Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 121.


__ADS_3

"Kau ingin membuatnya sendiri Tuan?"


"Jika bisa, aku tidak akan membangunkanmu bodoh!"


"Baiklah, pertama-tama kita akan membuatkan telur." Sejenak dia menoleh ke arah tuannya. "Telur apa yang di inginkan Nona?"


"Telur apa? dia hanya mengatakan nasi goreng tidak dengan telurnya."


"Jadi intinya kau tidak tahu telur apa yang di sukai calon istrimu?" tanya Minora dengan nada mengejek.


Tidak tahu apa yang harus dia katakan, Randika menggunakan kekuasaannya dan menekan Minora agar diam. "Tutup mulutmu dan lanjutkan pekerjaanmu atau gajimu akan aku potong."


Minora memelototi Randika. "Dasar penjajah."


"Aku akan membantu menggoreng telurnya, tapi kau harus tetap memperhatikannya jangan sampai gosong," ucapnya yang di sanggupi oleh pelayan cerewet itu.


Randika memecahkan telur dengan hati-hati ke dalam wajan. Dia mengulanginya sebanyak 3 kali.


"Tuan!" Minora menepuk bahu majikannya agar dia berhenti memcahkan telur yang ke empat. "Kau ridak perlu memecahkan telur sebanyak itu, satu saja sudah cukup."


Randika terbatuk, mentap Minora dengan tersenyum tipis. Dia tidak menyangka pelayan kesayangan kekasihnya itu berani menyentuhnya. "Aku pikir lebih banyak lebih baik."


"Nona sedang diet, dia sangat menyukai baju yang kita lihat tadi, jika sebanyak itu yang dia makan, badannya akan melebar dan tentu saja baju yang dia inginkan tidak akan muat."

__ADS_1


"Untuk apa aku punya banyak uang, kita bisa memesan dengan model yang sama sesuai ukuran tubuhnya yang gendut."


"Tuan!"


Randika tersentak kaget. "Kau meneriaki ku?"


"Kau bodoh atau apa."


"What?"


Minora mengangkat telur yang sudah matang terlebih dahulu sebelum melanjutkan. "Diam dan dengarkan aku baik-baik. Wanita, siapa pun dia, di belahan dunia mana pun, tidak ada yang suka mendengar tentang kegendutan. Apalagi dari kekasihnya. Kau akan mengundang bencana Tuan, bencana."


"Sejenak aku pikir kau gila Minora."


"Kau tidak percaya, cobalah katakan itu di depan Nona Arumi."


"Tentu saja, sebentar."


Minora menyesali perbuatan baiknya, bukannya berterima kasih karena sudah di peringati, majikannya malah kembali membentaknya. Namun, apalah daya, dia hanya seorang pelayan rendahan, balik membentak akan membuat gajinya hangus seperti telur yang di buatkan Randika atau lebih parahnya lagi dia akan di tendang keluar Mansion.


"Minora, apa kau baik-baik saja?"


Pelayan itu tersentak saat mendengar suara Randika, dengan manik hitamnya yang sedang menatap tajam.

__ADS_1


"Oui, Monsieur."


"Raut wajahmu menunjukkan kau sedang mengumpatku."


Kalimat yang kembali membuat Minora merasakan khawatir, dia baru saja menumpahkan seluruh kebenciannya di dalam hati tadi.


"Apa pria penindas ini mendengarkan keluhan hatiku?" gumamnya di dalam hati.


"Ini akan matang sebentar lagi, Tuan."


"Syukurlah." Randika berdiri melihat ke dalam wajan. "Itu terlihat enak. Kau bisa mengangkatnya sekarang, aku akan membawanya kepada Arumi."


"Oui, Monsieur."


"Jangan lupa telurnya." Dia sedikit memalingkan wajah. "Cukup satu."


"Bien."


Setelah selesai, Randika mengucapkan terima kasih kepada Minora, mewanti-wanti kepada pelayan itu agar tidak mengatakan bahwa makanan ini di buatkan olehnya.


Kaki Randika melangkah panjang menuju kamar kekasihnya, Namun, baru saja mulut Randika terbuka untuk memanggil nama kekasihnya, manik hitamnya lebih dulu menangkap tatapan tajam Arumi kepadanya.


Dia menelan ludah kasar sebelum mendekati Arumi. "Sayang, nasi gorengnya sudah siap."

__ADS_1


"Aku bisa mati kelaparan karena menunggu nasi goreng buatan calon suamiku."


Randika tertawa kecil, memberikan kecupan singkat pada bibir kekasihnya dan menyerahkan nasi goreng yang dia bawah. "Makanlah."


__ADS_2