
Lampu Mansion sudah padam, memang dirinya pulang dengan sangat larut, Clarisa membuat hari ini dia lewati dengan sangat berat. Akibat sakit hatinya membuat Randika harus menangani semua rapat sendirian, hingga membuat dia lupa bahwa hari ini ada janji bersama kekasihnya. Namun, setidaknya semua urusan kantor sudah dia selesaikan. Karena setelah pernikahan Randika dan Arumi akan berbulan madu ke kuba.
Perlahan, dia melangkah ke arah kamar wanita bermanik cokelat itu. Mungkin saja sekarang Arumi sedang marah padanya. Hari ini dia terlalu sibuk hingga tidak sempat membalas pesan bahkan menerima panggilannya.
"Nona enggan makan dari tadi siang Tuan. Sedari pagi dia terus menunggumu." ucap Minora yang tiba-tiba muncul di balik punggungnya.
Benar saja perempuan itu tidur dengan kening yang berkerut penuh kegelisahan. Bibir manyunnya mendakan bahwa dia memang sedang merajuk. Namun, yang di khawarirkan Randika adalah pernikahan mereka sudah di depan mata, jika Arumi terus marah bagaimana jika dia membatalkan pernikahan mereka.
"Apa dia benar-benar marah?"
Minora mengangguk pelan. "Dia bahkan mengumpatmu sepanjang hari," bisik minora dengan wajah serius.
Kalimat yang kembali membuat Randika merasakan penderitaan batin. "Menurutmu apa yang harus aku berikan pada Arumi."
"Maksud Tuan?"
"Aku ingin memberikan sesuatu agar dia tidak lagi marah-marah padaku."
"Tidak ada hadia yang lebih berharga dari pada perhatian dan kepekaan seorang pria terhadap wanitanya Tuan. Jika kau benar-benar mencintainya, berikan kesetiaan kepadanya. Genggam tangannya dan segerlah menuju altar untuk mengucapkan janji suci."
__ADS_1
Randika begitu serius mendengar satu-persatu kata yang di ucapkan Minora.
"Aku akan melakukannya Minora, semoga Tuhan merestui setiap langkah dan niatku untuk membahagiakan Arumi."
Ketika mereka sedang berbincang, terhenti oleh suara teriakan Arumi meneriaki Minora. Randika dengan cepat masuk lebih dulu yang mana di sambut dengan wajah masam dari Arumi. Dengan segera pria itu mendekat. "Sayang?"
Arumi memutar wajah saat Randika mendekat dan merentangkan tangannya. Dia memilih berbaring kembali dan mengacuhkan keberadaan Randika.
"Sayang, maafkan aku. Hari ini Clarisa membuatku sedikit kewalahan dengan jadwal rapatku."
"Dasar pembohong!"
Dengan membelakangi Randika, Arumi merasakan jemari kekar itu menelusuri mencari tangannya dan memainkannya tepat pada cicin yang Randika sematkan saat pertunangan mereka.
"Sayang."
"Kau selalu membohongiku, membiarkan aku menunggu dan memanfaafkan kebodohanku karena terlalu mencintaimu," ucap Arumi dengan nada suara sedikit tinggi, membuat pria bermata hitam itu sedikit tercegang. Apalagi saat Arumi membalikan badan dan menatapnya dengan tajam.
"Apa kau sengaja membuat aku marah, biar pernikahannya di batalkan?"
__ADS_1
"Tidak Sa--"
"Apa kau akan meninggalkanku dan kembali dengan wanita itu lagi?"
"Sayang, tenanglah," ucap Randika menarik Arumi kedalam pelukannya. Namun dengan sangat kasar wanita itu menolak dan mendorong tubuh Randika agar menjauh.
"Aku tahu apa yang kau sembunyikan dariku Randika, aku tahu."
Kepala Randika menengada, dia mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. "Aku bersumpah tidak ada apapun yang aku sembunyikan darimu Sayang."
"Pembohong!"
Randika menarik napas dalam-dalam, menatap kekasihnya yang sedang di kuasai amarah. "Sayang, aku tidak akan melakukannya. Aku sangat mencintaimu dan menginginkanmu."
Sesaat wanita itu tidak mempercayai. Ada sesuatu di dalam hatinya yang terus memberi tekanan bahwa Randika memang sedang berbohong. Namun, bukankan pernikahannya dan Randika tinggal beberapa hari lagi. Jika Emosi ini masih terus menguasai raganya makan semua impianya bersama Randika bisa hilang karena keegosisannya.
Arumi meneteskan air mata karena tidak sanggup memahan tekanna batinnya, membuat pria yang ada di hadapannya kembali tercengang. Merasa Arumi sudah lebih tenang, Randika mencium keningnya dan kembali meraih Arumi ke pelukannya.
"Jangan terus membuat aku menunggu Randika."
__ADS_1
"Aku janji. Maafkan aku."