
Setelah sejak tadi memasang wajah datar, akhiranya pria dengan manik hitam itu kini tersenyum. Dia mengusap kepala kekasihnya sebelum mengisi waffle masuk ke mulutnya.
"Matamu sembab, apa semua baik-baik saja?"
"Seperti yang kau lihat. Aku sangat legah semua sudah kembali normal."
Randika tersenyum. "Sudah ku katakan tidak ada yang perlu kau khawatirkan."
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kak Rilan benar-benar mengabaikanku."
"Nyatanya tidak bukan."
"Terimah kasih sudah begitu mengerti."
"Tuhan tahu aku melakukan hal yang benar."
"Semoga tidak ada lagi perpisahan antara kita ataupun orang-orang yang berada di sekitar kita. Aku ingin memiliki mu, tanpa harus kehilangan orang-orang yang begitu dekat sekitarku."
"Akan aku pastikan semua itu terwujud."
"Aku menyayangimu Tuan muda Randika Garret."
"Dan aku sangat, sangat mencintaimu Nona Arumi Chaska."
Keduanya berpelukan di tengah-tengah kawanan jomblo yang sedang bertugas, membuat ke tiga pelayan itu memutar badan seketika.
"Kenapa kau menangis?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu, aku hanya ingin menangis."
"Ayolah Sayang, jangan membuatku panik."
"Aku merasa sangat bahagia hari ini," ucapnya dengan menatap Randika begitu dalam, membuat mata pria itu hampir saja berkaca-kaca. "Kau tidak memintanya untuk sarapan bersama tadi?"
"Sepertinya dia harus menemui Aurela, ponselnya berdering tiada henti saat kita berbicara."
"Apa kau bertanya tentang hubungan mereka?"
Arumi menggeleng pelan. "Aku tidak ingin ada salah paham lagi."
Kalimat itu membuat Randika tersenyum, dia mengusap punggung wanitanya. "Semoga pria berwajah es itu serirus dengan Aurela."
"Aku berharap seperti itu," jawab Arumi membalas senyuman Randika.
Hal itu membuat Arumi mengangkat alis. Dia kembali menyimpan suapan waffle yang hendak dia isi ke mulutnya "Tentang kita?"
Randika Mengangguk.
"Aku pikir ada yang harus aku pastikan denganmu sebelum membuat harapanku dengan mu Tuan muda Randika," ucapnya dengan memasukan penggalan waffle ke dalam mulutnya.
Randika terkekeh dengan gaya yang di tampilan Arumi barusan. Dia menatap manik Arumi sebelum akhirnya mencubit pipi kekasihnya. "Kenapa wajahmu saat mengatakan itu sedikit membuatku merinding."
Arumi menatap malas. "Aku serius."
Tubuh Randika menegang seketika, dahinya berkerut memikirkan apa yang ada di dalam pikiran wanita di depannya. "Apa yang ingin kau pastikan."
__ADS_1
"Apa kau masih menyimpan surat perjanjian perjodohan itu?"
Ketegangan berubah menjadi senyuman, pria berambut hitam lebat itu tertawa mengetahui isi pikiran kekasihnya. "Apa kau berfikir aku menyimpannya untuk mengikatmu?"
Arumi mengangkat bahunya. "Bisa jadi seperti itu."
Randika semakin melebarkan senyumannya, dia memegang kedua tangan Arumi dengan mata berbinar. "Tatap aku." Pria itu menangkup wajah kekasihnya agar tetap fokus menatapnya. "Aku meminta maaf atas apa yang sudah aku lakukan untukmu di waktu lalu, aku tidak pernah membencimu atau tidak menyukaimu waktu itu, kau tahu alasannya bukan."
Arumi yang baru pertama kali mendengar pengakuan seperti ini mengangguk pelan, dia tidak ingin berkata-kata untuk mengancurkan suasana. Hal itu membuat Randika tersenyum senang. Pria yang memiliki tubuh tinggi semampai degan dada berkotak halus itu memeluk Arumi selama beberapa saat.
"Aku mencintaimu, sangat dan sangat mencintaimu jauh sebelum Kedua orang tuaku meminta ku untuk berjodoh denganmu. Sudah ku jelaskan sebelumnya bukan. Apa kau masih tidak percaya padaku?"
"Lalu kertasnya?"
Seketika mata Randika membulat. "Arumi aku tidak pernah menyimpannya, dari awal perjanjian itu hanya aku buat hanya ingin menakutimu saja."
"Dasar Pria Robot!"
Arumi meraih lengan Randika dan meninggalkan gigitan cukup keras kuat disitu.
"Aaaaaa!" Randika mendorong wajah Arumi agar menjauh dari lengannya.
"Kenapa kau menggigitku!" ucapnya meringis kesakitan.
"Itu karena kau sudah membodohi ku selama ini."
"Siapa yang sudah membodohi calon menantu kesayanganku?"
__ADS_1
"Mom! Daddy!" teriak keduanya bersamaan.