Aku Candumu

Aku Candumu
Ch 123.


__ADS_3

Seorang pria dengan hoddi hitam dan topi berjalan menelusuri gang-gang kecil yang sempit. Sambil merokok pria itu melangkah dengan waspada tenggelam di antara gedung-gedung pencakar langit menuju sebuah perumahan kumuh yang gelap. Tidak ada cukup matahari yang masuk ke sana, hanya tersinari lampu-lampu juga di ramaikan dengan lalu lalangnya orang-orang dengan tingkat sosial yang cukup.


"Evanya."


"Hallo Damian."


"Apa kau baik-baik saja?" tanya pria bertopi hitam yang duduk sambil menghembuskan asap dari sisa rokok di tangannya.


"No! aku sangat menderita di sini, di mana pun ada banyak nyamuk."


"Kau harus bisa terbiasa Evanya."


"Bisakah kau memindahkanku ke tempat yang lebih baik, atau aku kembali saja ke apartemenku."


"Tidak Evanya, jangan melakukan itu, Randika akan menangkap kita berdua jika kau melakukan hal bodoh lagi."


"Lantas aku harus bagaimana, tempat kumuh ini membuat ku hampir gila."


Damian membuang puntung rokoknya dan duduk di samping Evanya. Pemandangan di sekitar mereka adalah dinding-dinding yang retak dengan jendela yang tidak memiliki kaca. "Jika tujuanmu adalah pembalasan dendam, maka kau harus bertahan di tempat ini sampai kita berhasil menjatuhkan Randika. Karena jika Randika menemukan kita, maka semuanya akan hancur. Kau mengerti!"

__ADS_1


"****," umpat Evanya menyandar kasar punggungnya di atas sofa yang sama sekali tidak empuk. "Aku ingin kau mengganti semua perabotan di rumah ini. Itu akan sedikit lebih baik."


"Aku akan menyuruh anak buahku untuk menggantinya."


"Apa ada berita menarik yang ingin kau sampaikan padaku."


Damian menggeleng. "Aku tidak bisa bergerak, Rilan dan anak buahnya ada di mana-mana."


"Rilan?" Wanita itu sedikit kaget. "Bagaimana dengan Randika, apa dia tidak sibuk mencariku?"


"No, dia akan menikah."


Damian kembali menggeleng. "Aku hanya bisa mengikutinya dari jauh," ucapnya menyerahkan beberapa lembar foto Arumi yang di ambil anak buahnya dari jarak jauh. "Dia terlihat sangat cantik. Pantas aja Randika tidak bisa melepaskannya."


"Oke, dia memang cantik. Tetapi kau tidak perlu memujinya seperti itu."


"Aku mengatakan apa yang aku lihat Evanya." Damian mengambil selembar foto di atas meja, menatap lekat wajah wanita yang ada di dalam sana. Bagaimana dia tersenyum ke arah lain, dia tetap terlihat cantik bahkan hanya separuh wajahnya yang terlihat.


"Kenapa Randika begitu menjaganya. Bukankah mereka baru saja bertemu." Damian mengangkat wajahnya menatap Evanya. "Dia sudah melupakanmu Evanya."

__ADS_1


"No!" ucap Evanya dengan tatapan terlempar keluar, dari kamar dia menatap daun kering yang yang berguguran di luar jendela.


"Dia tidak mungkin melupakanku bukan? Banyak hal yang kita lewati bersama, mana mungkin secepat itu kau berpaling dari ku Randika." gumamnya di dalam hati.


Damian mematik untuk menghidupkan rokoknya.


"Dan ini akan menyenangkan jika kau berhasil memisahkan mereka."


"Akan aku buat wanita sialan itu merengek di bawah kakiku meminta kekasihnya kembali," ucap Evanya dengan kesal. Dia berdiri mengambil tasnya dan berjalan melewati Damian.


"Mau kemana kau?" tanya Damian menahan tangan Evanya membuat langkahnya terhenti.


Evanya mencoba melepaskan. "Aku hanya ingin sedikit menghirup udara segar."


"Kau tahu apa akibatnya jika membohongiku Evanya."


Evanya memutar bola matanya malas. "Aku tahu, tidak perlu mengingatkanku dengan tatapan seperti itu."


"Aku hanya tidak ingin semua rencana kita gagal karena keegoisanmu itu. Kau boronan Evanya, jika kau tertangkap maka aku juga akan ikut terseret bersamamu."

__ADS_1


"Shut up," teriak Evanya menepis tangan Damian dengan keras. Dia menghentakan kaki sebelum kembali ke tempat duduknya. Dia menatap Damian dengan gigi yang beradu. Damian mengurungnya seperti tahanan.


__ADS_2