Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 120.


__ADS_3

Ketika mata Arumi terpejam, indera pendengarannya aktif. Arumi mendengar keluh kesah Randika yang dia ungkapkan kepada Minora. Baik pernyataan cinta, juga rasa penasaran tentang seberapa besar amarah kekasihnya. Dan Arumi bersyukur bisa mendengarnya. Dia bisa tahu, seberapa besar cinta dan keseriusan Randika padanya.


Musim telah berganti dari musim gugur menjadi musim dingin. Dan musim dingin kali ini berbeda dari tahun sebelumnya. Musim dingin tahun lalu, dia menangis karena kehilangan kedua orang tuanya. Namun, tahun ini, dia tersenyum menyambut kehidupan barunya.


"Kau seharusnya makan Sayang pipi mu terlihat kurus."


Arumi menampilkan wajah cemberut, dia mengeratkan pelukan kekasihnya. "Aku lapar," ucapnya pelan.


Randika menatap jam tangannya, jam menunjukan sudah lewat tengah malam. Dia yakin para pelayan juga sudah tidur. Dia berfikir sejenak, mungkin saja Minora belum tidur. Randika bergerak cepat melepaskan pelukannya berjalan keluar untuk mengecek Minora. Namun, belum lagi tangannya meraih gagang pintu, suara Arumi menghentikan langkahnya.


"Sayang, mau ke mana?"


"Sebentar Sayang, aku akan memanggil Minora."


"Dia baru saja akan tidur karena sedari tadi menjaga ku Sayang. Biarkan dia istirahat."


"Lalu siapa yang akan membuatkan makanan?"


"Kau bisa membuatnya bukan. Nasi goreng, kau bisa membuatkan nasi goreng untuk ku."


"What?" Randika berhasil di buat tergagap, dirinya menatap kekasihnya dengan tatapan permohonan. "Sayang, aku tidak tahu cara membuat nasi goreng."

__ADS_1


"Kau ingin membiarkan aku kelaparan dan sakit perut?"


"Tapi."


"Baiklah, lupakan saja. Biarkan perut ini kosong sampai pagi," ucapnya kembali menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


Randika menarik napas dalam. "Oke, aku akan mencoba membuatnya," ucapnya dengan ragu. Dia mencium kening kekasihnya lalu bergegas keluar kamar dengan langkah berat.


"Seharusnya aku tidak mengungkit soal makan tadi, Sial," umpat Randika di sela langkahnya.


Randika tidak mahir dalam hal masak-memasak, dia hanya pandai menaklukan hati wanita. Namun, karena cinta dia terpaksa harus melakukan-nya.


Dia membuka lemari penyimpanan mencari wadah untuk memasak, dia menemukan wajan besar dan meletakan-nya di atas kompor.


"Oke, sekarang telur." Randika kembali membuka satu demi satu laci dan tidak menemukan telur. "****, dimana telurnya?" Pria itu berfikir sejenak. "Oh, mungkin di lemari pendingin."


Dia bergegas membuka lemari pendingin, dan menemukan telur di sana. Namun, setelahnya dia bingung harus apalagi. Dia bahkan sudah beberapa kali mencoba membuatkan telur. Namun, selalu gagal. Entah telurnya asin, hancur, atau gosong.


Lelah dengan kekonyolan yang dia buat sendiri, akhirnya Randika memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Minora. Pelayan kecil itu mungkin belum begitu terlelap. Dan benar saja, Minora masih terjaga dan keluar dari kamar.


"Monsieur?"

__ADS_1


"Bisakah kau membantuku membuatkan nasi goreng?"


Pelayan itu sedikit kaget dengan permintaan Randika, dengan wajah lugunya dia bertanya kembali. "Apa tuan lapar? Jika betul, bukankah Claudia yang lebih tahu selera makan Tuan, kenapa harus membangunkan aku."


"Dasar cerewet? bisakah kau memberi jedah dalam berkata. Mulutmu seperti kereta listrik."


Sontak Pelayan itu menutup mulutnya.


"Cepatlah, bantu aku."


"Oui Monsieur."


Randika berjalan lebih dulu menuju dapur, di ikuti Minora yang melangkah dengan wajah cemberut. "Arumi lapar, dan dia menginginkan nasi goreng. Aku tidak bisa membiarkan dia tidur dengan perut yang kosong, maka dari itu aku memutuskan membuatnya," ucap Randika memberi penjelasan saat Minora masuk ke dapur.


Mata Minora membulat melihat keadaan dapur yang sangat berantakan. "Oh mon Dieu, apa semua ini kerjaanmu Tuan?"


"Aku hanya mencoba membuat telur lebih awal, Namun, seperti yang kau lihat, semua itu gagal."


Wanita itu memekik tidak percaya. "Jika Claudia yang kau bangunkan tadi, maka aku yakin wajan ini akan melayang ke arah mu."


"What?"

__ADS_1


__ADS_2