Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 61


__ADS_3

Evanya yang sedari pagi menunggu Brian sudah lelah. Wanita itu berulang kali mengumpat karena panggilannya selalu di tolak oleh Brian. Umpatannya terhenti berganti dengan senyum saat nama Brian muncul pada layar ponselnya.


'Bonjour tampan.' Evanya menjawab dengan desahan dan tingkah menggoda seakan Brian ada di depan matanya.


'Kau selalu saja mengganggu ketenanganku, ada apa?'


'Aku punya sebuah kabar untuk mu, dan beberapa pertanyaan yang harus kau jawab.'


'Aku sedang tidak ingin mendengar atau mengatakan apapun,' ucap Brian datar dan itu membuat Evanya kesal hingga memutar kedua bola matanya.


'Randika terluka.'


'What! apa terjadi sesuatu yang tidak aku tahu?'


'No, dia memukuli dinding bar mu hingga tangannya mengeluarkan banyak darah.'


'Dinding bar? Maksudmu bar milik ku!'


'Tentu saja Brian, memangnya sejak kapan dia berkunjung ke bar milik orang lain. Kau sangat bodoh.'


'Berhenti mengoceh dan jelaskan dengan benar.'


'Aku sudah menjelaskannya tadi. dia memukuli dinding dan itu mengakibatkan luka pada tangannya.'


'Apa kau memancingnya dengan sesuatu? Lukanya, apa lukanya besar? lalu di mana dia.'


'Dia kembali ke Mansion beberapa menit yang lalu.'


'Tanpa mengobati lukanya kau membiarkan dia menyetir? Apa kau gila, bagaimana kalau dia mengalami kecelakaan.'


'Dia tidak ingin aku menyentuhnya.'


'Whay?'


'Entahlah, dia terlihat aneh. Sepertinya bukan aku penyebab dia mengeluarkan pukulan tadi.'

__ADS_1


'Apa maksudmu.'


"Datanglah ke bar mini, akan aku jelaskan di sana bye.'


'What?'


Tutt ... tutt ... tutt ....


"Evanya! Hallo Evanya! Heii! .... Shittt."


"Dasar wanita .... argghh."


Brian membuka kotak pesan dengan cepat. memilih satu nomor dan mengetik beberap kata lalu mengirimnya dengan cepat. Tidak lama setelah pesan itu sampai kepada pemiliknya deringan pnsel Brian kembali berdering.


'Hallo.'


'Ada apa?'


'Aku tidak tahu persis kejadiannya tapi Evanya mengatakan Randika terluka dan dia terluka karena memukuli tembok di bar mini ku.'


'Rilan, jika kau bertanya terus kapan kau akan sampai ke Mansion. Cepatlah, jangan sampai dia melakukan sesuatu pada Arumi atas apa yang terjadi tadi.'


'Kau benar'


Rilan menutup telepon dengan cepat Menarik jaket lukit miliknya dan bergegas menuju mobil.


"Claudia!"


Pria bermanik cokelat itu berteriak saat melihat keadaan Mansion yang begitu tenang.


"Tuan Rilan?"


"Clau, apa Tuan muda sudah kembali?"


"Bien Tuan."

__ADS_1


"Lalu di mana Arumi?"


"Dia bersama Tuan muda."


"Apa?"


"Apa terjadi sesuatu Tuan?"


"Ah tidak, tidak apa-apa."


Rilan tampak berfikir, entah harus menggunakan kalimat apa agar Claudia bisa menjawab pertanyaan-nya tanpa membuat pelayan itu curiga.


"Tuan muda kembali dengan terluka, ada banyak darah yang keluar dari tangan kanannya. Tapi syukurlah, Nona Arumi dengan cepat mengobatinya"


"Mengobati?"


"Yah Tuan, Nona Arumi dengan baik menutupi setiap lukanya."


Apa itu artinya mereka baik-baik saja. batin Rilan.


"Apa lukanya parah?'


"Tidak Tuan, hanya luka memar. Tapi ...."


"Tapi apa Claudia."


"Sepertinya Tuan muda dan Nona sedang bertengkar."


"Apa maksudmu?"


"Tadi pagi, mereka terlihat kaku dan sepertinya saling melempar wajah datar dan Nona Arumi sama sekali tidak bersikap baik."


Rilan hampir saja tersedak itu, pria bermanik cokelat itu lalu tersenyum "Kau tahu bukan, tidak ada pasangan yang baik-baik saja."


"Yah, mereka adalah pasangan serasi, namun akan seperti singa jika bertengkar."

__ADS_1


Suara tawa Rilan semakin keras. Claudia menggunakan perumpaan yang tepat untuk kedua orang itu.


__ADS_2