Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 129.


__ADS_3

"Apa kau sudah makan?"


Aurela menengada, menggeleng menatap kekasihnya dengan wajah cemberut. "Bisakah kau tidak terlalu lama bekerja, aku tidak bisa terus menunggumu seperti ini, itu membosankan."


"Maaf," ujar Rilan lalu mencium pada puncak kepala kekasihnya.


"Kau tidak ingin berhenti bekerja pada Randika?"


"Aku tidak bisa," jawab Rilan.


"Karena Arumi?"


Rilan hanya diam, tidak ada satu katapun yang ia keluarkan saat mendengar ucapan Aurela.


"Jawablah!"


Pria bermata elang itu mengeles dagu wanita di depannya. "Kau sangat tahu untuk apa aku tetap berada di dekat Randika, Aurela."


"Aku tahu, karena ingin tetap menjaga Arumi."


"Jadi untuk apa aku harus menjawab jika kau tahu alasannya."


"Randika, bisa menjaganya, dia kekasih yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Bukankah tugas suami adalah menjaga sang istri."


"Kau benar, tapi aku adalah saudara lelakinya, aku pun harus menjaganya," ujar Rilan pelan Namun, penuh penegasan.


"Terserahlah."


Jawaban Rilan membuat wanita itu sedikit merasa tersisihkan, dia bahkan melepaskan pelukan dan beranjak menjauh dari pria bermata cokelat itu. Membuat Rilan kembali menyapu kasar wajahnya.


"Ini yang membuatku tidak ingin memiliki pasangan," gumam Rilan pelan, pria itu membuang napas panjang dan berjalan mendekati kekasihnya. "Aurela, ayolah. Jangan bertengkar lagi aku sedang lelah."


"Kalau begitu tidurlah."


Pria itu kembali mendesah. "Baiklah, apa yang kau inginkan."


"Aku ingin kau berhenti menjadi budak Randika dan biarkan Arumi, dia punya kehidupan sendiri dan kau pun begitu."


"Sudah kuduga, kau tidak bisa menyeimbangiku."


"Apa maksdmu?"


"Aku akan pergi."

__ADS_1


"Non!"


"Aku butuh ketenangan, aku benar-benar lelah."


"Kau akan pergi ketika kita sedang membahas hal penting."


"Apa yang penting, ini semua omong kosong. Sudah ku katakan berulang kali, selain dirimu Arumi adalah prioritasku."


"Dia bahkan bukan saudara kandungmu."


Mata elang Rilan menatap tajam ke arah Aurela. "Kita tidak bisa bersama jika kau tidak bisa mengerti akan posisiku."


"Aku hanya ingin prioritas mu adalah kita, bukan orang lain."


"Kita tidak sedang berada di dunia dongeng. Di sekitar kita ada orang lain yang membutuhkan kita Aurela, jangan berlebihan."


"Aku tidak berlebihan, aku hanya tidak ingin kau selalu mementingkan Randika dan wanita itu."


"Jangan egois Aurela! Kita bahkan baru saja memulai hubungan."


"Aku .... Egois? Aku hanya sedang melihat apakah kau serius denganku atau tidak, bukan egois."


"Untuk itu aku katakan kau tidak bisa menyeimbangiku. Aku sudah berjanji akan selalu menjadi saudaranya, kakak laki-lakinya, tidak ada yang akan berubah, perlakuanku, perasanku dan hubunganku dengannya. Selamanya akan tetap seperti itu. Kau atau siapa pun tidak bisa merubahnya." Rilan begitu marah, dia mengucapkan semua kalimat itu dengan penuh penekanan, berharap kekasihnya pun mengerti.


"Aurela!"


"Matamu mengatakan seperti itu."


"Ini yang aku khawatirkan dari seorang wanita. Kita tidak akan bisa cocok jika salah satu dari kita tidak bisa memahami."


Rilan mengambil jaket, dan kunci mobilnya kemudian berlalu menuju pintu, dia benar-benar kecewa karena mengira Aurela adalah wanita yang akan mengerti akan dirinya.


"Kau mau ke mana?"


"Aku akan kembali ke apartemenku."


Dengan cepat Aurela menghadang dengan merentangkan kedua tangannya. "Meninggalkanku sendirian lagi? Tidak!"


"Aku butuh istirahat, besok adalah hari besar. Jika aku terus di sini, kita akan terus bertengkar."


"Tapi Rilan! Aku butuh kejelasan."


"Renungi sikapmu dan kita akan bicara lagi," ujarnya mendorong pelan tangan yang Aurela rentangankan agar tidak menghalangi jalannya.

__ADS_1


"Rilan! Rilan aku mohon jangan pergi! Rilan!"


Teriakan Aurela tidak bisa menghentikan langka pria bermata elang itu, membuat dokter hewan itu semakin marah dan kesal.


"S h i t .... Apa yang harus aku lakukan agar dia bisa melupakan wanita itu. Dia benar-benar membuat ku terlupakan."


Bebera menit setelah kepergian Rilan, ponsel Aurela berdering. Mengira itu adalah Rilan, dengan sangat bersemangat perempuan itu menjawab panggilan teleponnya. Tring tring teing.


"Hallo?"


'Aurela, apa itu kau?'


"Yah, siapa ini?"


'Aku, Arumi,' jawab perempuan bermata coklat itu dengan riang. Namun, yang mendengarnya di sana tidak merasakan hal yang sama.


"Oh, adik kesayang kekasihku," ujar Aurela ketus.


'Huh?" Arumi sedikit tidak senang mendengarnya. Namun dia berusaha untuk tetap menyapa dengan baik. "Yah, kau benar."


'Tapi bukankah itu terdengar tidak enak.'


"Ada apa kau menghubungiku selarut ini?"


'Aku ingin kau menjadi bride ku, kau mau bukan? Jika iya, aku akan kirimkan baju ini untukmu. Aku juga ingin bunga ini menjadi milikmu besok nanti, kau harus menangkapnya agar bisa segerah menikah dengan kak Rilan,' ujarnya dengan tersenyum bahagia di sana.


Akan tetapi, sepertinya Aurela tidak benar-benar menanggapi ucapan Arumi, entah pikirannya sedang kemana. Gadis yang kesehariannya selalu bersama hewan itu tidak menjawab, membuat Arumi harus sekali lagi memastikan keberadaanya.


"Hei Aurela, apa kau masih di sana?"


"Ah, maaf. Aku sedikit gugup," ucapnya berbohong.


Merasa aneh dengan jawaban Aurela, Arumi malah terkekeh. 'Aku selalu berharap jika kau adalah jodoh yang tepat untuk kakak ku.'


"Terimah kasih Arumi. tapi maaf aku harus istirhat."


'Oke baiklah, pelayanku akan mengantarkan baju ini padamu. Semoga kau suka.'


"Terimah kasih."


'Sampai bertemu besok kakak ipar,' ucapnya menutup sambungan.


Aurela menarik napas dan membuangnya dengan kasar. "Jodoh? Menikah?" Perempuan itu melempar ponselnya ke atas tempat tidur.

__ADS_1


"Kehadiranmu bahkan membuat hubungan kita tidak baik, lali bagaimama bisa kita menikah."


__ADS_2