Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 126.


__ADS_3

"Hei, sedang apa kau di samping mobilku," ujar seorang pria menatap kaget saat seorang wanita yang berpenampilan seperti orang gila berdiri mengendap-endap di dekat mobilnya.


"Hei! Kau!"


Wanita yang bersembunyi itu mengangkat kepala, menatap ke arah pria yang berdiri di depannya.


"Kecilkan suaramu Brian, ini aku."


"What!" Pria bermata biru itu mengerutkan kening. "Kau mengenalku?"


"Dasar bodoh! Ini aku, Evanya," teriak Evanya dengan wajah kesal.


Dia melepaskan wik yang dia kenakan agar rambut pirangnya terlihat. Evanya mengikuti ide Damian untuk berpenampilan seperti orang gila agar tidak ada yang mengenalinya. Dan benar saja, Brian bahkan tidak mengenalnya sama sekali.


"Evanya!"


Mata Brian hampir saja terjatuh melihat penampilan sahabatnya. "Kau mirip dengan orang gila!"


Sedetik setelah mengatakan itu, Brian berfikir sejenak. "Tunggu ...." Mata pria itu berkeliaran kemana-mana. Dia dengan cepat menarik Evanya masuk ke dalam mobilnya. "Apa yang sedang kau lakukan di sini? Polisi sedang mencarimu."


"Aku tahu," jawabnya dengan santai. "Rilan dan anak buahnya juga sedang mencarik ku, makanya aku berpenampilan seperti ini."


"Apa yang ada di otak mu, kenapa kau kabur? Kau membohongi ku dan Rilan, berpura-pura terluka. Kau bahkan membayar perawat dan penjaga di sana."


"Diamlah! Jangan mengatakan kejadian itu lagi."


"Kau akan di hukum berat jika tertangkap Evanya, bisa-bisanya kau berfikir untuk kabur. Randika tidak akan melepaskan kau dan Damian."


"Dia tau tentang Damian? Itu artinya dia tahu pria itu yang membantuku kabur."


"Tentu saja, kau tahu siapa Randika. Dia bisa mencari ke sarang semut sekalipun untuk menemukan kalian."

__ADS_1


"Lalu kenapa dia tidak menemukanku, sudah seminggu aku kabur dan dia bahkan tidak terlihat sedang mencariku?"


"Oh God, Evanya. Jangan berharap terlalu lebih padanya. Randika sedang fokus untuk pernikahannya, jangan berandai-andai bahwa dia akan peduli setelah semua yang sudah kau lakukan pada keluarganya."


"S h i t." Evanya mengumpat keras, membuat Brian memutar bola matanya malas. "Apa kau terbuat dari besi, kau sunggu keras kepala dan tidak bermuka."


"Itu perumpamaan untuk batu Brian."


"No! itu untuk besi. Batu masih lebih cantik dari wajahmu."


"What?"


Karena emosi di katakan tidak berwajah. Evanya memukul keras pada kepala sahabatnya. Namun, bukannya marah Brian malah terkekeh, sudah lama mereka tidak bercanda seperti ini. Apalagi setelah Randika berpisah dengan Evanya, dan bersama Arumi, mereka sering menghabiskan waktu masing-masing.


"Kau tahu, sudah lama kita tidak seperti ini, kau, Rilan, Randika. Kalian semua sibuk dengan urusan masing-masing. Padahal persahabatan kita dulu begitu harmonis."


"Lupakan tentang dulu Brian, semua itu membosankan."


Brian berdecak. "Membosankan karena sekarang kau kehilangan orang yang kau cintai, benar bukan."


Brian menarik napas panjang, lalu membuangnya dengan kasar. "Apa kau tinggal di dekat sini?"


"Tidak."


"Lalu kenapa lau berkeliaran di sekitar sini. Apa kau sengaja mendatangiku."


Evanya hendak menjawab. Namun, ponselnya tiba-tiba kembali bergetar.


"Oh s h i t, dasar pengganggu," gumam Evanya di dalam hati. Dia merogoh saku celananya dan mengambil ponsel miliknya untuk mematikan panggilan dari Damian.


"Siapa?" tanya Brian.

__ADS_1


Evanya menggeleng dengan senyuman. "Ibuku, dia terus saja menghubungiku. Padahal, sudah ku katakan aku baik-baik saja di sini," ujar Evanya berbohong. Dia tidak ingin Brian curiga jika kedatangannya sengaja untuk mencari informasi.


"Pernikahan Randika, apa tanggalnya tidak di rubah?"


Dahi Brian berkerut. "Jangan katakan kau sedang merencanakan sesuatu Evanya. Dan kau berharap aku akan membantumu lagi? No!"


Tangan Evanya menjitak keras dahi Brian. "Aku tidak sejahat itu."


"Lalu untuk apa lau bertanya soal tanggalnya."


"Mungkin aku bisa menyisihkan waktu untuk menghadirinya."


Brian tertawa keras mendengarnya. "Aku mengenalmu lebih dari tiga tahun Evanya, menghadiri katamu. Itu mustahil, polisi ada di mana-mana dan Rilan, dia tidak akan melewatkan hal sekecil apapun."


"Aku hanya ingin mengucapkan perpisahan, karena aku akan segera kembali ke Jepang."


"Bersama Damian?"


"Hmm, dia akan menikahiku."


"Kau serius?"


"Jika tidak, untuk apa dia membantuku kabur."


"Undang aku jika kau menikah."


"Untuk apa?" tanya Evanya gusar, dia sedikit khawatir karena Damian terus saja melakukan panggilan telepon dan terus mengirimkan pesan dengan semua isi pesan yang sama, yaitu.


'Ingat tujuanmu mendekati Brian Evanya, *ja**ngan sampai kau menggagalkan rencana kita karena terpedaya si pemilik klub itu*."


"Aku sahabatmu, sudah sewajarnya seorang sahabat menghadiri pernikahan sahabatnya."

__ADS_1


"Kau tidak mengatakan itu saat aku bilang akan menghadiri pernikahan Randika."


"Itu karena kau adalah bencana Evanya, bencana."


__ADS_2