
"Maaf nona bisakah anda bergeser?" tanya seorang pria dengan setelan jas rapih namun wajahnya terlihat frustasi.
"Randika?"
Wanita berambut pirang itu bergeser pindah ke kursi yang lain dan membiarkan pria yang di rindukannya itu duduk di sampingnya.
"Bukankah aku sudah melarangmu untuk masuk ke bar ini?"
"Ada apa denganmu Sayang, kau terlihat tidak baik."
"Berhenti memanggilku seperti itu."
"Bukankah kau suka?" Wanita itu lalu mengusap pelan pada jemari pria yang memiliki manik hitam itu, mengecup pipi Randika tanpa menyentuh tubuhnya.
Randika terlihat sedikit tidak nyaman. Namun, dia membiarkan Evanya melakukannya karena sedang tidak fokus. Rasa khawatirannya untuk Arumi membuat pikirannya melayang entah kemana.
Dan Evanya, dia tidak menyianyiakan kesempatan emas ini. Wanita dengan warna rambut pirang itu terus melancarkan aksinya hingga dia menyadari tatapan Randika yang terlihat berbeda. Randika seakan kehilangan jiwanya, mata hitamnya menjelaskan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
"Pantas saja kau membiarkan ku melakukannya." gumam Evanya.
Wanita cantik itu lalu memperbaiki bajunya yang terlihat berantakan karena dari tadi terus menempelkan tubuhnya pada Randika.
"Apa kau akan terus menjadi patung Sayang?"
Randika tersadar dari pikirannya. Dia menoleh dengan tatapan datar lalu kembali menatap dengan dahi yang berkerut saat melihat gelas minumannya yang masih penuh.
__ADS_1
Evanya tertawa. "Jangan bilang kau lupa meminumnya, atau jangan-jangan kau juga lupa telah mencium ku tadi."
"Kau pikir aku bodoh."
"Kau menikmatinya."
Seketika kepalan Randika mengeras. Pria itu mendekat, membuat senyuman Evanya pudar tatkala pria itu memperlihatkan tatapan datar. "Jangan memancingku."
"Kau tahu aku suka memancing."
"Menjauh dari hadapanku."
"Kau ingin Aku menghilang dari hadapanmu? No Randika, no. Aku akan terus menghantuimu sampai kau mau kembali keranjang ku."
"Menjijikan?" ucap Randika datar. Saat pria itu akan berbalik, dengan cepat tangan Evanya menahannya.
"Singkirkan tanganmu!"
Evanya terkekeh, dia menarik Randika hingga dada mereka beradu. "Hanya aku yang bisa memilikimu, dan kau tidak bisa menolaknya Randika. Kau harus memenuhi janjimu padaku."
"Berhenti mengancamku," teriak Randika dengan lantang.
Evanya kembali terkekeh, merasa kesal, dia kembali menarik dada Randika agar lebih mendekat. "Kau tidak bisa menolak ku."
"Lepaskan aku!"
__ADS_1
Randika melepaskan tangan Evanya dan mendorongnya dengan kuat hingga wanita itu terjatuh.
"Kau pikir bisa memikatku dengan rahasia yang kau tahu? kau salah, aku aku tidak kembali untuk mengukir hari yang indah bersamamu Nona Mastaw. Cukup sekali aku merasakan sakit, dan tidak ada kesempatan kedua untuk wanita murahan sepertimu."
"Shit"
Evanya mengumpat tanpa suara. Dia tidak mengira Randika akan memanggilnya dengan sebutan menjijikan itu.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maafmu Randika, jangan mengacuhkan ku seperti ini."
"Kau tahu alasan ku menerima mu Evanya, dan hanya sebatas itu tidak akan lebih."
"Apa salah ku begitu besar?"
"Kau meninggalkan ku untuk pria lain Evanya!" teriaknya dengan lantang, tangannya bahkan gemetar. Pria bermanik hitam itu melepaskan emosinya dengan memukuli dinding bar sampai kepalan tangannya mengeluarkan darah.
Alasan Randika meluapkam emosi bukan karena Evanya yang dulu meninggalkannya. Tapi, untuk seseorang yang sedang entah di mana.
"Randika tangan mu!
Evanya panik saat melihat tangan Randika berdarah dengan tembok bar yang sedikit retak.
Perempuan itu menelan ludah kasar. Dia merasakan aura jahat Randika yang tidak pernah ada saat bersamanya.
Maaf kehujanan saat keluar rumah gays, jadi baru bisa up karena baru nyampe π₯Ίππ
__ADS_1
"