahan kita akan tetap terjadi, jadi tenangkan dirimu. Aku tidak akan meninggalkanmu."


Randika kembali menangkup wajah kekasihnya, memberi isyarat dengan tatapan matanya bahwa dia serius dengan apa yang dia ucapkan.


"Semua baik-baik saja, tidak ada yang berubah. Dan aku janji, Aku tidak akan mengingat apapun dari masa laluku."

__ADS_1


Perempuan yang lelah karena pemberontakan itu terdiam, menengadah menatap manik kekasihnya tanpa berkedip. Dia menelusuri ke dalam mata Randika mencari apakah ada kebohongan di sana.


"Aku mencintaimu Arumi. Tidak ada selain dirimu," ucapnya dengan sunggu-sunggu.


Gadis itu kembali menunduk lalu terisak, ketakutan akan kehilangan orang gang sangat dia cintai membuat dia menggila.


"Sayang .... Tatap aku."


"Tidak."


"Ayolah Sayang."


"Aku membencimu," ujarnya pelan.


"Dan aku juga sangat mencintaimu."


"Tapi aku membencimu ..."


"Yah, aku tahu. Aku juga sangat mencintaimu."


"Itu tidak benar."


"Dengar lah. Jantungku berdetak hanya untukmu."


Manik Arumi tidak bisa menahan air matanya, begitu juga dengan Randika. Dengan penuh kelembutan pria yang memiliki warna mata hitam itu memeluk erat tubuh kekasihnya. Entah kenapa perasaan tiba-tiba membuat air matanya naik ke permukaan. Nyatanya dia sangat mencintai Arumi dan tidak akan sanggup jika perempuan itu pergi dari hidupnya.


Randika Mencium puncak kepala Arumi, memberitahukan kepada wanitanya bahwa dia sangat mencintainya.


Isakan Arumi pun terhenti, "Jangan pernah menemui wanita itu lagi."


"Aku janji."


"Kau selalu tahu cara merayuku."


"Apa maksudmu, aku tidak mengerti. Memangnya kita kenapa."


"RANDIKA!"

__ADS_1


Pemilik manik hitam itu terkekeh, dan memilih mengeratkan pelukannya. "Aku mencintaimu."


__ADS_2